Izin Klinik KDMP Tamanmartani Masih Berproses di Dinkes Sleman
KDMP Tamanmartani masih menunggu izin operasional Klinik Pratama dari Dinkes Sleman usai proses visitasi dan evaluasi lapangan.
Pemeriksaan PMK di tempat penampungan ternak Dagan, Murtigading, Sanden, Rabu (18/5/2022)./Harian Jogja-Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Sebanyak 19 ekor ternak sapi di Kalurahan Pampang, Paliyan dan Giriasih, Purwosari, Gunungkidul mati akibat penyakit mulut dan kuku (PMK).
Lurah Pampang, Saiful Khohar mengatakan ada 15 sapi mati di Kalurahan Pampang akibat PMK. Sapi-sapi tersebut tersebar di lima padukuhan. Di Padukuhan Polaman ada sembilan ekor mati, lalu di Jetis ada satu ekor, kemudian di Kedungdowo Wetan ada dua ekor, Kedungdowo Kulon ada satu ekor, dan Pampang ada satu ekor.
“Baru saja [Senin 30 Desember] ada satu mati di Padukuhan Polaman atas nama Mbah Sudomo,” kata Saiful ditemui di Balai Padukuhan Polaman, Senin (30/12/2024).
BACA JUGA: 15 Kecamatan di Sragen Diserang Penyakit Mulut dan Kuku, Kematian Sapi Melonjak
Sapi mati di Kalurahan Pampang tercatat pertama kali pada Minggu (22/12/2024). Anak sapi yang mati tersebut terjangkit PMK melalui indukannya.
Atas kematian sapi tersebut, Saiful berharap ada ganti rugi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul. “Entah seberapa besar ganti ruginya, ini tabungannya orang tani. Kejadian ini sangat memprihatikan kami,” katanya.
Di lain pihak, Lurah Giriasih, Suwitono mengatakan ada empat sapi mati di Kalurahan Giriasih akibat. Pertama kali sapi mati pada Jumat (20/12). Rinciannya, Padukuhan Wonolagi ada tiga ekor dan Klepu ada satu ekor.
“Kami sudah berkomunikasi dengan Puskeswan juga. Masyarakat juga berupaya secara mandiri berhubungan dengan mantri hewan untuk melakukan pencegahan,” kata Suwitono.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul, Wibawanti Wulandari mengatakan dia belum dapat menyampaikan jumlah total ternak mati akibat PMK di Gunungkidul. DPKH masih mengkompilasi laporan ternak mati.
“Hari ini 30 dan 31 Desember, saya melakukan vaksinasi dengan 375 dosis di Wilayah UPT Puskeswan. Tempatnya tidak dalam satu wilayah, tersebar,” kata Wibawanti.
Wibawanti mengaku 375 dosis vaksin tersebut ditawarkan ke peternak. Pasalnya, tidak semua peternak akan mendapat vaksin sekaligus.
Ihwal kendala vaksinasi, masih ada peternak yang menolak vaksin. “Kalau merebak lagi ini bisa jadi pembelajaran bersama. PMK belum keluar dari Indonesia,” katanya.
Bukan hanya vaksin, DPKH akan memberi disinfektan ke peternak yang masuk dalam lokasi ditemukannya PMK.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KDMP Tamanmartani masih menunggu izin operasional Klinik Pratama dari Dinkes Sleman usai proses visitasi dan evaluasi lapangan.
Pemerintah memangkas anggaran MBG 2026 menjadi Rp268 triliun demi efisiensi program Makan Bergizi Gratis.
DPRD DIY memastikan tidak ada kebijakan pemutusan kerja terhadap tenaga pendidik non-aparatur sipil negara tersebut di Daerah Istimewa Yogyakarta
Prabowo targetkan pembangunan 5.000 desa nelayan lengkap SPBU khusus, cold storage, dan fasilitas es batu hingga 2027.
BNNP DIY mengungkap modus sabu disembunyikan dalam speaker di Bantul. Seorang mahasiswa ditangkap bersama sabu dan tembakau sintetis
HUT ke-18 Harian Jogja, Transformasi dari Perusahaan Media Menuju Perusahaan Komunikasi Diperkuat