Perpusda Baru Sleman Masih Menunggu Lampu Hijau Anggaran
Pemkab Sleman masih mengupayakan pembangunan gedung baru Perpusda masuk APBD 2027. Proyek sekitar Rp30 miliar itu menunggu kepastian anggaran.
Pertumbuhan ekonomi - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gunungkidul mencatat inflasi di Bumi Handayani pada Februari 2024 terhadap Februari 2023 sebesar 2,69% (year-on-year/yoy). Inflasi tersebut dapat diketahui melalui perhitungan persentase perubahan indeks harga konsumen (IHK).
Kepala BPS Gunungkidul, Joko Prayitno menerangkan IHK adalah indeks yang mengukur perubahan harga eceran barang dan jasa secara umum yang diwakili sekeranjang barang dan jasa yang memiliki proporsi paling besar dan penting dalam pengeluaran rumah tangga.
“Persentase perubahannya apabila positif akan menimbulkan inflasi. Sedangkan perubahan negatifnya disebut deflasi,” kata Joko dalam konferensi pers di Kantor BPS Gunungkidul, Jumat (1/3/2024).
Penyumbang utama inflasi bulan Februari 2024 secara yoy adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 2,69%. Pada kelompok itu, komoditas utama penyumbang inflasi yaitu beras dengan andil 1,17%, buncis 0,24%, cabai merah 0,21%, dan bawang putih 0,13%.
Selain itu ada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil 0,13%. Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok tersebut adalah emas perhiasan.
Kemudian untuk komoditas penghambat inflasi pertama yaitu bawang merah -0,11%, bensin -0,06%, terong -0,05%.
Sementara capaian inflasi secara bulanan atau (month-to-month/mtm) pada Februari 2024 terhadap Januari 2024 sebesar 0,43%. Joko menjelaskan penyumbang utama inflasi mtm adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,40%. Komoditas penyumbang utama inflasi antara lain beras dengan andil 0,24% dan cabai merah 0,07%.
BACA JUGA: Rekapitulasi Suara Rampung, KPU Jogja Lanjut Susun SK Penetapan Jumlah Kursi Legislatif
“Sedangkan komoditas yang menghambat inflasi pertama bawang merah dengan andil -0,04 persen,” katanya.
Lebih jauh, Joko mengatakan BPS Gunungkidul juga membandingkan angka inflasi di daerah sekitar seperti Wonogiri, Kota Surakarta, dan Kota Jogja. “Paling rendah Kota Jogja, lalu Gunungkidul, Kota Surakarta, dan disusul Wonogiri,” ucapnya.
Disinggung perihal inflasi menjelang ramadhan, kata Joko kecederungan belanja masyarakat meningkat. Harga komoditas seperti bahan pokok lantas naik. Menurut Joko, komoditas yang perlu diantisipasi adalah cabai rawit. Meski sempat turun, harga cabai rawit mulai terjadi pergerakan lagi.
“Itu juga tergantung dari Pemerintah. Misal kalau komoditas sudah tersedia di lapangan bisa juga dikendalikan. Tapi tren musiman [ramadhan] naik,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Sleman masih mengupayakan pembangunan gedung baru Perpusda masuk APBD 2027. Proyek sekitar Rp30 miliar itu menunggu kepastian anggaran.
Jadwal lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo dan sebaliknya berdasarkan data resmi KAI Access.
Jalan Jetis-Karangsemut Bantul ditutup 29-31 Juli 2026 untuk pemasangan box culvert dan pengaspalan. Simak jadwal serta jalur alternatifnya.
Produksi perikanan budidaya Sleman mencapai 29.167 ton dengan nilai Rp810,7 miliar hingga Juni 2026. Pemkab mewaspadai dampak musim kemarau.
Seorang PNS Dinkes Kulonprogo rutin bersepeda ontel ke kantor untuk menjaga kebugaran sekaligus mendukung efisiensi BBM usai harga Pertamax naik.
Pelajari cara membuat gambar dan mengedit foto dengan Gemini AI menggunakan prompt yang tepat agar hasil visual lebih akurat dan menarik.