PSIM Jogja Kejar Striker Asing, Negosiasi Masuk Tahap Krusial
PSIM Jogja masih memburu striker asing untuk Super League 2026/2027. Negosiasi dengan sejumlah pemain berlangsung, sementara lini depan menjadi prioritas utama.
Mantri Pamong Praja Kemantren Kraton, Sumargandi, saat ditemui di Kantor Kemantren Kraton, Senin (2/6/2025). Harian Jogja - Ariq Fajar Hidayat
Harianjogja.com, JOGJA—Kemantren Kraton di Kota Jogja memiliki langkah efektif dalam pengolahan sampah mandiri di tingkat kemantren.
Mantri Pamong Praja Kemantren Kraton, Sumargandi menjelaskan, di wilayahnya terdapat 43 Bank Sampah mandiri yang dikelola masyarakat. Hal ini disebut berhasil mengurangi permasalahan sampah secara signifikan.
Dampak adanya bank sampah membuat volume sampah sudah jauh berkurang. Menurutnya tidak ada lagi titik-titik penumpukan sampah dengan volume besar di Kraton.
“Mungkin titik-titik sampah kecil. Tapi langsung ditangani, langsung kita ambil begitu ketahuan,” kata Sumargandi, Senin (2/6/2025).
Menurutnya, kesadaran masyarakat Kraton dalam mengelola sampah secara mandiri terbilang tinggi. Terdapat salah satu Bank Sampah di kalurahan Panembahan yang mengelola sampah mandiri di rumah milik sendiri, mulai dari pengolahan sampah, sampai benar-benar jadi residu.
Pengelolaan sampah di tingkat kemantren juga turut menggandeng berbagai pihak. Kemantren Kraton membentuk forum olah dan awasi sampah, yang dikoordinasikan dengan berbagai komponen Forkopimtren seperti Polsek, Koramil, hingga penggerobak yang akan mengangkut sampah dari masyarakat ke depo.
Warga diwajibkan membuang sampah melalui penggerobak untuk sisa dari Bank Sampah. Residu sampah dari Bank Sampah akan dibuang ke depo melalui penggerobak.
Saat ini terdapat 40 penggerobak di wilayah Kraton, yang terbagi dalam tiga kalurahan. 15 penggerobak di Kalurahan Panembahan, 12 di Kalurahan Kadipaten , dan terdapat 13 di Kalurahan Patehan.
BACA JUGA: Sri Mulyani Hapus Pemberian Uang Saku ASN Rapat di Luar Kantor
Mengenai target ke depan, Sumargandi berharap lebih optimal dalam pengolahan sampah organik. Ia mengatakan, volume sampah organik di wilayahnya hampir 70 persen, jauh lebih banyak dari sampah anorganik.
“Kalau yang anorganik sudah banyak berkurang. Organiknya ini yang kita masih kewalahan” katanya.
Mengatasi hal tersebut, pihaknya sudah mencoba mengurangi dengan mendatangkan mesin pencacah daun. Ia berharap, mesin ini akan lebih membantu mengatasi pengolahan sampah organik. “Kalau wujudnya daun, pengolahannya akan lama sekali. Tapi kalau sudah dicacah, itu akan lebih cepat,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PSIM Jogja masih memburu striker asing untuk Super League 2026/2027. Negosiasi dengan sejumlah pemain berlangsung, sementara lini depan menjadi prioritas utama.
CEO OpenAI Sam Altman menyebut dunia telah memasuki era singularitas AI. Pernyataan itu memicu perdebatan baru tentang manfaat dan risiko kecerdasan buatan bagi
Satpol PP dan Dishub Bantul menemukan 11 pelanggaran penyelenggaraan parkir. Tiga kendaraan yang parkir di area terlarang depan IGD RSUD Panembahan Senopati jug
Penelitian mengungkap keterikatan emosional terhadap mantan pasangan bisa bertahan lama. Rata-rata seseorang membutuhkan sekitar empat tahun agar perasaan itu b
Piala Dunia 2030 terancam boikot negara-negara Eropa setelah UEFA mengecam rencana FIFA membentuk FIFA Forward Enterprise untuk mengelola hak komersial turnamen
Cuaca ekstrem dan musim bediding meningkatkan risiko penyakit ikan di Sleman. Penyuluh meminta pembudidaya menunda tebar benih gurame hingga September atau Okto