Belanja Pegawai Gunungkidul di Atas Batas, Ini Strategi Dewan
Belanja pegawai Gunungkidul masih sekitar 39%. DPRD meminta Pemkab menggenjot PAD dan berkonsultasi dengan Kemendagri jelang aturan 2027.
Suasana Festival Moderasi Keindonesiaan yang digelar oleh Yayasan Pegiat Pendidikan Indonesia (Pundi) bekerja sama dengan Kementerian Agama RI di Jogja, Minggu (15/12/2024)./Istimewa
Harianjogja.com, JOGJA—Festival Moderasi Keindonesiaan yang digelar oleh Yayasan Pegiat Pendidikan Indonesia (Pundi) bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama Jogja menyoroti peran krusial generasi muda dalam menjaga keberagaman dan kerukunan di Indonesia. Acara yang menghadirkan para ahli dan sejumlah pembicara ini sepakat bahwa moderasi beragama perlu terus digalakkan, terutama di kalangan milenial dan Gen-Z.
Direktur Eksekutif Pundi, Ari Susanto menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai moderasi sejak dini melalui media sosial. “Generasi muda sangat dekat dengan media sosial, sehingga rentan terpapar pemahaman agama yang sempit,” ujarnya, Minggu (15/12/2024).
Dia menyebutkan bahwa bahwa program-program Pundi memang difokuskan pada penyemaian nilai-nilai moderasi di kalangan generasi muda. "Moderasi di kalangan generasi milenial dan Gen-Z perlu digalakkan melalui media sosial karena generasi tersebut adalah generasi yang dekat dengan media sosial sehingga cenderung terpengaruh oleh pemahaman keagamaan yang parsial," kata Ari.
Kepala Kantor Kemenag Kota Jogja, Nadhif juga mengakui bahwa program moderasi belum maksimal menjangkau mahasiswa. Pihaknya mengapresiasi upaya Pundi dalam menggelar Festival Moderasi Keindonesiaan, sehingga upaya untuk mengenalkan moderasi beragama kepada generasi muda bisa terus diperkuat.
"Kami menganggap bahwa Indonesia sekarang menghadapi tantangan radikalisme, diintegrasi dan intoleransi. Padahal Indonesia ini potensi keragamannya luar biasa, kalau ini tidak disikapi dengan baik maka harapan kita terwujudnya kehidupan yang harmonis itu tidak bisa," katanya.
Prof. Dr. Zuly Qodir dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta memberikan pandangan menarik tentang persepsi moderasi di masyarakat. Menurutnya, moderasi bukanlah sikap lemah, melainkan bentuk kecintaan terhadap keberagaman. “Moderasi keindonesiaan adalah mencintai keberagaman,” tegas Zuly.
Sementara itu, Tenaga Ahli Kemenag Sunanto menyoroti pentingnya mengkritisi narasi kebhinekaan yang seringkali dipolitisasi. Ia juga menekankan bahwa hubungan antar manusia harus didasarkan pada saling menghormati keyakinan masing-masing.
Dosen Universitas Ahmad Dahlan, Hatib Rachmawan menekankan pentingnya pendidikan agama yang inklusif. “Pendidikan agama harus disesuaikan dengan tahap perkembangan anak,” kata Hatib. Ia juga mengingatkan bahwa benih-benih pemikiran ekstrem masih tumbuh di sekitar kita, sehingga peran pengajar agama yang inklusif sangat penting.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Belanja pegawai Gunungkidul masih sekitar 39%. DPRD meminta Pemkab menggenjot PAD dan berkonsultasi dengan Kemendagri jelang aturan 2027.
Polresta Jogja menegaskan bahwa seluruh layanan SIM Keliling hanya melayani perpanjangan SIM A dan SIM C yang masih berlaku.
Harga emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian kompak naik pada Rabu 12 Agustus 2026. Emas Antam 1 gram naik menjadi Rp2,819 juta, sementara UBS Rp2,741 juta
Polres Bantul kembali membuka layanan SIM Keliling untuk memfasilitasi masyarakat yang ingin melakukan perpanjangan SIM A dan SIM C.
Perpanjang SIM A dan C di Kulonprogo lebih mudah melalui SIM Keliling. Jadwal lengkap dan lokasi Harian Jogja.
Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Sleman kembali membuka layanan SIM Keliling.