Pilur Gunungkidul Digelar 26 September, Pemkab Minta Logistik Tuntas H-2
Pilur serentak di 31 kalurahan Gunungkidul digelar 26 September 2026. Pemkab meminta seluruh logistik, terutama surat suara, siap H-2.
Salah seorang warga di Padukuhan Ngipik sat menimba sumur yang airnya keruh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Senin (9/10/2023). /Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Bencana kekeringan kian parah terjadi di Gunungkidul. Puluhan warga di RT01 di Padukuhan Ngipik, Tegalrejo, Gedangsari, Gunungkidul terpaksa menggunakan air keruh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lokasi tempat tinggal yang berada di atas perbukitan membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih saat kemarau.
Untuk menuju lokasi sumur juga tidak mudah. Warga harus menyusuri jalan setapak. Di perjalanan harus bertaruh nyawa di sampingnya berupa jurang.
“Tidak bisa diakses menggunakan kendaraan. Sebab, untuk ke sumur harus jalan kaki,” kata salah seorang warga Ngipik, Hariyanti kepada wartawan, Senin (9/10/2023).
BACA JUGA : Bencana Kekeringan: 31 Hektar Kolam Ikan di Sleman
Dia menjelaskan, untuk sampai di tempat pengambilan air harus berjalan sekitar 20 menit. Sesampainya di lokasi juga harus mengantre dengan warga yang lain.
Selain itu, air dalam sumur juga keruh dikarenakan sumbernya sudah mulai mengering di musim kemarau seperti sekarang ini. Oleh karenanya, air yang diangkat tak langsung dimasukan ke jeriken, tapi didiamkan terlebih dahulu dalam ember.
Dia bercerita, sumur dipakai merupakan tinggalan warga yang pindah ke daerah Klaten, Jawa Tengah. Adapun kondisi kekeringan dengan air keruh sudah berlangsung secara turun temurun.
“Sudah lama. Sejak saya lahir, air di sini keruh saat kemarau, karena memang sumbernya tinggal sedikit. Mungkin satu bulan lagi, airnya benar-benar kering,” katanya.
Meski keruh, sumur ini merupakan satu-satunya harapan warga di RT 1. Ia berdalih sumber lain lokasinya jauh dan kondisi jalan juga sangat ekstrem. “Harus berjalan satu kilometer. Makanya, kami tetap menggunakan sumur ini,” ujarnya.
Meski keruh dan berbau tanah, Hariyanti dan warga lainnya tetap menggunakannya. Untuk keperluan mandi masih bisa digunakan secara langsung usai mengambil, tapi untuk memasak harus didiamkan semalam.
“Memang bau seperti tanah tidak hilang, tapi mendingan bisa lebih jernih,” katanya.
BACA JUGA : BPBD DIY Bersiap Hadapi Kekeringan hingga Januari 2024
Aktivitas pengambilan air dilakuan setiap hari pagi dan sore menggunakan jeriken dan ember. Kegiatan ini sudah mereka lakukan sejak bulan Juli 2023 lalu.
“Untuk beli belum pernah. Selain mahal, kami juga tidak punya uang,” katanya.
Ketua RT 01 di Padukuhan Ngipik, Suranto mengatakan, sumur yang airnya keruh ini dimanfaatkan 22 jiwa. Pasalnya, sumur tersebut merupakan sumber terdekat dengan rumah warga.
“Kondisi air keruh. Jadi, pagi ngambil, sorenya baru digunakan,” katanya.
Dia berharap ada bantuan air bersih sehingga dapat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Warga masih bertahan dengan sumber yang ada. Sebab, sambungan air SPAM yang terpasang tidak mengalir karena lokasi kami berada di titik tertinggi. Jadi, mungkin mesinnya tidak kuat mengangkat sampai ke tempat kami,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur serentak di 31 kalurahan Gunungkidul digelar 26 September 2026. Pemkab meminta seluruh logistik, terutama surat suara, siap H-2.
7 bahan ini sebaiknya dihindari saat membersihkan stainless steel karena bisa menyebabkan goresan, noda, kusam, hingga korosi.
KTM menolak aturan satu motor MotoGP dan memilih mendukung cost cap sebagai opsi menekan biaya tanpa mengurangi aksi balap.
Sebanyak 1.001 pembatik akan membatik bersama di Malioboro pada 3 Oktober 2026. Jalan ditutup pukul 06.00-09.00 WIB.
Nissan menilai produsen Tiongkok menjadi tantangan berat dan menyiapkan strategi biaya menghadapi potensi produksi mobil China di Meksiko.
Jadwal Asian Games 2026 30 September menghadirkan panjat tebing, gulat, tenis, sepak takraw, esports, hingga balap sepeda Indonesia.