7 Ekor Kambing Warga Tepus Mati Diserang Hewan Misterius
Tujuh kambing warga Tepus, Gunungkidul, mati dengan luka gigitan diduga akibat serangan kawanan hewan liar di tengah kemarau
Foto ilustrasi. /JIBI-Nicolous Irawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Pelaksanaan Salat Tarawih di Gunungkidul belum sepenuhnya mematuhi protokol kesehatan untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona. Pasalnya, pada saat ibadah masih ada jemaah yang tidak memakai masker.
Salah satunya terlihat dalam pelaksanaan Tarawih di masjid di Kalurahan Wareng, Kapanewon Wonosari. Didalam pelaksanaan sudah menerapkan jaga jarak dan jemaah ada yang membawa sajadah masing-masing.
Meski demikian, untuk pemakaian masker masih ada yang belum memakainya.
Salah seorang jemaah Tarawih, Kismaya mengatakan, teknis salat tidak berbeda jauh dengan pelaksanaan tahun lalu, yakni selesai sekitar pukul`19.45 WIB.
“Ini sudah termasuk khotbah. Untuk suratnya standar seperti biasa,” katanya, Rabu (14/4/2021).
BACA JUGA: Semua Jalur Masuk DIY Dijaga 24 Jam untuk Halau Pemudik, Bagaimana dengan Pelaju?
Disinggung mengenai imbauan dari Takmir masjid tentang pentingnya menerapkan protokol kesehatan, Kismaya mengaku sepanyang penyelenggaraan belum ada imbauan. Namun, lanjut dia, masyarakat sudah banyak yang patuh, walaupun tetap saja ada yang masih membandel. “Kebanyakan sudah memakai masker. Tapi ada juga yang tidak, meski jumlahnya tidak sebanyak dengan yang memakai masker,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tujuh kambing warga Tepus, Gunungkidul, mati dengan luka gigitan diduga akibat serangan kawanan hewan liar di tengah kemarau
BMKG mengingatkan nelayan dan operator kapal mewaspadai gelombang hingga 4 meter pada 8-11 September 2026.
BNPB telah memverifikasi 51.591 rumah terdampak gempa M7,7 Flores. Sebanyak 2.382 rumah tercatat rusak berat.
Aldila Sutjiadi dan Erin Routliffe melaju ke perempat final US Open 2026 setelah menang tiga set atas Bondar/Kalinina.
Sebanyak 3.283 warga Surabaya mengeluhkan desil DTSEN. Pemutakhiran data menjadi kunci agar bantuan pemerintah tepat sasaran.
Gunung Anak Krakatau hari ini masih Level III Siaga. Aktivitas tercatat memicu gempa letusan, low frequency, hybrid, dan tremor menerus.