Perketat Pengawasan Hewan Kurban, Gunungkidul Kerahkan 120 Petugas
Gunungkidul perketat pengawasan hewan kurban 2026 dengan 120 petugas dan pemeriksaan SKKH di pasar hewan.
Ilustrasi bencana /Ist-dok Tagana Girimulyo
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– BPBD Gunungkidul menargetkan penambahan desa tangguh bencana (Destana) sebanyak 13 kalurahan di 2021. Program ini jadi bagian dari mitigasi untuk mengurangi dampak dari risiko kebencanaan.
Kepala BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, jaringan destana di Gunungkidul sudah terbentuk di 64 kalurahan yang tersebar di 18 kapanewon. Jumlah itu akan terus ditambah karena masih ada delapan kalurahan yang akan masuk dalam jaringan destana.
“Tahun ini ada penambahan 13 destana. Hingga sekarang sudah lima kalurahan dibentuk sehingga total sudah ada 69 destana, sedangkan delapan lainnya ditargetkan terbentuk sebelum akhir tahun,” kata Edy kepada wartawan, Rabu (7/4/2021).
Menurut dia, jaringan destana akan terus diperluas sebagai bagian mitigasi bencana sehingga pada saat terjadi bencana, dampaknya bisa ditekan sekecil mungkin. “Untuk pembentukan destana, kami tidak sendirian karena juga bekerjasama dengan BPBD DIY,” katanya.
Baca juga: Meski Mengandung Babi, Wapres Minta Vaksinasi MUI di Daerah Juga Pakai AstraZeneca
Disinggung mengenai jenis destana disesuaikan dengan karakteristik dan potensi kebencanaan di masing-masing wilayah. Kendati demikia, Edy mengungkapkan mayoritas destana di Gunungkidul untuk mengantisipasi bencana tanah longsor. Pasalnya, dari 69 destana yang terbentuk, 42 kalurahan di antaranya berada di zona rawan longsor. Sedangkan sisanya sebanyak 27 destana untuk mitigasi bencana lainnya seperti angin kencang, tsunami hingga gempa bumi.
“Untuk destana kerawanan tanah longsor masih akan bertambah karena ada dua kalurahan lagi yang dibentuk di tahun ini,” katanya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Kepala Pelaksana BPBD DIY, Biworo Yuswantana. Menurut dia pembentukan destana menjadi bagian dari mitigasi untuk mengurangi risiko bencana yang terjadi.
Ia menjelaskan, berdasarkan aturan dalam Perda No.5/2019 DIY tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW), di wilayah DIY terdapat delapan kawasan rawan bencana. Total ada 301 desa yang masuk dalam wilayah rawan bencana mulai dari gempa bumi, tanah longsor, banjir, gunung berapi, tsunami hingga angin kencang.
Baca juga: TMII Akan Beroperasi Normal Selama Transisi Manajemen
“Dari 301 kalurahan rawan berncana, sudah terbentuk destana di 266 kalurahan di seluruh DIY. Tahun ini, akan tambah lagi sebanyak 25 destana,” katanya.
Ia berharap dengan pembentukan destana, forum pengurangan risiko bencana di setiap kalurahan bisa melakukan penanganan secara tepat dan efektif pada saat terjadi bencana. “Tujuannya untuk mengurangi dampak dari kebencanaan karena musibah tidak ada yang tahu kapan terjadi, sehingga yang dilakukan dengan cara mengantisipasinya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gunungkidul perketat pengawasan hewan kurban 2026 dengan 120 petugas dan pemeriksaan SKKH di pasar hewan.
Duta Hino Yogyakarta (PT Duta Cemerlang Motors) melakukan peresmian outlet atau cabang 3S
Cuaca panas bisa memengaruhi baterai mobil listrik. Simak 6 cara menjaga baterai EV tetap awet dan efisien saat suhu ekstrem.
Pemkab Kulon Progo berkomitmen selalu proaktif dalam penyelesaian terkait kepentingan masyarakat tersebut dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-kehatian
Alex Rins mengaku syok melihat kecelakaan horor Alex Marquez di MotoGP Catalunya 2026 hingga jantungnya seperti berhenti berdetak.
Jennifer Coppen dan Justin Hubner mengumumkan rencana pernikahan di Bali pada Juni 2026 dengan tiga konsep adat berbeda.