Cuaca Ekstrem Serang Kolam Gurame Sleman, Tebar Benih Diminta Ditunda
Cuaca ekstrem dan musim bediding meningkatkan risiko penyakit ikan di Sleman. Penyuluh meminta pembudidaya menunda tebar benih gurame hingga September atau Okto
Ilustrasi nasi kotak. - Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman memberikan penjelasan terkait standar operasional prosedur (SOP) konsumsi makanan agar tidak menimbulkan potensi keracunan. Hal ini juga menjelaskan kemungkinan penyebab dugaan keracunan pangan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 3 Berbah.
Pengawas Farmasi dan Makanan Dinkes Sleman, Gunanto, mengatakan SOP konsumsi makanan adalah empat jam setelah makanan selesai dimasak. Informasi yang pihaknya dapat, menu MBG hari Selasa (26/8/2025) selesai dimasak pukul 07.30 WIB. Makanan ini baru dikonsumsi pukul 12.00 WIB.
“Informasi yang kami dapat terkait menu MBG di SMPN 3 Berbah itu setelah selesai dimasak pukul 07.30 WIB, lalu dikirim pukul 09.00 WIB,” kata Gunanto dihubungi, Kamis (28/8/2025).
BACA JUGA: Mayat Bayi Dibungkus Plastik Ditemukan di Maguwoharjo Sleman
Apabila mendasarkan pada penjelasan Gunanto, menu MBG baru dikonsumsi 5,5 jam setelah makanan selesai dimasak. Jeda yang cukup panjang ini diduga memunculkan potensi perubahan kandungan dalam makanan sehingga bersifat racun.
Guna mengawal program MBG, Dinkes ikut terlibat dalam pengawasan. Dinkes saat ini sedang melakukan intensifikasi pelatihan bagi petugas SPPG untuk mengantisipasi kejadian serupa, baik kepada petugas masak, pemilah bahan, hingga petugas cuci.
Hingga sekarang sudah ada sembilan SPPG mendapat pelatihan dari Dinkes Sleman. Ada tiga SPPG juga yang sedang proses pelatihan. Salah satu materi adalah tentang cemaran pangan dan potensi penyakit.
“Hasil Penyelidikan Epidemiologi kami menyatakan ada jeda waktu cukup panjang mulai dari makanan diterima sekolah dengan konsumsi makanan oleh murid,” katanya.
Kepala Dinkes Sleman, Cahya Purnama, mengatakan meski SPPG telah mengecek makanan, guru tetap harus melakukan pengecekan ulang. Ini merupakan protokol penyajian dan distribusi menu MBG. Hal ini dilakukan untuk mencegah dampak kejadian tidak terduga selama proses pengiriman.
Istilah pengecekan ini adalah organoleptik yang menggunakan panca indra. Guru perlu melihat bentuk dan mencium bau makanan, lalu mencicipi dengan lidah agar proses pengecekan berjalan baik. Pengecekan ketat ini seharusnya dapat menghindarkan potensi keracunan pangan pangan.
“Terkait prosedur tetap [protap], informasi yang saya sampaikan sebaiknya perlu ada koordinasi dengan koordinator wilayah SPPG. Soalnya itu protap mereka,” kata Cahya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Cuaca ekstrem dan musim bediding meningkatkan risiko penyakit ikan di Sleman. Penyuluh meminta pembudidaya menunda tebar benih gurame hingga September atau Okto
BPBD DIY memprediksi puncak kekeringan terjadi pada Agustus 2026. Bantul dan Gunungkidul menjadi wilayah paling kritis akibat krisis air bersih.
Dinkes Kota Jogja menargetkan 3.146 anak menerima vaksin HPV pada BIAS 2026. Tahun ini, imunisasi juga menyasar anak laki-laki kelas 5 SD.
DPUPRKP Gunungkidul mencopot bando Selamat Datang Wonosari di Logandeng, Playen karena dinilai membahayakan setelah berusia lebih dari 10 tahun.
Pemprov DIY menetapkan empat kalurahan sebagai percontohan revitalisasi Lumbung Mataraman untuk memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi.
Jadwal KRL Solo-Jogja Jumat 31 Juli 2026 tersedia 12 perjalanan. Tarif tetap Rp8.000 dengan layanan dari Palur hingga Yogyakarta.