5 Mahasiswa UGM Dipukuli saat Demo di Simpang Gramedia Jogja, Begini Kondisinya
Lima mahasiswa UGM diduga menjadi korban kekerasan saat aksi demonstrasi di Jogja dan sempat dirawat di RS Panti Rapih.
Guguran awan panas Gunung Merapi di Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Klaten, Minggu (21/1/2024). – ist/X @BPPTKG
Harianjogja.com, SLEMAN—Kejadian Awan Panas Guguran (APG) Gunung Merapi akhir-akhir ini kian intens. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mengungkapkan ada serangkaian penyebab yang membuat kejadian awan panas guguran di Gunung Merapi kian intens.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso menjelaskan suplai magma menjadi salah satu aspek yang menyebabkan makin intensnya aktivitas vulkanik di Merapi. Suplai magma di Gunung Merapi disebutkan Agus bersifat menerus.
Sementara adanya hujan di area puncak memicu keluarnya suplai magma tadi ke permukaan. Dampaknya awan panas selanjutnya terjadi pada beberapa hari terakhir ini.
"Memang kebetulan suplai magma kan menerus di Gunung Merapi ini. Jadi data kegempaan maupun deformasi, kemudian dengan curah hujan yang tinggi itu juga memicu keluarnya suplai magma tersebut ke permukaan. Kemudian membentuk awan panas seperti yang beberapa hari terjadi dalam beberapa hari terakhir ini," kata Agus, Minggu (21/1/2024).
Meski makin intens, Agus belum melihat adanya arah peningkatan status tingkat aktivitas Gunung Merapi. Sejak 5 November 2020, tingkat aktivitas Gunung Merapi ditetapkan pada Level III atau siaga. "Ya masih sesuai dengan kriteria status siaga," ungkapnya.
Jangkauan jarak luncur awan panas menjadi salah satu dasar Agus dalam melihat tingkat aktivitas Merapi. Pasalnya meski sejumlah awan panas guguran terjadi belakangan ini, jarak luncurnya masih berada di kawasan potensi bahaya. Belum merangsek sampai ke permukiman.
"Sepertinya enggak ya [kenaikan status]. Karena jarak luncur dari awan panas yang selama ini terjadi masih di daerah potensi bahaya. Kalau misalnya itu sudah diperkirakan akan melebihi potensi bahaya dan akan berdampak ke permukiman baru kita nanti evaluasi," tandasnya.
Di sisi lain aktivitas vulkanik yang masih tinggi lanjut Agus sudah menjadi perilaku dari Gunung Merapi yang mengalami erupsi selama tiga tahun ini. Aktivitasnya berupa pertumbuhan kubah lava, hingga guguran awan panas sesekali. "Ya [aktivitas Merapi] masih tinggi yang seperti ini tuh memang sudah menjadi perilakunya Merapi," ungkapnya.
BACA JUGA: 7 Kecamatan Terkena Hujan Abu Erupsi Gunung Merapi
Agus melanjutkan kejadian rentetan awan panas guguran semacam ini sudah terjadi beberapa kali di Gunung Merapi. Malahan berdasarkan perhitungannya sudah sembilan kali awan panas terjadi di Gunung Merapi sejak 2021 lalu.
"Yang pertama itu 27 Januari 2021. Itu yang pertama. Kemudian yang sebelum ini 8 Desember kemarin 2023. Totalnya sembilan kali dan ini sudah menjadi kebiasaan Merapi selama tiga tahun ini dan yang penting jarak luncur dari awan panas ini tidak membahayakan penduduk di pemukiman," imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lima mahasiswa UGM diduga menjadi korban kekerasan saat aksi demonstrasi di Jogja dan sempat dirawat di RS Panti Rapih.
Menko Muhaimin Iskandar menegaskan pengentasan kemiskinan perlu ekosistem yang menghubungkan perlindungan sosial dan pemberdayaan.
Monaco mengalahkan PSG 2-1 pada pekan ketiga Liga Prancis. Lyon menang atas Auxerre dan kini menempati posisi kedua klasemen.
Pertamina NRE melirik potensi EBT Sumbar sebesar 10.054 MW untuk mendukung pengembangan energi hijau dan transisi energi.
DPRD Kota Jogja menyoroti penerapan K3 proyek jalan setelah kecelakaan di Bugisan. Kontraktor diminta memperketat keselamatan warga.
Jadwal SIM Keliling Kulonprogo hari ini, Sabtu 5 September 2026, tersedia malam hari melalui layanan SIMENOR..