BBGRM Kulonprogo 2026 Tuntas, Swadaya Warga Tembus Rp16,6 Miliar
BBGRM Kulonprogo 2026 berakhir, swadaya warga tembus Rp16,6 miliar. Infrastruktur dan pemberdayaan jadi fokus utama.
Ibu Hamil, Wanita Hamil, Kehamilan - Freepik
Harianjogja.com, KULONPROGO—Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulonprogo mengupayakan agar tidak ada temuan kejadian kematian ibu bersalin di wilayahnya. Pasalnya, sejauh ini masih ditemukan meskipun angkanya sudah sangat minim.
Sekretaris Dinkes Kulonprogo, Susilaningsih menyampaikan 2024 lalu ada dua temuan kematian ibu bersalin. Sedangkan di 2025 ini sudah terdapat satu kejadian kematian ibu bersalin.
BACA JUGA: Anggaran untuk Alun-Alun Wates Hingga Stadion Cangkring Dialihkan untuk Membangun Jembatan dan Jalan
"Memang turun tetapi harapan dari kami Dinkes zero kematian ibu bersalin di Kulonprogo," katanya kepada wartawan, Selasa (19/8/2025).
Ia menjelaskan, faktor kematian ibu bersalin ada dipengaruhi beberapa penyebab. Di antaranya seperti karena terlambat merujuk dan terlambat dalam mendeteksi.
Menurutnya, instansinya akan mengupayakan agar ke depan tidak ada lagi temuan tersebut sehingga zero kematian.
"Tahun 2024 kematian ibu bersalin karena keterlambatan rujukan dan adanya penyakit penyerta," imbuhnya.
Susilaningsih menuturkan sejumlah Puskesmas di Kulonprogo sudah memiliki Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED). Itu dapat menjadi fasilitas kesehatan tingkat pertama yang bisa dimanfaatkan untuk ibu bersalin. Identifikasi awal secara komprehensif menjadi penting untuk menanggulangi kematian saat bersalin.
"Harapannya memang bisa membantu masyarakat mendeteksi kehamilannya normal atau tidak. Ketika dinilai tidak normal bisa diberikan rujukan agar mendapat penanganan yang lebih memadai," tuturnya.
Lantaran memang untuk pelayanan kesehatan memanfaatkan jaminan BPJS Kesehatan harus berjenjang dari tingkat pertama mendapat rujukan.
Selain itu, dia meminta agar ada kesadaran dari masyarakat yang sedang hamil. Susilaningsih mengatakan, ketika ibu hamil memiliki penyakit penyerta harus taat terhadap anjuran dokter agar tidak membahayakan.
"Masyarakat masih ada yang belum mentaati dokter ketika hamil memiliki penyakit penyerta," jelasnya.
Dokter Spesialis Obgyn, Hasto Wardoyo menambahkan angka kematian ibu bersalin di Kulonprogo sudah rendah. Bahkan sudah melampaui di bawah target internasional yang angkanya sampai sekitar 70 kematian di akhir 2030. Menurutnya, edukasi menjadi penting sebagai langkah untuk mencapai zero kematian ibu bersalin.
"Di Kulonprogo mayoritas kelahiran sudah selamat tetapi kualitas bayinya yang harus diperhatikan karena angka stuntingnya cukup dominan," ucapnya. Kualitas anak yang dilahirkan menjadi penting karena berkaitan dengan generasi penerus di masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BBGRM Kulonprogo 2026 berakhir, swadaya warga tembus Rp16,6 miliar. Infrastruktur dan pemberdayaan jadi fokus utama.
Honor dikabarkan menyiapkan HP lipat layar lebar 7,6 inci dengan chipset 2nm Snapdragon 8 Elite Gen 6. Siap meluncur 2027.
Sindikat penipuan online modus asmara dan kripto palsu di Jateng raup Rp41 miliar. Polisi tetapkan 38 tersangka, 133 korban.
Kasus korupsi kredit fiktif di bank BUMN Banjarmasin rugikan negara Rp4,7 miliar. Tiga terdakwa dituntut 4,5 tahun penjara.
DPP Kota Jogja periksa 1.718 hewan kurban jelang Iduladha 2026. Semua dinyatakan sehat dan layak dijual di pasar tiban.
Rektor menekankan pentingnya kolaborasi dan kemampuan bekerja sama dalam menghadapi kompleksitas dunia modern. Keberhasilan lahir dari kerja tim, jejaring.