Jalan Tepi Tebing di Semin Gunungkidul Ambrol, 2 Rumah Terancam

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Kamis, 19 Desember 2024 16:17 WIB
Jalan Tepi Tebing di Semin Gunungkidul Ambrol, 2 Rumah Terancam

Tampak beberapa warga sedang gotong royong membangun ambrolan badan jalan di Padukuhan Pugeran, Kalurahan Karangsari, Kapanewon Semin, Gunungkidul, Kamis (19/12/2024)./Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Sebuah jalan kampung di Padukuhan Pugeran, Kalurahan Karangsari, Kapanewon Semin, Gunungkidul ambrol. Akibatnya, jalan ini hanya menyisakan sekitar 2 meter lebar badan jalan untuk dapat dilalui kendaraan roda dua.

Kepala Dukuh Pugeran, Agus Setiawan mengatakan sebagain jalan tersebut ambrol ketika hujan turun siang hingga malam tiga pekan lalu. Badan jalan yang ambrol memiliki panjang 9 meter dengan ketinggian 8 meter.

Agus mengaku Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul telah memberi bantuan stimulan Rp20 juta dalam bentuk material guna membangun badan jalan tersebut. “Memang masih kurang. Kami akhirnya swadaya. Ada donatur juga, ada yang memberi bantuan tenaga, batu, semen, dan pasir,” kata Agus ditemui di lokasi kejadian, Kamis (19/12/2024).

Agus menjelaskan lokasi jalan ambrol tersebut berada di sisi paling timur wilayah Kabupaten Gunungkidul. Sekitar 2 km ke timur merupakan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Dia mengatakan apabila jalan kampung tersebut terputus. Warga tiga padukuhan baik Pugeran, Duren, maupun Purwo harus melewati jalan lain atau memutar melalui Nganjir dan Purwo Wetan. “Struktur jalan ini sudah 40an tahun. Sebelum saya lahir. Batu ini belum pakai semen dulunya. Kalau tidak segera diperbaikan mengancam rumah juga,” katanya.

Ada dua rumah yang berdiri paling dekat dengan titik ambrolan. Jarak masing-masing rumah ke titik ambrolan sekitar 3 meter hingga 6 meter.

Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi BPBD Gunungkidul, Nanang Irawanto mengatakan ambrolnya jalan tersebut diawali dengan ambrolnya tanggul pada Sabtu (23/11/2024). 

Nanang menjelaskan ambrolan dapat terjadi akibat tanggul eksisting telah berumur tua dan ditambah intrusi air dari bagian atas. Air dari drainase meluap dan masuk membebani serta menggerus struktur. “TRC sudah langsung melakukan asesmen H+1 kejadian. BPBD sudah memantau asesmen dua hari setelahnya. BPBD lantas berhitung dan melakukan pemulihan bersama masyarakat. Sekitar tiga kali kami sudah melakukan pemulihan,” kata Nanang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Arief Junianto
Arief Junianto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online