Proyek Jembatan Kewek Dimulai, Target Rampung Akhir 2026
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Ilustrasi./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, SLEMAN—Perubahan iklim yang sudah terjadi sejak beberapa tahun belakangan sudah terasa dampaknya di bidang pertanian. Dengan tidak menentunya pergantian musim, saat ini petani di Sleman tak lagi menggunakan pranata mangsa sebagai acuan dalam aktivitas bertani mereka.
Salah satu petani di Sleman, Janu Riyanto, menjelaskan dengan tidak menentunya waktu pergantian musim kemarau dan hujan, petani tidak lagi bisa menggunakan pranata mangsa.
“Kalau untuk petani muda sekarang sudah kurang begitu memperhatikan, saya sendiri kadang mengabaikan pranata mangsa itu,” ujarnya, Selasa (11/4/2023).
Sebagai gantinya, untuk mengetahui pergantian musim dan menentukan setiap kegiatan pertanian, para petani sepenuhnya mengacu pada informasi yang diberikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). “Informasi itu kami mengacu BMKG,” katanya.
Perubahan iklim menurutnya berdampak munculnya cuaca ekstrem yang menyebabkan gangguan pada pertanian. “Kalau panas tiba-tiba hujan, atau sebaliknya, pasti berdampak pada tanaman. Berpengaruh pada kelembaban dan dropnya Ph tanah. Dapat menyebabkan jamur,” ungkapnya.
BACA JUGA: DKPP Bantul Klaim Perubahan Iklim Tak Ganggu Produktivitas Pertanian, Ini Respons Petani
Selain itu, petani juga harus cermat mengakses informasi cuaca dari BMKG agar tidak salah menentukan waktu penanaman. Pada tanaman padi, hal ini tidak berdampak hingga mengubah musim tanam, namun pada tanaman hortikultura, ini menyebabkan musim tanam tidak menentu.
“Kalau padi tidak. Tetapi kalau hortikultura, petani menunggu situasi atau cuaca yang menguntungkan. Misalnya kalau BMKG menyebut dalam satu minggu terjadi hujan lebat, biasanya petani mundur walaupun sudah memiliki benih yang siap tanam,” kata dia.
Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian, Pangan dan Prikanan Sleman, Siti Rochayah, menjelaskan dalam situasi perubahan iklim saat ini, pranata mangsa sudah sulit untuk diterapkan. “Susah kalau sekarang iklimnya sudah berubah-ubah,” ujarnya.
Maka saat ini petani harus terus selalu memantau informasi dari BMKG. Untuk memastikan petani mendapatkan akses informasi tersebut, pihaknya sudah membuat grup Whatsapp dengan para kelompok tani dan BMKG yang selalu diberikan informasi yang dibutuhkan petani.
Ia mencontohkan seperti tahun ini Sleman masuk musim kemarau di dasarian 1 Mei. Namun ada prediksi kemunculan elnino pada tahun ini. “Maka kami mengimbau petni untuk melakukan percepatan tanam mumpung air hujannya masih ada,” ungkapnya.
Dengan adanya elnino, maka musim kemarau tahun ini akan lebih kering dibanding tahun sebelumnya. Dalam kondisi demikian, petani bisa menyesuaikan jenis tanaman apa yang akan ditanam sesuai dengan ketersediaan air.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
BMKG memprakirakan cuaca DIY Jumat, 23 Oktober 2026, berawan di lima wilayah dengan suhu 23–32 derajat Celsius.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Jumat, 23 Oktober 2026, tersedia 10 perjalanan dari Stasiun Yogyakarta dan Kutoarjo.
Kemarau panjang di Pengasih, Kulonprogo, membuat Sungai Klampok dan Plelen mengering. Vegetasi perbukitan juga mulai menguning.
Jadwal Bus KSPN Malioboro-Parangtritis Jumat, 23 Oktober 2026, tersedia enam keberangkatan setiap arah dengan tarif Rp12.000.
Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 23 Oktober 2026, lengkap dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur. Simak juga panduan naik KRL untuk pemula.