Pilihan Lurah Gunungkidul, 11 Petahana Tersungkur

David Kurniawan
David Kurniawan Minggu, 27 September 2026 09:57 WIB
Pilihan Lurah Gunungkidul, 11 Petahana Tersungkur

Proses perhitungan suara di Padukuhan Keringan Kidul, Bulurejo, Semin, Sabtu (26/9). Harian Jogja/David Kurniawan

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Sebanyak 11 calon lurah berstatus petahana gagal mempertahankan jabatannya dalam Pemilihan Lurah (Pilur) serentak di Gunungkidul yang digelar Sabtu (26/9/2026).

Pemkab Gunungkidul mencatat terdapat 91 calon yang bersaing memperebutkan posisi lurah di 31 kalurahan. Dari jumlah tersebut, 23 calon merupakan lurah petahana yang kembali mengikuti kontestasi.

Kepala Bidang Bina Administrasi dan Aparatur Pemerintahan Kalurahan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPMKP2KB) Gunungkidul, Kriswantoro mengatakan pelaksanaan pencoblosan lurah serentak berjalan lancar.

Hasil pemungutan suara juga telah ditindaklanjuti dengan pleno penetapan calon terpilih oleh masing-masing panitia Pilur di kalurahan.

11 Petahana Gagal Pertahankan Jabatan

Berdasarkan hasil penetapan calon terpilih, sebanyak 11 lurah petahana diketahui gagal mempertahankan jabatannya untuk masa jabatan delapan tahun ke depan.

Mereka yakni Lurah Ngoro-oro, Patuk, Sukasto; Lurah Mulusan, Paliyan, Supodo; Lurah Kelor, Karangmojo, Suratman; Lurah Kepek, Saptosari, Suhut; Lurah Jetis, Saptosari, Agus Susanto; dan Lurah Kanigoro, Saptosari, Suroso.

Selain itu, Lurah Girisuko, Panggang, Jamin Paryanto; Lurah Watugajah, Gedangsari, Hariyanto; Lurah Bandung, Playen, Mawal Edi Tri Kusmantya; Lurah Kalitekuk, Semin, Waluya; serta Lurah Hargosari, Tanjungsari, Jumeno juga gagal kembali terpilih.

Sementara itu, sejumlah petahana lainnya berhasil mempertahankan posisi. Mereka berasal dari Kalurahan Kampung, Ngawen; Sidorejo di Kapanewon Ponjong; Baleharjo di Kapanewon Wonosari; Kalurahan Ngawu, Dengok, dan Logandeng di Kapanewon Playen.

Petahana yang kembali terpilih juga terdapat di Kalurahan Terbah, Patuk; Katongan di Kapanewon Nglipar; Monggol di Kapanewon Saptosari; Mertelu di Kapanewon Gedangsari; Kalurahan Girijati, Purwosari; dan Kalurahan Candirejo, Semanu.

Kriswantoro mengatakan terdapat lima lurah yang tidak kembali maju dalam Pilur serentak tersebut.

“Lurah yang tidak maju lagi ada lima, yakni Bulurejo, Semin; Ngunut, Playen; Botodayaan, Rongkop; Siraman, Wonosari dan Watusigar, Ngawen,” kata Kriswantoro, Minggu (27/9/2026).

Ada Lurah Petahana yang Pindah Kalurahan

Kriswantoro menambahkan terdapat lurah petahana yang ikut mencalonkan diri, tetapi tidak dihitung sebagai petahana karena maju di kalurahan lain.

Salah satunya Lurah Jurangjero, Ngawen, Suparno. Ia kembali maju dalam Pilur, tetapi mencalonkan diri sebagai lurah di Kalurahan Kampung sehingga tidak masuk dalam daftar calon petahana.

“Untuk Lurah Ngloro, Saptosari dan Sampang, Gedangsari kosong karena hanya dijabat Pejabat Lurah sehingga tidak ada calon petahana,” katanya.

Persaingan Ketat di Kalurahan Ngawu

Salah seorang warga Kalurahan Ngawu, Playen, Markus Yuwono mengatakan pelaksanaan Pilur di wilayahnya berlangsung lancar.

Menurut dia, terdapat tiga calon yang bersaing dalam Pilur Kalurahan Ngawu. Calon petahana Wibowo Jadmiko bersaing dengan Suharjono dan Sugiyanto.

Markus mengatakan perolehan suara berlangsung ketat. Wibowo Jadmiko yang akhirnya terpilih hanya unggul delapan suara dari calon dengan perolehan suara terbanyak kedua.

“Pak Bowo [Wibowo Jadmiko] dapat 972 suara, sedangkan lawannya Sugiyanto dapat 964 suara dan Suharjono meraih 409 suara,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online