Angka Stunting Kulonprogo Mencapai 15 Persen, Dinas Kesehatan Merilis Program Baru

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Rabu, 11 Oktober 2023 14:47 WIB
Angka Stunting Kulonprogo Mencapai 15 Persen, Dinas Kesehatan Merilis Program Baru

Ilustrasi penanganan stunting. - Freepik

Harianjogja.com, KULONPROGO—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat merilis program Inovasi Matahatiku. Program terobosan baru tersebut menjadi upaya untuk menurunkan angka stunting di Kulonprogo.

Kepala Dinas Kesehatan Kulonprogo, Sri Budi Utami, mengatakan bahwa program tersebut dilandasi tingginya angka stunting di Kulonprogo.

“Sesuai dengan data yang ada di survei status gizi Indonesia [SSGI] yang muncul adalah angka besar, angka [stunting] Kulonprogo menyentuh 15 persen," kata Sri dalam keterangan tertulis, Selasa (10/10/2023).

Sri menambahkan angka SSGI tersebut berbeda apabila dibandingkan dengan pemantauan gizi setempat (PGS). Kata dia, melalui PGS angka stunting di Kulonprogo justru hanya 9,9%. Program inovasi tersebut juga diimplementasikan dalam aplikasi dengan nama yang sama.

Aplikasi Matahatiku merupakan pengembangan dari aplikasi kebanggaan Kabupaten Kulonprogo, aplikasi Bumilku atau Ibu Hamil Kulonprogo.

"Kalau di Bumilku pemantauannya adalah dari ibu hamil sampai dengan lahir. Kalau di aplikasi Matahatiku ini maka pemantauannya adalah sejak anak lahir sampai dengan dua tahun atau kemudian kami perluas sampai dengan lima tahun," katanya.

Menurut Sri, titik berat dari permasalahan stunting adalah pencegahan. Oleh sebab itu, logo program Matahatiku bermakna upaya bersama mencegah stunting, bukan mengobati. Logo tersebut memiliki lima balon dengan warna cerah dan membentuk bangun pentahelix.

Jelas dia, warna cerah memiliki arti kegembiraan anak-anak Kulonprogo yang akan bebas dari stunting. Sedangkan balon yang membentuk bangun pentahelix menunjukkan sebuah kolaborasi dari lima unsur yaitu pemerintah, masyarakat, swasta atau pelaku bisnis, perguruan tinggi, dan media dalam menekan persoalan stunting tersebut.

BACA JUGA: Mantan Penyidik KPK Sebut Kasus Pemerasan pada Syahrul Yasin Limpo Cukup di Polda

"Mengapa bersama, karena kita harus bersama-sama, tidak bisa sendiri. Kita bersama-sama akan gerakkan semua unsur masyarakat dalam upaya pencegahan stunting," katanya.

Penjabat (Pj) Bupati Kulonprogo, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengatakan bahwa Matahatiku menjadi program dan aplikasi yang digagas untuk menyelesaikan persoalan stunting di Kulonprogo.

"Saya kira ini sejalan dengan apa yang menjadi program strategis kita bersama, bahwa kita punya dua persoalan yang harus kita tuntaskan secara bersama-sama secara kolaborasi yakni masalah kemiskinan ekstrem dan stunting," kata Made.

Dia menegaskan persoalan stunting bukan hanya tanggung jawab Dinkes namun juga masyarakat secara keseluruhan. Pasalnya, anak-anak yang bebas dari stunting akan menjadi generasi penerus bangsa dan membawa Kulonprogo lebih maju.

“Terkait dengan persoalan stunting tidak bisa sendiri. Kolaborasi menjadi titik tekan penting karena nasib anak bangsa tergantung bagaimana kita mengusahakannya. Jadi anak-anak yang ada saat ini kita usahakan bagaimana menjadi generasi penerus bangsa, generasi hebat, generasi emas yang akan membawa Kulonprogo semakin jaya dan akan menambah perhatian dunia. Tidak hanya bicara masalah bandara YIA tapi bagaimana kecerdasan dan kekuatan sumber daya manusia Kulonprogo menjadi tepercaya," katanya.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Maya Herawati
Maya Herawati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online