DIY Puncaki Indeks Demokrasi 2025, Skor Tembus 89,79
IDI DIY 2025 tertinggi nasional dengan skor 89,79. Demokrasi Yogyakarta dinilai inklusif, stabil, dan berkualitas.
Ilustrasi drainase/Ist-WSBT
Harianjogja.com, JOGJA—Guna meminimalkan genangan saat musim hujan, setiap tahun Pemkot Jogja memelihara saluran air hujan (SAH). Tetapi sayangnya pemeliharaan ini terkendala masih banyaknya masyarakat yang membuang limbah ke SAH.
Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Permukiman (DPUPKP) Kota Jogja, Aki Lukman, menjelaskan masuknya limbah ke SAH selain menyebabkan air meluap juga menimbulkan pencemaran dan bau di lingkungan sekitarnya.
Dia mencontohkan yang terjadi di Jalan Ireda, Mergangsan. "Baru tahun lalu kami bangun SPAH [sumur peresapan air hujan], awalnya mereka mau untuk tidak membuang limbah, tapi setelah ditinggal, eh dimasukin limbah. Kami mohon kesadarannya," ujarnya, Kamis (5/3/2020).
Dia mengungkapkan jenis limbah yang dimasukkan ke dalam SAH bisa bermacam-macam, mulai dari limbah mandi cuci dan kakus (MCK), limbah cucian, maupun air buangan dari pedagang kaki lima (PKL). Pembuangan limbah di SAH juga terjadi di titik lainnya, salah satunya di Jalan Mondorakan, Kotagede.
Saat ini, kata dia, dinasnya bersiap mengerjakan pemeliharaan SAH di Jalan Kemasan, Kecamatan Kotagede. Di SAH itu nantinya akan menggunakan saluran berdimensi 1,5 x1,5 meter yang dipasang di tengah jalan. Sebagai pendukung, di pinggir jalan tersebut juga akan dibangun SPAH.
Di lokasi tersebut, imbuh Aki, pada SAH yang telah ada sebelumnya, juga terjadi kasus pembuangan limbah dari warga melalui pipa. Maka, dinasnya kini terus berupaya menyosialiasikan kepada warga sekitar untuk menutup saluran limbah yang masuk ke SAH. "Sudah sepakat dengan warga akan menutup saluran limbah ke SAH," katanya.
Selain itu, dia juga menyosialisasikan kepada PKL soal larangan membuang limbah ke SAH melalui lubang inlet di sekitar Jalan Kemasan. "Sosialisasi melalui kecamatan, kami butuh dukungan semua pihak agar tidak terjadi pencemaran," ucapnya.
Sebelumnya, Kepala DPUPKP Kota Jogja, Hari Setya Wacana, menuturkan tercampurnya limbah ke dalam resapan selain berimbas pencemaran juga berpotensi menimbulkan genangan saat hujan, karena kapasitasnya terlampaui.
"Penyebab banjir di Kota Jogja terdapat beberapa faktor, di antaranya sedimentasi di dalam saluran, tertutupnya inlet saluran oleh kotoran seperti sampah atau pasir, tercampurnya saluran drainase dengan saluran limbah dan tidak terakomodasinya limpasan air oleh dimensi saluran," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
IDI DIY 2025 tertinggi nasional dengan skor 89,79. Demokrasi Yogyakarta dinilai inklusif, stabil, dan berkualitas.
Polres Bantul menyita 1.053 pil sapi dari seorang pemuda di Pandes II, Pleret. Kasus ini terungkap berkat laporan masyarakat.
DIY mengalami deflasi 0,31% pada Juli 2026. BPS menyebut turunnya harga cabai, bawang, dan tomat menjadi penyebab utama.
BMKG memprakirakan cuaca Jogja cerah pada Selasa, 4 Agustus 2026. Simak prakiraan cuaca DIY dan kota-kota besar di Indonesia.
Rizky Ridho mengakui kesalahan fatal saat Indonesia kalah 0-3 dari Vietnam di Piala AFF 2026 dan bertekad bangkit menghadapi Singapura.
Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif cenderung melemah pada Selasa, 4 Agustus 2026. Simak faktor yang memengaruhinya.