Bayar Rp50.000 Sehari, Ini Alasan Orang Tua Titip Bayi di Bidan Pakem
Polisi mengungkap tarif day care ilegal di Pakem Sleman mencapai Rp50 ribu per hari. Orang tua mengaku menitipkan bayi karena sibuk bekerja.
Gunung Merapi Jogja meluncurkan lava pijar. - Ilustrasi/Antara
Harianjogja.com, SLEMAN—Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat ratusan guguran lava masih terjadi Gunung Merapi di Gunung Merapi dalam sepekan terakhir. Masyarakat diimbau untuk menjauhi daerah potensi bahaya.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso mengungkapkan dalam sepekan terakhir ratusan guguran lava tercatat terjadi di Gunung Merapi. Dalam rentang waktu 27 September-3 Oktober 2024, setidaknya ada 256 kali guguran lava di Gunung Merapi.
"Pada minggu ini guguran lava teramati sebanyak 256 kali ke arah hulu Kali Bebeng sejauh maksimal 1.800 meter," kata Agus, Minggu (6/10/2024).
Selain ratusan guguran lava yang terjadi, beberapa suara guguran juga terdengar hingga pos pemantauan. Suara guguran yang terdengar bervariasi, dari intensitas kecil hingga sedang. "Suara guguran terdengar 17 kali dari Pos Kaliurang dan Pos Babadan dengan intensitas kecil hingga sedang," terang Agus.
Di sisi lain Agus juga menjelaskan jika terjadi perubahan kubah barat daya. Perubahan ini terjadi akibat adanya aktivitas pertumbuhan kubah, guguran lava dan awan panas guguran.
Sementara untuk morfologi kubah tengah Agus menyebut tidak ada perubahan morfologi yang signifikan.
Berdasarkan analisis foto udara pada 21 Agustus 2024, volume kubah barat daya terukur sebesar 2.777.900 meter kubik sedangkan kubah tengah sebesar 2.366.900 meter kubik
Selain itu perihal hujan, sepekan terakhir hujan memang terpantau terjadu dari Pos Pengamatan Gunung Merapi.
Intensitas hujan yang terjadi sebesar 57 mm per jam selama 55 menit di Pos Kaliurang pada tanggal 2 Oktober 2024.
Kendati demikian, Agus menegaskan tidak dilaporkan adanya penambahan aliran maupun lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental dalam kurun waktu sepekan terakhir, aktivitas vulkanik Gunung Merapi disebut Agus masih cukup tinggi berupa erupsi efusif. Status aktivitas Gunung Merapi ditetapkan dalam tingkat siaga.
"Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya," ungkapnya.
Agus menjelaskan bila potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal tujuh kilometer.
Selanjutnya pada sektor tengah potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal tiga kilometer dan Sungai Gendol sejauh maksimal lima kilometer. Lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak.
Mengingat berbagai potensi bahaya yang ada, masyarakat diimbau Agus agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya. "Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polisi mengungkap tarif day care ilegal di Pakem Sleman mencapai Rp50 ribu per hari. Orang tua mengaku menitipkan bayi karena sibuk bekerja.
Pelatih PSIM Yogyakarta Jean-Paul van Gastel menargetkan kemenangan saat menghadapi Madura United di Stadion Sultan Agung Bantul.
Toyota mencatat permintaan Veloz Hybrid menembus 10 ribu unit di tengah kenaikan harga BBM dan meningkatnya minat mobil hemat bahan bakar.
Dua wisatawan asal Karawang ditemukan meninggal tertimbun longsor di jalur menuju Curug Cileat, Subang, Jawa Barat.
Manchester City menjuarai Piala FA 2026 setelah mengalahkan Chelsea 1-0 lewat gol Antoine Semenyo di Stadion Wembley.
Kunjungan wisatawan di Malioboro Jogja meningkat selama long weekend Kenaikan Isa Almasih, terutama pada sore hingga malam hari.