Fakta Janggal Temuan 11 Bayi di Pakem Sleman, KPAI Buka Suara
KPAI soroti kejanggalan temuan 11 bayi di Sleman. Diduga ada praktik perdagangan bayi berkedok adopsi dan penitipan anak.
Early Warning System/Ist-OPI
Harianjogja.com, KULONPROGO—Tahun depan Kabupaten Kulonprogo akan mendapat bantuan Early Warning System (EWS) melalui Proyek Prakarsa Ketangguhan Bencana Indonesia atau Indonesia Disaster Resilience Initiatives Project (IDRIP) yang difasilitasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kulonprogo, Budi Prastawa mengatakan ada enam kalurahan yang mendapat bantuan EWS pada 2024. Keenam kalurahan tersebut masing-masing adalah Bugel, Karangwuni, Glagah, Jangkaran, Karangsewu, dan Banaran.
“Sebenarnya ada 10 kalurahan yang mendapat bantuan EWS. Tetapi karena ada keterbatasan anggaran maka baru diprioritaskan enam kalurahan yang bersentuhan langsung dengan pantai,” kata Budi, Rabu (6/12/2023).
Budi menambahkan sebenarnya kalurahan tersebut telah mendapat bantuan EWS. Hanya saja air laut membuat EWS cepat rusak sehingga tidak dapat digunakan lagi. Hanya EWS milik BMKG di Kalurahan Glagah saja yang berfungsi. “Apalagi kalau ada ombak besar kan ada titik-titik air atau kremun yang kemudian terbawa angin. Sudah ada tujuh EWS yang rusak,” katanya.
Sebelumnya, Mantan Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo, Joko Satyo Agus Nahrowi mengatakan Kulonprogo membutuhkan 25 EWS dengan mengandaikan tiap satu kilometer satu EWS di sepanjang pantai di Kulonprogo.
Pengadaan EWS melalui APBD, kata dia, sulit dilakukan karena harganya yang mahal.
Sementara itu Lurah Glagah, Sigit Pramono mengaku EWS Tsunami beberapa bulan belakangan mengalami kendala. “Dulu setiap tanggal 26 [EWS] bunyi. Nah, ponsel-ponsel pejabat Pemerintah Kalurahan pasti bunyi kalau ada potensi tsunami. Berhubung itu [EWS] error, [notifikasi] ponsel juga error,” kata Sigit.
BACA JUGA: BPBD Sleman Maksimalkan Pengecekan EWS di Musim Hujan
Sigit menambahkan Kalurahan Glagah memiliki garis pantai sepanjang tiga kilometer. Dari garis pantai ke utara atau di dusun-dusun daerah pesisir, Pemkal telah membuat peta evakuasi apabila terjadi tsunami. “Ada tiga titik kumpul apabila terjadi tsunami yaitu di Balai Desa, SDN 3 Glagah, dan Gedung Admin Bandara YIA,” katanya.
Dari tiga titik kumpul tersebut, warga akan diarahkan ke Makam Girigondo, Kaligintung, Temon sebagai zona aman. Evakuasi ini penting untuk dipahami, pasalnya ada sekitar 2.900 kepala keluarga (KK) yang terancam tsunami di Kalurahan Glagah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KPAI soroti kejanggalan temuan 11 bayi di Sleman. Diduga ada praktik perdagangan bayi berkedok adopsi dan penitipan anak.
YouTube akan meluncurkan fitur deteksi wajah AI untuk kreator guna melawan deepfake dan penyalahgunaan konten digital.
Kemendagri dorong aturan larangan perang suku di Papua Pegunungan lewat Raperdasus dan Raperdasi demi menjaga keamanan.
Lonjakan penumpang KAI Daop 4 Semarang capai 220 ribu saat libur panjang Kenaikan Yesus Kristus 2026. Ini rute favoritnya.
Bahasa Inggris akan jadi pelajaran wajib SD mulai 2027. Pemerintah siapkan pelatihan guru dan strategi peningkatan mutu pendidikan.
Leo/Daniel juara Thailand Open 2026 usai kalahkan pasangan India. Kemenangan ini jadi momentum menuju Olimpiade 2028.