Wabup Gunungkidul Joko Parwoto Absen di Hari Jadi, Ini Alasannya
Wabup Gunungkidul Joko Parwoto menjelaskan ketidakhadirannya dalam sejumlah agenda Hari Jadi ke-196 karena sakit gigi dan perlu penanganan dokter.
Ilustrasi./Harian Jogja
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul mencatat sepanjang 2022 lalu ada 15 warga yang meninggal dunia akibat terjangkit penyakit tuberkulosis (TB). Masyarakat pun diminta ikut berperan dalam memerangi penyakit ini sehingga target eliminasi TB di 2030 bisa tercapai.
Kepala Dinkes Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan kasus TB masih menjadi ancaman di masyarakat. Pasalnya, meski bisa diobati, namun masih ada warga yang meninggal dunia karena penyakit ini.
Dia mencontohkan, pada 2022 terdapat kasus baru sebanyak 311 penderita. Dari jumlah ini yang dinyatakan meninggal dunia akibat TB sebanyak 15 orang.
Dewi mengungkapkan, kasus kematian muncul tidak hanya karena penderita memiliki riwayat penyakit lain. Namun, juga berkaitan dengan kedisiplinan minum obat untuk penyembuhan.
Menurut dia, agar bisa sembuh, penderita TBC ringan harus rutin minum obat selama enam bulan agar bisa sembuh. Meski demikian, lanjut Dewi, ada pasien yang tidak disiplin sehingga penyakit yang diderita malah semakin parah. “Kuncinya disiplin dalam minum obat selama enam bulan. Kalau semakin kronis, maka penyembuhan lebih lama karena bisa bakteri bisa makin kebal dan butuh waktu sembilan bulan hingga dua tahun,” katanya.
BACA JUGA: Kasus TBC di Gunungkidul Masih Banyak yang Belum Terdeteksi
Dewi menambahkan, faktor lain yang menyebabkan penderita meninggal dunia karena penyakit TBC gejalanya tidak langsung kelihatan karena hanya berupa batuk berdahak. Hal inilah yang membuat masyarakat enggan memeriksakan diri, meski sudah mengalami batuk yang tak kunjung sembuh. “Setelah diperiksa ternyata sudah parah sehingga mempersulit penyembuhan. Jadi, harapannya saat timbul gejala bisa memeriksakan diri ke fasiltias kesehatan terdekat,” katanya.
Disinggung mengenai ketersediaan obat-obatan, ia mengakui tidak masalah terkait dengan stok obat. Selain itu, untuk alat diagnosa TBC juga banyak tersedia sehingga dapat dipergunakan sewaktu-waktu. “Tidak perlu malu karena TBC bisa diobati. Untuk penyembuhan semua juga diberikan secara gratis,” katanya.
Untuk penanggulangan, Dinas Kesehatan Gunungkidul terus berupaya memberikan sosialisasi ke masyarakat. Selain itu, guna mencapai target eliminasi TBC di 2030 juga butuh peran serta dari masyarakat. Salah satunya berperan dalam pemeriksaan dini terkait dengan penyebaran penyakit ini. “Bagi warga yang keluargnya ada penerita TBC, harus ikut membantu dengan mengawasi agar pasien rutin minum obat hingga benar-benar sembuh,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Wabup Gunungkidul Joko Parwoto menjelaskan ketidakhadirannya dalam sejumlah agenda Hari Jadi ke-196 karena sakit gigi dan perlu penanganan dokter.
Bupati Gunungkidul meminta destinasi wisata yang sepi dievaluasi, mulai dari Embung Sriten hingga pantai dan gua, sesuai potensi kawasan.
PEVS 2026 berlangsung 29 Oktober–1 November di JIExpo Kemayoran dengan 38 peserta, termasuk merek mobil dan motor listrik.
Bakom RI membuka ruang kritik terhadap program MBG. Pemerintah menguji konsep prasmanan di 66 SPPG di 10 provinsi untuk memperbaiki layanan.
BPOB mendampingi pelaku usaha desa penyangga Borobudur memperkuat identitas produk, storytelling, branding, dan pemasaran digital.
BI memperbesar diskon hedging hingga 45% untuk menarik modal asing. Ekonom mengingatkan risiko ketergantungan pada arus modal jangka pendek.