PSEL Dinilai Mendesak, DPRD Bantul Siap Mengawal Kebutuhan Anggaran
DPRD Bantul siap dukung kebutuhan anggaran sarana PSEL guna atasi bom waktu persampahan. Pengolahan sampah ini diproyeksikan capai 1.000 ton per hari.
Ilustrasi siswa makan siang - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—PGRI DIY mengaku tak setuju dengan penggunaan dana bos yang rencananya akan digunakan untuk program makan siang gratis. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang sekarang dikucurkan dinilai masih belum mencukupi untuk operasional sekolah, apalagi ditambah dengan program makan siang gratis.
Ketua PGRI DIY Kadarmanta Baskara Aji mengatakan pihaknya setuju saja jika program itu digulirkan kepada anak sekolah. Sebab di DIY makan siang gratis sudah dilaksanakan di SLB, sehingga jika diperluas ke jenjang pendidikan lain menurutnya akan membuat anak-anak semakin semangat untuk bersekolah.
"PGRI menyambut baik program makan siang terutama di jenjang SD dan SLB itu saya kira penting, didahulukan kalau misal mau gantian," katanya, Senin (4/3/2024).
Aji menyebutkan yang perlu menjadi perhatian pemerintah adalah soal penggunaan dana. Jangan sampai program makan siang ke depannya menggunakan dana BOS. Sebab, di wilayah setempat dana Bos masih didukung pula dengan program Bosda untuk menambal kekurangan operasional sekolah.
BACA JUGA: Bapanas Mengklaim Harga Beras Turun Jadi Rp14.000 per Kilogram
"Jadi kalau dana apa adanya kemudian dikurangi makan siang maka operasionalnya menjadi lebih kurang lagi, kalau mau diadakan tentu Bos-nya harus ditambah," jelas Aji.
Menurut Aji, dana Bos yang sekarang sifatnya baru bantuan dan belum bisa mencukupi semua operasional sekolah. Di masa dirinya menjabat sebagai kepala dinas pendidikan DIY saja program makan siang gratis untuk murid SLB dananya diambil dari dana Bosda.
"Kalau makan siang gratis diserahkan ke masing-masing sekolah mekanismenya, mau ada tukang masak yang dibiayai atau pesan dari luar yang penting nilai asupan gizinya cukup sesuai dengan yang direncanakan," jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan sumber anggaran untuk memenuhi program makan siang sebesar Rp15.000 per anak tersebut sangat memungkinkan berasal dari dana BOS.
Airlangga mengatakan utamanya untuk anak sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP), sumber dana makan siang gratis dapat masuk ke dalam pos BOS.
“Karena model untuk SD dan SMP kita relatif punya sistem, punya pipeline angggran, salah satunya melalui BOS, secara spesifik itu bisa dibuat,” ungkapnya dikutip dari Bisnis.com.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Bantul siap dukung kebutuhan anggaran sarana PSEL guna atasi bom waktu persampahan. Pengolahan sampah ini diproyeksikan capai 1.000 ton per hari.
Gerakan Tanam Pertanian Modern Pekalongan baru mencapai 32,5 hektare dari target 2.612 hektare hingga 22 September 2026.
Bahlil Lahadalia menawarkan PLTA Mamberamo Papua kepada investor dengan potensi 23 GW. PLTA Sungai Kayan juga ditawarkan.
SAR menemukan satu korban banjir bandang Solok dalam kondisi meninggal. Dua orang dilaporkan hilang dan pencarian terus dilanjutkan.
Dony Oskaria menegaskan manajer KDKMP bukan pegawai BUMN meski ditugaskan 2 tahun di bawah Agrinas Pangan dengan biaya pemerintah.
Bappenas mendorong penanganan karhutla bergeser dari respons ke pencegahan. BNPB telah mengerahkan 43.700 personel dan 55 armada udara.