Proyek Jembatan Kewek Dimulai, Target Rampung Akhir 2026
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Ilustrasi drainase/Ist-WSBT
Harianjogja.com, JOGJA—Guna meminimalkan genangan saat musim hujan, setiap tahun Pemkot Jogja memelihara saluran air hujan (SAH). Tetapi sayangnya pemeliharaan ini terkendala masih banyaknya masyarakat yang membuang limbah ke SAH.
Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Permukiman (DPUPKP) Kota Jogja, Aki Lukman, menjelaskan masuknya limbah ke SAH selain menyebabkan air meluap juga menimbulkan pencemaran dan bau di lingkungan sekitarnya.
Dia mencontohkan yang terjadi di Jalan Ireda, Mergangsan. "Baru tahun lalu kami bangun SPAH [sumur peresapan air hujan], awalnya mereka mau untuk tidak membuang limbah, tapi setelah ditinggal, eh dimasukin limbah. Kami mohon kesadarannya," ujarnya, Kamis (5/3/2020).
Dia mengungkapkan jenis limbah yang dimasukkan ke dalam SAH bisa bermacam-macam, mulai dari limbah mandi cuci dan kakus (MCK), limbah cucian, maupun air buangan dari pedagang kaki lima (PKL). Pembuangan limbah di SAH juga terjadi di titik lainnya, salah satunya di Jalan Mondorakan, Kotagede.
Saat ini, kata dia, dinasnya bersiap mengerjakan pemeliharaan SAH di Jalan Kemasan, Kecamatan Kotagede. Di SAH itu nantinya akan menggunakan saluran berdimensi 1,5 x1,5 meter yang dipasang di tengah jalan. Sebagai pendukung, di pinggir jalan tersebut juga akan dibangun SPAH.
Di lokasi tersebut, imbuh Aki, pada SAH yang telah ada sebelumnya, juga terjadi kasus pembuangan limbah dari warga melalui pipa. Maka, dinasnya kini terus berupaya menyosialiasikan kepada warga sekitar untuk menutup saluran limbah yang masuk ke SAH. "Sudah sepakat dengan warga akan menutup saluran limbah ke SAH," katanya.
Selain itu, dia juga menyosialisasikan kepada PKL soal larangan membuang limbah ke SAH melalui lubang inlet di sekitar Jalan Kemasan. "Sosialisasi melalui kecamatan, kami butuh dukungan semua pihak agar tidak terjadi pencemaran," ucapnya.
Sebelumnya, Kepala DPUPKP Kota Jogja, Hari Setya Wacana, menuturkan tercampurnya limbah ke dalam resapan selain berimbas pencemaran juga berpotensi menimbulkan genangan saat hujan, karena kapasitasnya terlampaui.
"Penyebab banjir di Kota Jogja terdapat beberapa faktor, di antaranya sedimentasi di dalam saluran, tertutupnya inlet saluran oleh kotoran seperti sampah atau pasir, tercampurnya saluran drainase dengan saluran limbah dan tidak terakomodasinya limpasan air oleh dimensi saluran," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Tanggal 9 Oktober 2026 memperingati Hari Pos Sedunia, Hari Hangul Korea Selatan, dan Hari Kemerdekaan Uganda. Simak sejarahnya.
Prakiraan cuaca DIY Jumat 9 Oktober 2026 didominasi berawan. Suhu Jogja mencapai 33°C, sementara gelombang laut selatan perlu diwaspadai.
DPRD Kulonprogo mendorong Perumda Aneka Usaha terus berinovasi agar pengelolaan bisnis semakin berkembang dan kontribusi PAD meningkat.
Atik Sunaryati resmi menjadi Lurah Candibinangun dan berkomitmen mengalokasikan gaji serta tanah pelungguh untuk kepentingan warga.
KUSTOMFEST 2026 High Octane digelar di Jogja pada 10-11 Oktober dengan program otomotif, seni, musik, dan builder internasional.