Modus Penipuan Proyek Koperasi Merah Putih Terungkap di Gunungkidul
Modus penipuan berkedok pembangunan Koperasi Desa Merah Putih ditemukan di sejumlah kalurahan Gunungkidul. Polisi masih menyelidiki kasus tersebut.
Foto ilustrasi./Antara
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemerintah Pusat bakal menyalurkan bantuan sosial (Bansos) beras untuk 21,3 juta penerima di seluruh Indonesia. Adapun penerima bantuan di Gunungkidul sebanyak 104.760 keluarga.
Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Sosial P3A) Gunungkidul, Asti Wijayanti mengatakan sudah mendengar rencana Pemerintah Pusat untuk menyalurkan bansos beras. Adapun bantuan diberikan selama tiga bulan mulai Maret hingga Mei.
“Rencananya per keluarga penerima manfaat menerima 10 kilogram setiap bulannya. Jadi untuk setiap keluarga mendapatkan 30 kilogram beras,” kata Asti, Kamis (30/3/2023).
Sesuai dengan ketentuan, bansos beras akan diberikan kepada keluarga kurang mampu yang mendapatkan Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Nontunai (BPNT).
Berdasarkan ketentuan ini, maka di Gunungkidul ada 104.760 kepala keluarga yang akan mendapatkan bantuan. “Surat dari badan pangan nasional sudah ada dan kami sedang menunggu disposisi dari Pak Bupati,” ungkapnya.
BACA JUGA: Bansos Beras Bulog Segera Cair, Dirapel Tiga Bulan
Asti memastikan pihaknya akan membantu Bulog dalam proses penyaluran kepada keluarga penerima bantuan. Rencananya launching penyaluran dilaksanakan pada Sabtu (1/4/2023).
Kepala Bidang Pemerintahan Sosial dan Budaya, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gunungkidul, Ajie Saksono mengatakan pemberian bansos merupakan salah satu upaya dari pemerintah untuk mengurangi jumlah keluarga miskin.
Untuk pengentasan, juga ada program lain seperti pemberdayaan UMKM dan kelembagaan masyarakat; stimulan Rumah Tak Layak Huni (RTLH), pemenuhan gizi berbasis panganan lokal hingga penyediaan akses air bersih ke masyarakat. “Bansos diberikan bagi keluarga yang masuk desil satu di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial [DTKS],” katanya.
Ajie menambahkan, untuk pengentasan kemiskinan di Gunungkidul difokuskan di tujuh kapanewon. Ketujuh kapanewon ini meliputi Saptosari, Playen, Gedangsari, Nglipar. Selain itu, ada Kapanewon Ponjong, Tepus dan Karangmojo. “Program pegentasan di tujuh kapanewon disesuaikan dengan arahan dari Pemerintah DIY,” katanya.
Guna mendukung aksi penanggulangan, sambung dia, pemkab sudah mengalokasikan anggaran sekitar Rp289 miliar. Ajie menjelaskan, secara umum pagu anggaran dipergunakan untuk berbagai kegiatan mulai dari perlindungan sosial, peningkatan infrastruktur dan sanitasi, optimalisasi layanan kesehatan.
Selain itu, juga ada program pengembangan industri UMKM, penguatan ekonomi kreatif, produksi tanaman pangan dan perkebunan. “Masih ada banyak lagi seperti peningkatan pendapatan nelayan, peternakan, pariwisata dan budaya. Tentunya juga ada peningkatan kualitas perencanaan dan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program penanggulangan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Modus penipuan berkedok pembangunan Koperasi Desa Merah Putih ditemukan di sejumlah kalurahan Gunungkidul. Polisi masih menyelidiki kasus tersebut.
Wakil Ketua DPRD DIY, Budi Waljiman, mendorong penguatan budaya membaca dan menulis di tengah derasnya arus informasi digital
FIFA selidiki dugaan rasis suporter Argentina ke iShowSpeed di Piala Dunia. Simak kronologi insiden dan kontroversi terbaru tim Tango di sini.
Sekda baru Kota Jogja, Budi Santosa Asrori, memprioritaskan pelaksanaan program RPJMD, penguatan tata kelola pemerintahan, dan penanganan isu strategis seperti
Jumlah lulusan perguruan tinggi di Sleman terus bertambah, sementara lapangan kerja formal belum mampu mengimbanginya. Disnaker soroti mismatch kompetensi.
DPRD Gunungkidul mulai membahas tiga Raperda inisiatif pada Juli 2026. Total 12 Raperda ditargetkan selesai dibahas dan ditetapkan hingga akhir tahun.