Identitas 11 Bayi di Pakem Sleman Masih Ditelusuri
Identitas 11 bayi yang ditemukan di Pakem Sleman masih ditelusuri Pemkab Sleman untuk penerbitan dokumen resmi dan asal-usul bayi.
Sarno menunjukkan surat tanda penghargaan Setya Lentjana Wira Dharma dari Menteri Koordinator Keamanan dan Pertahanan RI di rumahnya, Jumat (2/8/2024)./Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Seorang mantan pejuang Dwikora dan Trikora asal Kalurahan Genjahan, Kapanewon Ponjong, Gunungkidul bernama Sarno, 84, mengalami nasib malang. Pasalnya, Sarno yang telah mengajukan pendaftaran sebagai veteran saat ini tinggal di gubuk bekas kandang ayam.
Dia menceritakan ketugasannya pertama kali pada 1960. Kala itu, dia sebagai pasukan militer sukarela ikut dalam upaya penumpasan pemberontakan DI/TII di Jawa Barat.
Dalam menyelesaikan pemberontakan Dl/TII tersebut, Pemerintah RI menempuh dua cara, yaitu operasi militer dan politik. Operasi militer dilakukan dengan membentuk Komando Gerakan Banteng Nasional (GBN). “Tugas kedua saya itu di Sumatra, memberantas PRRI [Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia],” kata Sarno ditemui di rumahnya, Jumat (2/8/2024).
Setelah itu, kata Sarno, dia bertugas di Sulawesi. Di sana, dia ikut menangkap Abdul Kahar Muzakkar, pemimpin gerakan DI/TII di Sulawesi. Tidak hanya itu, dia juga ikut merebut Irian Barat. Setelah itu, Sarno pergi ke Kalimantan antara 1964–1965. Di Kalimantan, dia ikut menjaga perbatasan sebagai tindak lanjut dari Kabinet Dwikora.
Pada 1966–1967, dia ikut memberantas sisa-sisa anggota/simpatisan PKI pasca-G30S PKI. Pada 1968, Sarno diberangkatkan ke Timor-Timur. Ketugasannya sebagai militer sukarela berakhir sekitar 1969. “Setelah itu saya tidak masuk ke ABRI. Ada peraturan kan. Saya masuk dulu itu dalam status Wajib Militer Darurat yang hanya lima tahun. Lima tahun selesai, kalau negera dalam situasi genting, kami diangkatan lalu ditugaskan. Negara aman kami dikembalikan ke kampung. Aturannya begitu,” katanya.
Sarno juga mendapat tanda kehormatan yang diberikan oleh Pemerintah Republik Indonesia bagi warga negara Indonesia yang berturut-turut selama sewindu sejak tanggal 5 Oktober 1945 menjadi anggota Angkatan Perang Republik Indonesia bernama Bintang Sewindu.
Dia mempertanyakan nasibnya yang berbeda dengan rekan pejuang seangkatannya. Rekan pejuang Sarno, menurut pengakuannya mendapat kesempatan masuk pendidikan militer dan mendapat uang pensiun.
BACA JUGA: Soal Sultan HB II Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Begini Respons Warga Jogja
Sarno sebenarnya telah mengurus statusnya sebagai veteran. Dua kali dia mengurus permohonan itu dan tidak ada tindak lanjut. “Saya pulang yang lain dapat pensiun, saya tidak dapat. Mengurus dua kali tidak dapat,” ucapnya.
Ketika dikonfirmasi wartawan, Staf Minvet Gunungkidul, Sunawan mengatakan pihaknya telah menerima dan menindaklanjuti permohonan Sarno untuk mendapat SK Veteran. Hanya, Minvet Gunungkidul mengaku tidak dapat berbuat banyak, karena keputusan pemberian SK bukan pada mereka. "Proses mendapatkan SK Veteran Sarno terganjal dokumen administrasi mengenai pemberangkatan dan pemulangan Sarno ketika perang," ucap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Identitas 11 bayi yang ditemukan di Pakem Sleman masih ditelusuri Pemkab Sleman untuk penerbitan dokumen resmi dan asal-usul bayi.
Lima dosen UPN Jogja disanksi setelah terbukti lakukan pelecehan verbal. Kampus tegaskan komitmen lingkungan bebas kekerasan.
Pemerintah bongkar mafia pangan, dari beras oplosan hingga pupuk palsu. Kerugian rakyat ditaksir puluhan triliun rupiah.
Wapres Gibran dorong digitalisasi sekolah di Papua dan NTT. Fokus pada teknologi pendidikan dan peningkatan skill generasi muda.
SPMB Bantul 2026 resmi ditetapkan. Pendaftaran SMP full online dengan sistem RTO, ini syarat, jalur, dan kuotanya.
Hari Jadi Sleman ke-110 berlangsung meriah. Sri Sultan HB X tekankan refleksi dan pelestarian budaya di tengah modernisasi.