Kunjungan Wisata Moncer, DPRD Gunungkidul Bidik PAD Rp60 Miliar
PAD wisata Gunungkidul sudah lebih dari Rp50 miliar. DPRD mendorong target retribusi wisata 2026 dinaikkan menjadi Rp60 miliar.
Ilustrasi siswa SD dan SMP - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pendidikan Gunungkidul mencatat ada 336 anak yang putus sekolah. Adapun penyebabnya bervariasi mulai dari masalah ekonomi hingga menikah dini.
Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul, Nunuk Setyowati mengatakan data anak putus sekolah berusia antara 7-18 tahun. Pendataan dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di 2022.
“Untuk yang putus sekolah ada 336 anak. Rinciannya, 240 merupakan anak laki-laki dan perempuan sebanyak 96 anak,” katanya, Senin (24/7/2023).
Menurut dia, anak putus sekolah ini tersebar di 18 kapanewon di Gunungkidul. Kapanewon Wonosari menjadi yang terbanyak dengan jumlah 46 anak. Sedangkan paling sedikit berada di Kapanewon Rongko dengan jumlah putus sekolah lima anak.
“Semua kapanewon ada anak putus sekolah. Tapi, untuk jumlahnya bervariasi,” katanya.
Nunuk mengakui sudah melakukan kajian terkait dengan penyebab anak putus sekolah. Anak-anak berhenti sekolah, salah satunya disebabkan karena masalah ekonomi.
Selain itu, juga ada faktor lain seperti harus menikah dini sehingga memutuskan berhenti sekolah. “Tentunya ini menjadi tugas kami agar anak putus sekolah bisa melanjutkan kembali sehingga dapat meraih cita-cita yang diimpikan,” katanya.
Nunuk menjelaskan, untuk mencegah terjadinya anak putus sekolah sudah menyiapkan beberapa program. Salah satunya memberikan beasiswa dalam program Gunungkidul Cerdas yang diberikan ke anak-anak kurang mampu.
Selain itu, upaya pencegahan dengan memberikan motivasi bagi anak-anak mulai dari TK hingga SMP agar memiliki gambaran cita-cita yang ingin diraih.
Oleh karenanya ia meminta kepada setiap guru agar memberikan motivasi kepada anak didik agar merangsang anak untuk tetap semangat belajar.
BACA JUGA: Tampung Sampah dari Jogja dan Sleman, Pemda DIY Siapkan Lahan SG di Cangkringan
“Adanya cita-cita ini sangat penting karena anak jadi bersemangat meraih apa yang diimpikan. Jadi, saya setiap datang ke sekolah terus mendorong anak-anak bisa mewujudkan cita-cita yang dimiliki sehingga sekolahnya tidak putus di tengah jalan,” katanya.
Nunuk menambahkan, upaya memerangi putus sekolah dengan menggalakkan kampanye anti pernikahan dini, khususnya bagi murid perempuan. Adapun caranya dengan memberikan gambaran tentang bahaya pernikahan dini mengenai masalah kesehatan.
“Tentunya untuk memerangi putus sekolah juga butuh partisipasi dari semua pihak,” katanya.
Wakil Ketua DPRD Gunungkidul Heri Nugroho mengaku kaget dengan angka putus sekolah di Gunungkidul. Pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk mencari penyebab pasti terjadinya permasalahan ini.
“Kami komunikasikan terlebih dahulu. Yang jelas, angka kasus harus ditekan dan dicarikan solusi agar anak-anak tetap bisa bersekolah,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PAD wisata Gunungkidul sudah lebih dari Rp50 miliar. DPRD mendorong target retribusi wisata 2026 dinaikkan menjadi Rp60 miliar.
Jadwal KRL Jogja–Solo September 2026 relasi Stasiun Tugu ke Palur lengkap di 13 stasiun, mulai pukul 05.05 WIB hingga perjalanan malam.
ALVA mencatat distribusi 20.000 unit pada September 2026, dengan pengguna yang telah menempuh lebih dari 78 juta kilometer.
SIPA 2026 resmi dibuka di Pamedan Pura Mangkunegaran Solo. Sekitar 250 seniman dari 7 negara tampil dengan tema Kinetic Kinship: Beyond Boundaries.
Cara download video Facebook tanpa aplikasi lewat HP atau laptop. Simak langkah menyalin tautan hingga menyimpan video dengan aman.
Yudai Yamamoto ditunjuk memimpin Persija vs Persib di SUGBK. Simak profil, pengalaman, dan rekam jejak wasit asal Jepang ini.