SPMB Sleman, Jalur Prestasi Jadi Rebutan, Ini Syarat & Cara Daftarnya
SPMB Sleman 2026 dibuka dengan jalur prestasi, domisili, afirmasi, dan mutasi. Ini syarat dan ketentuan lengkapnya.
Pertanian - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul mengaku memproritaskan program pembangunan sumber air daripada cetak sawah baru. Selain karena lahan persawahan tidak berkurang secara signifikan, anggaran pun minim.
Kepala DPP Gunungkidul, Rismiyadi mengatakan pihaknya lebih memilih pembangunan sumber-sumber air daripada cetak sawah baru.
“Kemarin bersama DPUPRKP, kami sudah membangun sumber air yang harapannya bisa mengaliri 40 hektar lahan pertanian di Kalurahan Pacarejo, Semanu,” kata Rismiyadi dihubungi, Sabtu (4/2/2024).
Rismiyadi menambahkan pembuatan sumber-sumber air tersebut juga menjadi upaya meningkatkan indeks pertanaman (IP) baik padi maupun palawija. IP adalah rata-rata masa tanam dan panen dalam satu tahun pada lahan yang sama.
Potensi peningkatan IP di setiap wilayah dapat dilakukan melalui optimalisasi lahan, terutama yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air, iklim, tanah, dan unsur hara secara terpadu serta melalui perbaikan pola tanam, baik padi maupun tanaman pangan lainnya.
“IP 100 itu berarti dalam satu tahun menanam satu kali, IP 200 menanam dua kali, dan IP 300 ya menanam tiga kali,” katanya.
Dalam membangun sumber air termasuk irigasi, DPP hanya berwenang membangun irigasi tersier. Sedangkan irigasi primer dan sekunder dibangun oleh Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat Dan Kawasan Permukiman Kabupaten Gunungkidul (DPUPRKP).
Dia mengatakan luas sawah irigasi di Gunungkidul mencapai sekitar 2.189 hektar seperti di Kalurahan Ponjong dan Karangmojo. Sedangkan sawah tadah hujan ada 5.674 hektar. Menurut dia, luas area persawahan cenderung statis. “Kami memang belum ada program cetak sawah baru. Anggarannya terbatas,” katanya.
BACA JUGA: Ribuan Hektare Lahan Pertanian di Gunungkidul Terancam Gagal Tanam
BACA JUGA: Kapanewon Semin Jadi Lumbung Padi Terbesar di Gunungkidul
Lebih jauh, Rismiyadi juga mengatakan pembangunan lima embung telah selesai. Saat ini embung-embung tersebut sedang dalam proses pengisian. Lima tersebut berada di Kalurahan Katongan, Nglipar; Gari dan Wareng di Kapanewon Wonosari. Dua sisanya dibangun di Kalurahan Kepek, Saptosari, dan Girisekar, Kapanewon Panggang.
Pembangunan embung tersebut merupakan program dari Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian. Nilai pembangunan tiap titik mencapai Rp115 juta.
“Sekarang dalam proses pengisian air hujan. Soalnya di wilayah tanah hujan. Paling tidak satu embung dapat mengairi lahan 5 sampai 10 hektar, buat cadangan saat ketika masuk musim kemarau,” ucapnya.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, mayoritas lahan di Gunungkidul merupakan tadah hujan. Oleh karenanya, saat awal musim penghujan komoditas yang ditanam didominasi padi.
Sebelumnya, Sekretaris DPP Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan tanaman padi menjadi komoditas utama di musim hujan. Pasalnya, mayoritas lahan di Gunungkidul merupakan tadah hujan.
Raharjo menambahkan setelah masa panen pertama, luasan tanam padi akan menyusut untuk musim tanam kedua dan ketiga. Penyusutan tersebut akan diimbangi dengan pemilihan jenis tanaman pangan lain yang akan dikembangkan. Tanaman pangan tersebut seyogianya memiliki karakteristik tidak membutuhkan banyak air seperti jagung dan kedelai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
SPMB Sleman 2026 dibuka dengan jalur prestasi, domisili, afirmasi, dan mutasi. Ini syarat dan ketentuan lengkapnya.
Lima WNI dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 dilaporkan ditahan Israel di perairan Siprus.
Jemaah haji asal Solo menjalani amputasi jempol kaki di Makkah akibat komplikasi diabetes saat ibadah haji 2026.
Harga minyak mentah Indonesia April 2026 melonjak menjadi 117,31 dolar AS per barel akibat konflik Timur Tengah dan Selat Hormuz.
Dewan Pers mendesak pemerintah Indonesia menempuh jalur diplomatik untuk membebaskan tiga jurnalis yang ditahan Israel.
Sri Wagiyati, pedagang asongan stadion di Jogja, menemukan keluarga baru lewat kedekatannya dengan suporter BCS, Brajamusti, dan Slemania.