Puncak Kemarau Agustus, Warga Gunungkidul Diminta Hemat Air
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Ikan lele/Ikanku17.blogspot
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul mendorong budi daya ikan hias. Imbauan dilakukan karena dari sisi ekonomi memiliki prospek bisnis yang lebih baik ketimbang budi daya ikan konsumsi.
Kepala DKP Gunungkidul, Krisna Berlian, mengatakan jajarannya berkomitmen meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui budi daya ikan. Meski demikian, harus ada perubahan dalam pola budi daya yang selama ini berfokus pada ikan konsumsi, karena ada budi daya lain yang memiliki prospek bisnis lebih baik.
“Kami tidak mengesampingkan budi daya ikan konsumsi, tetapi untuk meningkatkan perekonomian, warga bisa mencoba budi daya ikan hias,” katanya kepada wartawan, Sabtu (29/3/2020).
Menurut dia, budi daya ikan hias memiliki beberapa keunggulan. Dari sisi lokasi, budi daya tidak membutuhkan lahan yang luas seperti budi daya lele, nila atau ikan konsumsi lainnya. Dari nilai jual, ikan hias harganya lebih mahal. Sebagai contoh untuk ikan guppy harganya bisa mencapai Rp50.000 per ekor. “Bandingkan dengan lele yang harganya berkisar Rp20.000 per kilogram. Keuntungan lainnya lebih irit pakan sehingga modal yang dikeluarkan bisa ditekan,” katanya.
Disinggung mengenai lokasi budi daya, Krisna mengaku sudah ada beberapa lokasi seperti di Karangmojo dan Gedangsari. Meski demikian, saat ini budi daya masih bersifat perseorangan dan belum membuat kelompok untuk memperkuat usaha. “Masih usaha mandiri. Kami mulai mengumpulkan pembudi daya agar membentuk komunitas sehingga usaha bisa dikembangkan lebih baik lagi,” katanya.
Menurut dia, ada beberapa ikan hias yang bisa dikembangkan seperti koi, guppy, cupang hingga ikan koki. “Kami terus mendorong karena usaha yang ada saat ini sudah mampu menembus pasar ekspor. Olek karena itu, kami imbau agar masyarakat bisa membudidayakan ikan hias karena memiliki prospek bisnis yang bagus,” katanya.
Kepala Desa Kampung, Kecamatan Ngawen, Suparna, mengakui budi daya ikan hias memiliki prospek bisnis yang baik. Dia sudah pernah melihat dan belajar usaha budi daya ikan hias di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo. “Kami akan mencoba mengembangkan dan mudah-mudahan bisa berhasil,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Baznas Kulonprogo telah menyalurkan 40 tangki air bersih ke 11 titik kekeringan. Sebanyak 200 tangki disiapkan selama musim kemarau.
Bareskrim mengungkap MV King Sun tiga kali menyelundupkan ketamin. Pengiriman ke Indonesia sebanyak 1.298 kg berhasil digagalkan.
KPK belum menahan Yuddy Renaldi dalam kasus dugaan korupsi iklan Bank BJB karena mempertimbangkan kondisi kesehatannya.
Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 14 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap tiap stasiun dan tarif Rp8.000.
Karhutla Gunung Bromo di kawasan TNBTS berhasil dipadamkan. Luas area terbakar mencapai 1.120 hektare di empat kabupaten.