Jembatan Tua Kewek Dibongkar Mei, Diganti Struktur Baru
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Lokasi tulisan 'Adili Jokowi' yang kini sudah ditindas cat di pagar kompleks Stadion Mandala Krida, Jogja./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA—Di Kota Jogja beberapa waktu terakhir bermunculan vandalisme bertuliskan ‘Adili Jokowi’. Fenomena ini perlu dilihat sebagai ekspresi publik sebagai bagian dari demokrasi untuk mengkritik rezim.
Direktur LBH Yogyakarta, Julian Duwi Prasetia menjelaskan fenomena tersebut harus ditangkap secara substansi. “Ini bagian dari ekspresi publik, keresahan masyarakat yang itu mungkin mengalami ketidakadilan, menjadi korban kebijakan di rezimnya Jokowi,” ujarnya, Jumat (7/2/2025).
Hal tersebut membuat mereka mengambil tindakan dengan berbagai cara, salah satunya vandalisme. “Mereka mencari keadilan atas proses rezim kepresidenan Jokowi agar dapat dipertanggungjawabkan. Seharusnya bisa ditangkap secara substansi,” katanya.
Fenomena tersebut menjadi catatan bagi pemerintahan hari ini untuk mengevaluasi kebijakan rezim sebelumnya yang tidak berpihak kepada masyarakat, sehingga masyarakat banyak mengalami ketidakadilan. Kebijakan-kebijakan tersebut perlu dievaluasi dan dibenahi.
“Harapannnya tidak bercokol lagi kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat. Segera menjadi evaluasi bagi rezim hari ini, pemerintahan Pak Prabowo. Kita melihat masyarakat bisa mengekspresikan pendapatnya di banyak ruang dan media. haruis ditangkap sebagai pembelajaran dan evaluasi,” ungkapnya.
BACA JUGA: Pelaku Vandalisme Tulisan Adili Jokowi di Jogja Diburu Polisi
Peneliti Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Ajid Fuad Muzaki, mengatakan maraknya vandalisme ‘Adili Jokowi’ mencerminkan keresahan sebagian masyarakat terhadap masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. “Terutama terkait dugaan keterlibatannya dalam pemilu dan pillada 2024. Itu bisa dilihat juga sebagai bentuk protes spontan yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang merasa jalur institusional kurang efektif dalam menyuarakan tuntutan mereka,” katanya.
Tindakan itu menunjukkan bahwa kritik terhadap penguasa masih hidup di ruang publik, meskipun dalam bentuk ekspresi yang dianggap ilegal. Menurutnya, hal tersebut masih merupakan bagian dari proses demokrasi. “Munculnya tuntutan seperti itu seharusnya menjadi sinyal bagi pemerintah untuk lebih transparan dalam menjawab kritik dan dugaan pelanggaran hukum, terutama yang berkaitan dengan etika dan demokrasi. Karena jika aspirasi ini terus diabaikan, protes bisa berkembang ke bentuk yang lebih besar dan terorganisir,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Dua wisatawan asal Karawang ditemukan meninggal tertimbun longsor di jalur menuju Curug Cileat, Subang, Jawa Barat.
Manchester City menjuarai Piala FA 2026 setelah mengalahkan Chelsea 1-0 lewat gol Antoine Semenyo di Stadion Wembley.
Kunjungan wisatawan di Malioboro Jogja meningkat selama long weekend Kenaikan Isa Almasih, terutama pada sore hingga malam hari.
Persija Jakarta menang 3-1 atas Persik Kediri di Stadion Brawijaya lewat dua gol Gustavo Almeida pada pekan ke-33 Super League.
Tabrakan kereta barang dan bus di Bangkok, Thailand, menewaskan delapan orang dan melukai 32 korban di dekat Stasiun Makkasan.