Kasus Bayi Dibuang di Semin Terungkap dari Ceceran Darah, Begini Kronologinya
Ibu di Semin Gunungkidul membuang bayi yang baru dilahirkannya karena takut tak mampu menafkahi. Polisi menemukan petunjuk dari ceceran darah.
Ilustrasi angin kencang./JIBI
Harianjogja.com, SLEMAN—Memasuki awal 2024, sejumlah wilayah DIY, termasuk Kabupaten Sleman mulai diguyur hujan deras. Untuk itu, BPBD Sleman mengimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai adanya potensi terjadinya bencana seperti angin kencang dan tanah longsor.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Sleman, Bambang Kuntoro mengatakan setelah sempat menghilang beberapa minggu, hujan kembali turun di awal tahun ini.
Dia mencontohkan, pada Rabu (3/1/2024) siang wilayah Sleman diguyur hujan dengan intesitas sedang. “Untuk kejadian masih dalam pendataan. Nanti, kami informasikan kalau ada peristiwa yang terjadi,” kata Bambang kepada wartawan, Rabu sore.
Mengacu pada kejadian di akhir 2023 lalu, dia meminta kepada masyarakat untuk mewaspadai beberapa potensi bencana alam yang muncul. Sebagai gambaran, lanjut Bambang, mulai akhir November hingga awal Desember mencatat ada empat kejadian angin kencang.
Hal ini pun berdampak terhadap tujuh rumah dilaporkan rusak, 13 pohon tumbang dan adanya kerusakan pada enpat titik jaringan Listrik dan satu instalasi telepon. Total kerugiaan akibat kejadian ini sebesar Rp104,2 juta.
Selain itu, juga ada kejadian tanah longsor di empat titik yang terjadi di akhir tahun dengan kerugian materi Rp126,4 juta. “Ada juga banjir yang sempat menggenani rumah warga. Total dari catatan kami sepanjang akhir 2023, kerugian akibat dampak dari bencana hidrometeorologi sebesar Rp240,6 juta,” katanya.
BACA JUGA: Sempat Hujan Siang Tadi, Begini Prakiraan Cuaca Jogja saat Malam Tahun Baru Nanti
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Makwan mengatakan bencana hidrometeorologi masih menjadi ancaman. Oleh karenanya, ia meminta kepada Masyarakat untuk mewaspadai sehingga dampak dari terjadinya musibah bisa ditekan sekecil mungkin. “Hujan deras dan angin kencang harus diwaspadai. Sebab, bisa menyebabakan longsor maupun pohon atau rumah ambruk,” kata Makwan.
Untuk mengurangi risiko dari ancaman angin kencang, Masyarakat diminta mengecek kondisi rumah. Langkah ini guna memastikan konstruksi kokoh sehingga aman pada saat terjadi angin kencang. “Dahan dan ranting pohon di sekitaran rumah yang sudah rimbun juga bisa dipangkas untuk mengurangi risiko tumbang karena embusan angin kencang,” katanya.
Adapun untuk mengurani risiko banji bisa dilakukan dengan memastikan saluran pembuangan di sekitaran rumah tidak mampet dan lancar. “Jangan sampai ada genangan, jadi, harus dipastikan tidak ada sampah-sampah di saluran pembuangan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ibu di Semin Gunungkidul membuang bayi yang baru dilahirkannya karena takut tak mampu menafkahi. Polisi menemukan petunjuk dari ceceran darah.
Gibran memastikan pembangunan huntap bagi warga terdampak bencana Sumut mulai September 2026 agar mendapat hunian layak dan aman.
Sapi milik warga Panggang, Gunungkidul, ditemukan mati di ladang. Bagian paha hilang dan polisi masih menyelidiki penyebab kematiannya.
Upaya penanganan kemiskinan secara terpadu yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menuai berbagai apresiasi dari berbagai pihak.
Menpora Erick Thohir meminta tim bulu tangkis Indonesia fokus menghadapi Asian Games 2026 dengan target emas beregu putra.
POJK 6/2026 mengatur influencer keuangan agar tidak menjanjikan kepastian keuntungan dan wajib menyampaikan informasi secara jujur.