Kehancuran Ekologi RI di Balik Transisi Energi Disuarakan di COP30
Nasib banyak Masyarakat Adat justru kian terancam oleh ambisi transisi energi global.
Jalur pedestrian Malioboro, Jogja, Rabu (9/2/2022)./Harian Jogja-Maya Herawati
Harianjogja.com, JOGJA—Kawasan Malioboro sangat kondang di Jogja. Pusat perbelanjaan dan wisata di Jogja ini berada di jantung kota. Namun, warga Jogja mungkin belum banyak yang tahu arti dan sejarah nama Malioboro tersebut.
Belakangan, pemerintah mengubah banyak wajah Malioboro dengan memindahkan ribuan pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini berjualan di sepanjang pedestrian Malioboro ke tempat relokasi baru yakni Teras Malioboro.
Tak hanya itu, wajah Malioboro juga diubah dengan mengubah warna cat menjadi seragam yakni putih. Pemerintah berkeinginan menghadirkan ciri khas masa lalu Malioboro.
Namun, tak banyak orang yang tahu asal mula nama Malioboro itu sendiri. Di sejumlah literatur ada yang menyebut penamaan Malioboro berasal dari nama seorang anggota kolonial Inggris yang dahulu pernah menduduki Jogja pada tahun 1811 - 1816 M yang bernama Marlborough.
Pada era tersebut, kolonial Hindia Belanda membangun Malioboro di pusat kota Jogja pada abad ke-19 sebagai pusat aktivitas pemerintahan dan perekonomian.
Namun informasi itu dibantah oleh sejarawan Peter Carey. Dalam bukunya Asal Usul Nama Yogyakarta-Malioboro, dosen emeritus di Trinity College Oxford itu menyatakan hal itu tidak masuk akal.
Pasalnya, jalan raya ini telah dibangun dan digunakan untuk tujuan seremonial tertentu selama lima puluh tahun sebelum orang Inggris mendirikan pemerintahannya di Jawa, dan besar kemungkinan bahwa jalan ini sejak awal telah dikenal sebagai Jalan Malioboro, yang berarti jalan berhiaskan untaian bunga.
BACA JUGA: Diubah seperti Zaman Dahulu, Kawasan Malioboro Bakal Dicat Putih
Peter Carey menyebut ada penjelasan lain yang jauh lebih masuk akal.
“Petunjuknya adalah nama Ngayogyakarta sendiri yang kemungkinan berasal dari kata Ayodhya dalam bahasa Sanskerta [Bahasa Jawa modern: Ngayodya], ibu kota pahlawan India Rama dalam epos Ramayana,” kata Peter Carey dikutip dari Asal Usul Nama Yogyakarta-Malioboro.
Dikatakannya, pengaruh kesusastraan India seperti itu, yang di Jawa dikenal melalui media kakawin (puisi bermetrum sekar ageng) yang berbahasa Jawa Kuno, mungkin memengaruhi pilihan nama Malioboro, yang kelihatannya merupakan bentuk saduran bahasa Jawa dari kata “malyabhara” (berhiaskan untaian bunga) dalam bahasa Sanskerta.
Kata Malioboro mulai banyak digunakan di ibu kota Sultan setelah perjanjian perdamaian Giyanti pada 13 Februari 1755. Kata Maliabara kata dia, benar-benar ditemukan di naskah yang berasal dari Jogja pada pertengahan abad ke-18.
“Bagi orang Jawa, Malioboro [Maliabara] menjadi jalan yang [amat] terlalu penting untuk diberi nama menurut nama seorang Inggris, yang merupakan orang asing bagi mereka,” kata Peter Carey.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Nasib banyak Masyarakat Adat justru kian terancam oleh ambisi transisi energi global.
Dinas Kesehatan Gunungkidul memastikan belum ada kasus hantavirus, namun warga diminta menjaga kebersihan dan waspada penularan.
DisperinkopUKM Kulonprogo mempercepat pendampingan sertifikasi halal gratis bagi UMKM sebelum kuota Sehati DIY ditutup akhir Mei 2026.
PBB mendesak investigasi independen atas dugaan penyiksaan dan kematian tahanan Palestina di pusat penahanan Israel.
Persib Bandung semakin dekat dengan gelar juara Super League 2025/2026 usai menang dramatis 2-1 atas PSM Makassar di Parepare.
Simak jadwal terbaru KRL Jogja-Solo Senin 18 Mei 2026 dari Stasiun Yogyakarta sampai Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali jalan.