Produksi Ikan Turun Drastis, Nelayan Gunungkidul Pilih Tangkap Benur
Hasil tangkapan ikan di Gunungkidul turun drastis hingga 47% pada 2025. Cuaca ekstrem dan peralihan nelayan ke benur jadi penyebab utama.
Kedelai hitam. - Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul hingga sekarang tercatat ada luasan budi daya kedelai hitam seluas 68 hektare. Komoditas ini dinilai lebih prospektif ketimbang kedelai biasa karena memiliki harga jual yang lebih mahal.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi mengatakan, komoditas kedelai hitam sebenarnya sudah ada lama. Namun, keberadaannya jarang ditanam oleh petani karena memilih komoditas kedelai yang lain atau tanaman pangan lainnya.
“Sebenarnya sudah ada sejak dulu, tapi mulai dibudidayakan lagi sekarang,” kata Rismiyadi saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (7/7/2025).
Dia menjelaskan, tahun ini ada lahan seluas 68 hektare yang ditanam kedelai hitam. Adapun lokasinya tersebar di sejumlah kapanewon seperti Panggang, Semanu, Paliyan hingga Karangmojo. “Sudah dipanen dengan kapasitas produksi mencapai satu ton per hektarenya,” ungkapnya.
Meski produktivitas kalah dengan tanaman pangan lainnya, namun upaya pengembangan budidaya kedelai hitam akan terus dilakukan. Terlebih lagi, dari sisi harga, keberadaanya juga memiliki nilai jual yang tinggi ketimbang jenis kedelai biasa atau berwarna kuning.
Menurut dia, harga kedelai hitam bisa menembus Rp12.000 per kilogram. Sedangkan, untuk kedelai biasa di kisaran Rp9.000an per kilogram.
“Yang terpenting lagi, ini sudah ada koperasi yang menaungi dan siap menampung hasil panen. Setelah itu, akan dikirimkan ke Perusahaan pembuat kecap sehingga petani tidak repot-repot untuk memasarkannya,” kata Rismiyadi.
BACA JUGA: Pekerja Seks Komersial Bermunculan di Sekitar IKN, Ditertibkan Satpol PP
Ia berharap luas tanam kedelai hitam bisa terus ditingkatkan ke kapanewon lainnya. Pihaknya pun siap memberikan pendampingan dalam proses pemeliharaan tanaman melalui penyuluh-penyuluh pertanian yang dimiliki.
“Tentu akan kami berikan pendampingan agar tanaman dapat tumbuh subur sehingga panennya dapat dioptimalkan,” katanya.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono menambahkan, luas tanam kedelai terhitung kecil dibandingkan dengan tanaman pangan lainnya seperti padi, kacang hingga jagung. Menurut dia, banyak petani yang enggan menanam karena pemeliharaan kedelai lebih sulit ketimbang tanaman lainnya.
“Memang ancaman serangan hamanya lebih banyak sehingga perawatan lebih rumit ketimbang tanaman pangan lainnya. Tapi kami tetap berupaya agar luas tanam dapat ditingkatkan di setiap tahunnya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hasil tangkapan ikan di Gunungkidul turun drastis hingga 47% pada 2025. Cuaca ekstrem dan peralihan nelayan ke benur jadi penyebab utama.
Jadwal pemadaman listrik Jogja 16 Mei 2026 di Sleman, Kota Jogja, dan Gunungkidul. Cek lokasi terdampak dan tips antisipasi.
Peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mengaku mendapatkan pelayanan yang sama dengan pasien umum saat menjalani perawatan di Rumah Sakit DKT
Cuaca Jogja Sabtu ini berawan dengan potensi hujan lokal. BMKG ingatkan hujan bisa turun tiba-tiba siang–sore hari.
Jadwal terbaru KRL Jogja-Solo Sabtu 16 Mei 2026 lengkap dari pagi hingga malam. Cek jam keberangkatan favorit, tarif Rp8.000, dan rute lengkap Yogyakarta–Solo.
Jadwal terbaru Prameks Jogja–Kutoarjo 2026 lengkap. Simak jam keberangkatan, tips hindari kehabisan tiket, dan jam sibuk penumpang.