73.363 BPJS Dinonaktifkan, Gunungkidul Aktivasi Ulang 32.845 Peserta
UHC Gunungkidul mencapai 98,7 persen. Masih ada 1,3 persen warga belum menjadi peserta BPJS Kesehatan.
Papan informasi tempat toilet yang ditulis dengan menggunakan Bahasa Indonesia dan Jawa di Taman Budaya Gunungkidul di Kalurahan Logandeng, Playen, Rabu (6/4/2022)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Bahasa Jawa belum sepenuhnya dipahami kalangan milenial di Gunungkidul. Salah satu contohnya adalah arti kata toilet dalam bahasa Jawa yang belum dimengerti karena dianggap mirip nama bapak-bapak.
BACA JUGA: Indonesia Resmi Punya 10 Bandara Internasional, Salah Satunya YIA
Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Gunungkidul memiliki tugas berat untuk mengenalkan dan melestarikan Bahasa Jawa kepada generasi milenial.
Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Choirul Agus Mantara, mengatakan anak-anak atau generasi milenial lebih menguasai bahasa asing seperti Inggris atau Korea ketimbang Bahasa Jawa yang menjadi warisan nenek moyang. “Sekarang sudah banyak yang tidak tahu tentang Bahasa Jawa khususnya di kalangan generasi muda,” kata Mantara kepada Harianjogja.com, Kamis (7/4/2022).
Ketidaktahuan atau kurangnya pemahaman anak-anak muda tentang Bahasa Jawa bisa dilihat dari kasus toilet di Taman Budaya Gunungkidul (TBG) di Kalurahan Logandeng, Playen. Sebagai tempat pengembangan dan pelestarian budaya, fasilitas ini tidak hanya ditulis dengan Bahasa Indonesia, tapi juga Bahasa Jawa lengkap dengan tulisannya.
Meski demikian, sambung Mantara, banyak yang belum mengetahui apabila toilet atau fasilitas kamar mandi dalam Bahasa Jawa adalah Pakiwan. “Tahunya Pakiwan adalah nama orang yang memiliki toilet. Saya pun pernah ditanyai anak-anak kok Pak Iwan ada di sini [menunjuk ke papan informasi lokasi toilet],” ujarnya.
BACA JUGA: Warga Jogja Diminta Pakai Baju Anti-Klithih saat Bepergian, Modelnya Bikin Ngakak
Menurut dia, istilah Pakiwan hanya contoh kecil dan lingkupnya sangat dekat dengan aktivitas sehari-hari di masyarakat. “Sebenarnya dengan tulisan dua bahasa, kami coba sosialisasikan, tapi nyatanya masih banyak generasi muda yang belum mengerti,” katanya.
Ia pun terus berkomitmen untuk terus berupaya melestarikan Bahasa Jawa kepada generasi muda agar tidak punah tergerus oleh perkembangan zaman. “Sudah kami persiapkan sejumlah program seperti sandiwara atau langen carita berbahasa Jawa dengan peserta anak-anak SD,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
UHC Gunungkidul mencapai 98,7 persen. Masih ada 1,3 persen warga belum menjadi peserta BPJS Kesehatan.
Kemenkeu akan mengambil alih 60% saham KCIC atau Whoosh dan mengelolanya melalui SMV, ditargetkan rampung pertengahan September 2026.
Pemkab Temanggung memperkuat kapasitas relawan kebencanaan melalui pelatihan yang menitikberatkan mitigasi dan manajemen pascabencana.
DPRD Kota Jogja mematangkan Raperda Pembinaan Ideologi Pancasila dan Pendidikan Wawasan Kebangsaan melalui koordinasi lintas instansi.
Cari ide lomba 17 Agustus 2026? Simak 30 permainan simpel, seru, dan hemat biaya untuk anak, remaja, hingga orang dewasa.
Kejagung menyebut Febrie Adriansyah masih menerima 50% gaji pokok setelah dinonaktifkan sementara sebagai jaksa dan menjadi tersangka.