Proyek Jembatan Kewek Dimulai, Target Rampung Akhir 2026
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Sedang berlangsung Simposium Kathulistiwa Alam Terkembang Jadi Guru hari pertama, Jumat (30/10/2020) di TBY. /Harian Jogja-Lugas Subarkah.
Harianjogja.com, JOGJA--Indonesia memiliki ribuan budaya yang di dalamnya terdapat begitu banyak ilmu pengetahuan penting, yang sayangnya kian tergerus seiring semakin mendominasinya sistem pengetahuan barat dalam lanskap Pendidikan Indonesia.
Untuk mengangkat kembali wacana pengetahuan lokal khas Indonesia ini, Biennale Jogja menggelar Simposium Katulistiwa dengan tema Alam Terkembang Jadi Guru. Agenda rutin dua tahunan ini berlangsung selama dua hari, Jumat dan Sabtu (30-31/10) secara daring dan luring, di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dan kanal youtube Biennale Jogja.
BACA JUGA : BIENNALE JOGJA VX: Kegelisahan Asia Tenggara
Direktur Yayasan Biennale Jogja, Alia Swastika, menjelaskan tema tersebut merupakan refleksi pemikiran tentang bagaimana praktik seni kontemporer bertaut dengan pemahaman yang berbasis pada pengetahuan lokal, khususnya dalam konteks lingkungan dan ekologi.
“Kami ingin menggali pengetahuan lokal sehingga ia memiliki posisi yang sejajar dengan sistem pengetahuan barat yang selama ini mendominasi sistem Pendidikan modern. Secara khusus, seniman kontemporer telah lakukan pembacaan kembali pengetahuan dan budaya lokal ini dengan penelitian dan kolaborasi dengan warga setempat,” ujarnya, Jumat (30/10/2020).
Hasil dari pembacaan tersebut kemudian ditransformasikan menjadi bentuk karya kontemporer. Mendiskusikan berbagai praktik dan karya seni dari berbagai medium kata dia, menjadi salah satu cara untuk menggali pengetahuan lokal tersebut.
Simposium Katulistiwa menghadirkan 30 pembicara yang dibagi dalam 10 kelas. Para pembicara berasal dari berbagai disiplin ilmu dan konteks kebudayaan. Dari Banda Aceh hingga Papua, dari isu festival sebagai bentuk aktivisme hingga praktik penciptaan seni untuk isu terpinggirkan. Peristiwa ini menjadi titik pertemuan penting bagi seniman dan pengkaji kebudayaan.
BACA JUGA : Diikuti 12 Negara, Biennale Jogja XV Akan Tersebar
“Sebut saja Eko Supriyanto, koreografer terkemuka Indonesia yang kerap melakukan kerja bersama komunitas di luar Jawa, atau Septiana Layan, musisi kontemporer yang banyak menggali tradisi bunyi Papua, atau Daniel Lie, seniman Brazil keturunan Indonesia yang menggali akar identitasnya melalui program Seniman Mukiman,” ungkapnya.
Salah satu pembicara dalam Simposium Katulistiwa, Erni Aladjai, merupakan penulis dari banggai Laut, Sulawesi Tengah. Dalam symposium ini, ia memaparkan tentang belajar tanaman obat lintas generasi dalam perawatan tubuh perempuan pasca persalinan suku Banggai, yang disebut Bakalesang Lapa Monsung.
“Potensi desa seperti tanaman obat itu banyak sekali ditemukan di halaman belakang rumah orang, di pekarangan-pekarangan, tapi tumbuhan obat ini tidak lagi diminati oleh generasi sekarang. Terakhir itu di akhir 90-an,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
iOS 27 beta 5 mengungkap enam iPhone baru yang belum diumumkan Apple, termasuk iPhone Ultra yang disebut sebagai ponsel lipat pertama.
Anggota DPRD DIY, Rahayu Widi Nuryani, mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperkuat branding agar produk tidak hanya viral
Harga emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian kompak turun pada Kamis 13 Agustus 2026. Simak daftar harga jual dan buyback terbaru dari 0,5 gram hingga 1.00
Polresta Jogja menegaskan bahwa seluruh layanan SIM Keliling hanya melayani perpanjangan SIM A dan SIM C yang masih berlaku.
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY menggelar bedah buku bertajuk Minim Sampah, Berkarya di Kebun, Bahagia di Dapur