Bambanglipuro Bentuk Posko Anti Klitih Usai Pelajar Tewas
Bambanglipuro akan membentuk posko anti klitih di tiap kalurahan usai kasus pengeroyokan pelajar hingga tewas.
Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Polresta Jogja mengungkap kronologi pengeroyokan yang menewaskan seorang pemuda di Pasar Serangan pada Kamis (3/6/2021) dini hari. Kabag Humas Polresta Jogja, AKP Timbul Sasana Raharja mengatakan penyidik sudah menyita sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian tersebut.
Di lokasi kejadian, polisi mendapati satu sepeda motor Honda Beat bernomor polisi AB 3359 JJ, pecahan botol miras, pecahan batu, potongan bambu, tongkat stik, dan sandal jepit yang diduga digunakan oleh para pelaku saat menganiaya korban.
BACA JUGA: Pandu, Sukarelawan Penyelamat Keluarga Saat Erupsi Merapi 2010 Meninggal karena Tabrak Lari
"Kejadiannya sekitar pukul 00.15 WIB, dan dilaporkan ke polisi pukul 02.00 WIB. Ada beberapa barang bukti di TKP yang kami amankan, sepeda motor, pecahan botol, batu, tongkat dan potongan bambu," katanya.
Timbul mengatakan penyidik telah memeriksa saksi mata yakni Muhammad Ali Mustofa, 23, seorang pedagang, dan Srimanah Widiyanti, 45, warga sekitar sekaligus pedagang Pasar Serangan.
Ia menuturkan korban berinisial DW, 21, warga Dukuh Gedongkiwo, Mantrijeron. Timbul mengungkapkan, sehari sebelum kejadian yakni Rabu (2/6/2021) sekitar pukul 22.00 WIB, pelapor (teman korban) dan S punya permasalahan di depan SMKI Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul.
Selanjutnya permasalahan akan diselesaikan di kampung Gampingan, Pakuncen Wirobrajan. Kemudian, pelapor menjemput dan mengajak korban untuk menemui S sekitar pukul 24.00 WIB. Sesampainya di kampung Gampingan, korban dan temannya sudah ditunggu S dan kawan-kawannya sekitar tujuh orang.
"Korban sudah ditunggu oleh para pelaku. Lalu salah satu pelaku menganiaya korban menggunakan pisau cutter. Saat itu korban dan para saksi berlari ke selatan arah Pasar Serangan, tetapi korban dapat dikejar selanjutnya dikeroyok oleh para pelaku dan roboh di TKP," katanya.
Polisi telah mengantongi identitas salah satu pelaku pengeroyokan yang mengakibatkan DW meninggal dunia. Timbul mengatakan pemicu pengeroyokan itu adalah dendam antara pelapor, yakni AM, terduga pelaku, GT.
Sementara korban adalah teman dekat AM. Pada malam itu korban diajak oleh AM menemui GT di sekitat Pasar Serangan, Wirobrajan untuk menyelesaikan perkara sebelumnya antara AM dengan GT.
Ketika sampai di lokasi kejadian, GT sudah menunggu bersama teman-temannya, dan pengeroyokan terhadap korban lantas terjadi.
BACA JUGA: Pemuda Jogja yang Tewas Dikeroyok di Pasar Gampingan Terkapar di Lokasi Selama Sejam
Ia menambahkan AM dan GT memang sudah ada konflik sebelumnya dan pada Kamis dini hari itu mereka bertemu. "Jadi korban ini tidak ada masalah apa pun dengan pelaku. Masalahnya itu antara AM dengan GT. Korban hanya diajak oleh AM untuk menemui GT. Ia justru yang kena apes," ujarnya.
Timbul memastikan kasus tersebut bukan aksi kejahatan jalanan atau klithih.
"Ini bukan klithih. Murni pengeroyokan. Nama-nama tersangka sudah kami kantongi. Rekan-rekan Reskrim sedang bekerja keras melakukan pengembangan.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bambanglipuro akan membentuk posko anti klitih di tiap kalurahan usai kasus pengeroyokan pelajar hingga tewas.
Sembilan provinsi memperbolehkan bayar pajak kendaraan 2026 tanpa KTP pemilik lama untuk STNK tahunan kendaraan bekas.
Dishub Bantul menertibkan PKU dengan tagihan listrik membengkak hingga Rp1 juta per bulan di ratusan titik penerangan kampung.
OJK mencatat pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,82% menjadi Rp716,40 triliun hingga Maret 2026.
Prabowo menyebut 1.061 Koperasi Merah Putih berhasil dioperasikan dalam tujuh bulan untuk memperkuat ekonomi desa.
BPBD Temanggung memetakan 12 kecamatan rawan kekeringan pada musim kemarau 2026 dan menyiapkan distribusi air bersih.