Cek Kesehatan Anak Sekolah Jogja: Karies Gigi Dominan
Dinkes Jogja temukan karies gigi jadi masalah utama anak sekolah dengan angka 33,67%. Edukasi sikat gigi dan pola makan terus digencarkan.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Beberapa waktu lalu ditemukan kasus penyakit antraks di Gunungkidul. Menanggapi temuan tersebut, Pemkot Jogja mengimbau agar masyarakat mengonsumsi daging sapi yang telah dipastikan sehat.
Kepala Bidang Perikanan dan Kehewanan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja, Sri Panggarti menyampaikan pihaknya terus melakukan peningkatan pemantauan kepada peternak dan Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Kota Jogja. Dari hasil pemantauan, menurutnya tidak ditemukan hewan yang terkena antraks.
''Setelah ada informasi antraks di salah satu kabupaten di DIY, kami melakukan peningkatan dan kewaspadaan antraks pada hewan ternak yang ada di Kota Jogja. Hingga saat ini semua hewan negatif antraks, tidak ada yang bergejala. Kami juga melakukan edukasi ke peternak agar lebih membatasi pemasukan ternak dari luar dan harus ada Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH)," katanya, Sabtu (8/7/2023).
Dia pun menyampaikan antraks merupakan penyakit yang disebabkan bakteri Bacillus Anthracis. Bakteri tersebut dapat membentuk spora yang dapat bertahan hingga 40 tahun di dalam tanah, sehingga sulit dimusnahkan. Bakteri tersebut dapat menginfeksi hewan ternak seperti sapi, kerbau, kambing dan domba.
Baca juga: Antraks Merebak di Gunungkidul, Sleman Perketat Pemeriksaan Lalu Lintas Ternak
Dia menyampaikan hewan yang terkena antraks tidak boleh dipotong, atau dibuang ke sungai dan diperjual belikan. Karena antraks dapat menular dari hewan ke manusia melalui saluran pencernaan apabila dikonsumsi. Selain itu spora antraks dapat menular pula lewat saluran pernafasan atau kulit.
Sri pun mengimbau bagi masyarakat yang ada riwayat mengkonsumsi daging atau tidak mengkonsumsi daging yang diduga terkena antraks atau berkunjung ke daerah yang terkena kasus antraks kemudian mengalami gejala demam dan lainnya untuk segera memeriksakan diri pada layanan kesehatan terdekat.
Dia pun menyampaikan pencegahan dan pengendalian antraks dapat dilakukan dengan vaksinasi untuk daerah endemis, pengobatan, pengawasan lalu lintas hewan dan produk pangan yang berasal dari hewan, isolasi, dan memberikan desinfektan “Saya berharap peternak lebih peduli terhadap kesehatan hewan ternaknya. Pastikan hewan selalu dalam kondisi sehat, jika ternak ya ada gejala sakit segera melaporkan ke Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja untuk ditangani," imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinkes Jogja temukan karies gigi jadi masalah utama anak sekolah dengan angka 33,67%. Edukasi sikat gigi dan pola makan terus digencarkan.
Libur panjang akhir pekan dorong wisata Sleman naik. Merapi, Kaliurang hingga Prambanan diprediksi jadi tujuan favorit.
Honda mencatat rugi pertama sejak IPO akibat EV. Kerugian capai Rp45,9 triliun, proyek Kanada ditunda, target EV diubah.
Gempa M6,3 guncang Jepang timur laut. Shinkansen dihentikan, Miyagi terdampak, namun PLTN Fukushima dilaporkan aman.
Perdagangan hewan kurban di Bantul naik jelang Iduladha 2026. Kambing paling diminati, omzet pedagang diprediksi melonjak.
Indomobil eMotor hadirkan 4 motor listrik di Jogja. Adora, Tyranno, Sprinto tawarkan fitur modern mulai Rp25 jutaan.