Plataran Senopati Jogja Jadi Foodcourt, Berdayakan Eks Jukir
Plataran Senopati Jogja hadir sebagai foodcourt baru, berdayakan eks jukir dan pedagang terdampak.
Ilustrasi nasi kotak. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA--SMKN 4 Jogja membantah pernyataan yang menyebut sekolah tersebut menolak Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski begitu, SMKN 4 Jogja mengeluhkan kendala dalam penyaluran makanan tersebut.
Sebelumnya pemberitaan mengenai SMKN 4 yang disebut menolak MBG beredar di sosial media. Di sekolah tersebut juga disebut ada temuan ulat pada paket MBG siswa.
Kepala SMKN 4 Jogja, Nurlatifah Hidayati membantah hal tersebut. Menurutnya, pihaknya tidak menolak program pemerintah pusat tersebut.
"Kami tidak keberatan dengan MBG. Karena ini sudah menjadi program pemerintah, memiliki aturan tersendiri dan menjadi sekolah yang ditunjuk, jadi kami ikut saja [mulai program MBG] sejak Februari [2025]," katanya di SMKN 4, Selasa (6/5/2025).
Dia menuturkan selama ini setiap pagi wali kelas mendata jumlah murid yang masuk dan tidak masuk di setiap kelas melalui google form. Kemudian, data jumlah siswa tersebut diserahkan ke penyedia MBG sebagai dasar penyaluran jumlah paket MBG.
Kemudian, ketika penyedia mengirim paket MBG ke sekolah, maka guru dan karyawan bertugas mengawasi proses penyaluran MBG ke tiap siswa. Setelah itu, mereka juga bertugas memastikan seluruh ompreng atau wadah MBG dikembalikan ke penyedia. Dia memperkirakan diperlukan waktu hingga tiga jam per hari untuk mengelola penyaluran MBG di tiap kelas.
Dia mengaku setiap hari alokasi MBG yang diberikan ke sekolah tersebut mencapai 1.258 paket. Jumlah tersebut dialokasikan bagi murid kelas 10 dan 11. Sementara kelas 12 masih menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) sehingga tidak diberikan MBG. Untuk menangani paket MBG tersebut, SMKN 4 pun mengerahkan sekitar 4 orang guru atau karyawan setiap harinya.
BACA JUGA: Program MBG di Kotagede Jogja Mandek, Wali Kota Hasto Wardoyo Segera Lapor ke Pusat
"Kalau tidak ada MBG, kami tidak ada pekerjaan tambahan mengelola MBG, tetapi kami tidak masalah," katanya.
Dia mengaku kendala pendistribusian tersebut sudah disampaikan ke Disdikpora DIY. Pihaknya pun akan menyusun petugas pengelolaan MBG tersebut dari karyawan yang ada.
Selain itu, dia juga mengaku minggu lalu ada satu paket MBG yang ditemukan ada ulat sayur dalam paket makanan tersebut. Dia pun mengaku telah berkoordinasi dengan SPPG Sorosutan terkait temuan tersebut.
"Begitu ada ulat, langsung diganti dengan paket [MBG] dari anak yang tidak masuk [sekolah]," katanya.
Selain itu, menurutnya, beberapa murid juga tidak langsung mengkonsumsi paket MBG tersebut. Hal itu lantaran beberapa siswa memiliki jadwal kegiatan yang berbeda. Hal itu lantaran beberapa siswa masih melakukan pembelajaran teori di kelas, dan beberapa kalin menjalani pembelajaran praktik di ruang praktik.
Karena itu beberapa waktu lalu sempat ada makanan yang basi karena tidak kunjung dikonsumsi siswa. Dia pun mengaku telah menyampaikan ke penyedia MBG untuk memberikan sayur yang dapat tahan lama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Plataran Senopati Jogja hadir sebagai foodcourt baru, berdayakan eks jukir dan pedagang terdampak.
Transformasi ekonomi di DIY dan Jawa Tengah dinilai tidak sepenuhnya menggeser akar budaya lokal.
Jelang Iduladha 2026, Dispertapang Kulonprogo perketat pengawasan hewan kurban. PMK nol kasus, namun ancaman penyakit lain tetap diwaspadai.
PN Tipikor Bengkulu vonis bebas 4 terdakwa kasus korupsi lahan tol. Hakim sebut tidak ada unsur melawan hukum.
Simak jadwal lengkap SPMB SMA/SMK DIY 2026, kuota jalur, hingga tahapan pendaftaran. Pastikan tidak terlewat!
AFC menjatuhkan sanksi dua laga dan denda kepada pemain Qatar U-17 usai melakukan kekerasan terhadap pemain Indonesia.