Ratusan SD di Gunungkidul Kekurangan Murid, Pendaftaran Diperpanjang
Ratusan SD di Gunungkidul kekurangan murid. Disdik beri dispensasi pendaftaran hingga jelang tahun ajaran baru 2026/2027.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kesehatan Gunungkidul mencatat kasus hipertensi meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Hingga akhir Mei 2025 sudah ada 7.466 warga yang mengidap penyakit darah tinggi.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Dinas Kesehatan Gunungkidul, Musiyanto mengatakan, kasus hipertensi di Bumi Handayani ada kenaikan. Kenaikan bisa terlihat sejak 2021 ada sebanyak 6.074 warga yang mengidap penyakit ini.
Setahun berikutnya ada kenaikan signifikan karena tercatat ada 10.155 warga menderita hipertensi. Di 2023, sempat turun dengan jumlah 9.752 kasus, tapi tahun lalu kembali meningkat menembus 11.456 penderita.
“Memang ada kencederungan angka kasus hipertensi di Gunungkidul meningkat di setiap tahunnya,” kata Musiyanto saat dihubungi, Selasa (27/5/2025).
Untuk 2025, juga ada kecenderungan kenaikan kasus. Pasalnya, hingga akhir Mei sudah tercatat ada 7.466 warga mengindap penyakit darah tinggi.
Menurut dia, upaya sosialisasi mencegah penyakit ini juga terus dilakukan dengan menerapkan pola hidup yang sehat. Selain itu, juga terus dilaksanakan pengenalan terhadap Integrasi Layanan Primer di setiap puskesmas sehingga ada deteksi dini terhadap risiko penyakit.
“Dengan semakin banyak temuan, sebenarnya bisa ditangani dengan baik sehingga angka fatalitas bisa ditekan,” katanya.
Disinggung mengenai penyebab tingginya kasus hipertensi di Gunungkidul, ia mengakui ada sejumlah penyebab. Faktor pertama berkaitan dengan gaya hidup di Masyarakat, pola makan, kurangnya aktivitas fisik hingga adanya perilaku merokok di Masyarakat.
“Jangan salah dengan banyaknya jasa pengiriman makanan secara online juga menyumbang bertambahnya kasus hipertensi. Selain itu, hipertensi juga penyakit turunan yang bisa terjadi pada orang tua kea nak,” katanya.
Di sisi lain, tingginya kasus juga disebabkan karena semakin bagusnya angka pencatatan milik pemkab. Adanya Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA), maka pencatat berubah dari cara manual ke aplikasi sehingga pencatatan lebih baik dan berdampak terhadap jumlah kasus.
BACA JUGA: Hipertensi Banyak Menyerang Warga Pedesaan di Gunungkidul
“Pemaikan SIKDA baru mulai di 2024, sebelumnya dicatat secara manual. Aplikasi ini juga tidak hanya dipakai di puskesmas, tapi layanan kesehatan swasta memakai sehingga ikut berpengaruh terhadap bertambahnya kasus hipertensi yang ditemukan,” katanya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Gunungkidul, Sidig Hery Sukoco mengatakan, terus melakukan sosialisasi terhadap pencegahan penyakit di masyarakat. Salah satunya melalui Gerakan Kesehatan Masyarakat (Germas) dengan melibatkan kader-kader Kesehatan di Tingkat kalurahan.
“Penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat [PHBS] serta rutin berolahraga dan makan-makanan bergizi sangat penting dalam upaya menjaga Kesehatan sehingga tidak mudah terserang penyakit,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ratusan SD di Gunungkidul kekurangan murid. Disdik beri dispensasi pendaftaran hingga jelang tahun ajaran baru 2026/2027.
Pemkot Jogja menaikkan kuota afirmasi SPMB SMP 2026 menjadi 25 persen untuk memperluas akses pendidikan bagi siswa KSJPS dan disabilitas.
Kegiatan ini meliputi Medical Check Up (MCU), dan donor darah bekerja sama dengan RSUD R.A.A Purworejo dan PMI Kulon Progo, serta seminar kesehatan bersama dr.
Baterai boros, HP lemot, hingga sering panas menjadi tanda smartphone sudah waktunya diganti demi keamanan dan produktivitas.
Kemunculan ular berbisa copperhead di kamp latihan Jerman membuat Joshua Kimmich dan rekan-rekannya waspada jelang laga Piala Dunia 2026.
Mengusung tema “More Than Ride”, event tahunan ini kembali menjadi ajang silaturahmi terbesar bagi pengguna skutik premium MAXI Yamaha melalui perpaduan aktivi