DPRD Bantul Kejar Pengelolaan Jalan Parangtritis untuk PAD
DPRD Bantul mendorong penurunan kelas Jalan Parangtritis agar retribusi wisata pantai selatan bisa dikelola lebih maksimal.
Suasana diskusi bertajuk Tadarus Demokrasi di Alam Pikir Buya Syafii Maarif oleh Pegiat Pendidikan Indonesia (Pundi) Minggu (5/2/2023)./Harian Jogja-Yosef Leon
Harianjogja.com, JOGJA — Memasuki tahun politik jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, generasi muda diajak untuk menginternalisasikan nilai-nilai kemanusiaan dan universalitas untuk membendung pengaruh buruk yang dapat mengancam demokrasi.
Potensi perpecahan dari sosial media dan maraknya informasi mesti diwaspadai untuk tetap menjaga keutuhan dan mengedepankan kemanusiaan.
Hal itu mengemuka dalam diskusi bertajuk Tadarus Demokrasi di Alam Pikir Buya Syafii Ma'arif oleh Pegiat Pendidikan Indonesia (Pundi) Minggu (5/2/2023).
Kegiatan ini berupaya mengetengahkan buah pikiran Buya Syafii kepada generasi muda menjelang Pemilu 2024 dan masuknya tahun politik. Generasi milenial diajak untuk mengambil sari pati pikiran Buya yang masih relevan bagi penguatan demokrasi.
Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Abdul Munir Mulkhan menyebutkan konteks zaman pada era sekarang sangat berbeda dengan era demokrasi mula-mula tumbuh di Indonesia.
Kondisi itu membuat upaya untuk menghidupkan demokrasi sesuai dengan koridornya mendapat banyak tantangan. Arus informasi yang sangat deras membuat generasi muda harus pintar memilih dan memilah agar makna informasi tidak tergerus dan bermanfaat bagi keberlangsungan demokrasi di tahun politik.
"Sekarang kan informasi sangat kompleks, anak muda sekarang mestinya lebih punya jati diri untuk menyeleksi informasi yang begitu banyak sekali, dan seleksi yang paling unggul adalah sebermanfaat apa informasi itu bagi manusia," ujarnya.
BACA JUGA: Kesederhanaan Buya Syafii Maarif, Tokoh Bangsa yang Tak Segan Pakai Celana Bolong & Ditambal Jahitan
Menurut dia, sikap dan tindak tanduk Buya Syafii yang masih sangat relevan untuk dilakukan pada masa sekarang untuk mengisi alam demokrasi yaitu kesediaan untuk berbagi. Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan kadang membuat manusia terlena, aspek sosial perlahan-lahan dinilainya menjadi tergerus.
Kaum muda seakan-akan mampu melakukan segala hal dengan diri sendiri tanpa niat berkolaborasi dan terbuka dengan orang lain. Fenomena ini ditakutkan membuat kaum muda menjadi generasi yang apatis dan kurang peka dengan persoalan sosial.
"Justru yang lebih diutamakan menurut saya adalah kesediaan berkolaborasi dan berbagai karena tidak mungkin suatu kesempurnaan ada pada diri sendiri. Zaman yang lebih terbuka sekarang ini yang seolah-olah orang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri lewat gadget dan teknologi, yang dipentingkan adalah kesediaan berbagi itu yang jadi tantangan anak muda," ucapnya.
Direktur Eksekutif Pegiat Pendidikan Indonesia (Pundi) Haryono Kapitang menjelaskan, pada tahun politik ini generasi muda diminta untuk memberikan sumbangsih lewat pikiran dan tindakan yang sesuai dengan kapasitasnya. Juga tidak terseret pada arus politik yang memecah belah dan mengarah ke potensi konflik.
"Termasuk narasi pecah belah di medsos [media sosial], itu sangat merusak wajah demokrasi kita padahal inti demokrasi bebas berpendapat tetapi mengedepankan moral etika. Di sini lah pikiran Buya itu hadir. Dia dijuluki sebagai muadzin moralitas bangsa atau yang menjaga moral dalam demokrasi kita," katanya.
Menurut Haryono, generasi muda sekarang harus memandang demokrasi sebagai suatu jalan yang inklusif, lurus dan terbuka bagi pandangan apapun. Jangan sampai para milenial terjebak dalam fanatisme buta dan terkecoh dengan pemahaman sendiri. Pancasila disebutnya harus jadi dasar dan bertindak, bukan hanya sebatas menara gading yang jauh dari penerapan nilai yang dikandung.
"Kami ingin agar Pemilu 2024 berjalan damai karena tidak bisa dipungkiri bahwa Pemilu nanti akan didominasi oleh kelompok milenial, maka sasaran kami, target kami adalah kelompok anak muda sehingga mereka mampu menjalankan demokrasi dengan pikiran maupun perilaku yang sebenarnya," ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Bantul mendorong penurunan kelas Jalan Parangtritis agar retribusi wisata pantai selatan bisa dikelola lebih maksimal.
Suadesa Festival 2026 menghadirkan 40 UMKM dengan produk kerajinan, makanan dan kuliner untuk memperluas pasar serta menjaring pelanggan baru
DPRD Kota Jogja mendorong korban kekerasan mendapat pendampingan hingga pulih dari trauma melalui Raperda Perlindungan Perempuan dan Anak.
Pameran UMKM dalam rangka Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah mencatat 15.159 pengunjung dengan total transaksi mencapai Rp1,165 miliar.
Ketergantungan Indonesia pada implan medis impor mencapai 92%-94%. Pakar mendorong penguatan riset, pendanaan, kolaborasi, dan regulasi nasional.
Ketentuan rujukan dan kontrol BPJS Kesehatan kini terintegrasi dengan layanan digital. Simak cara daftar antrean dan aturan jadwal kontrol.