Komisi A DPRD Jogja Dorong Seni Jalanan Dikurasi dan Punya Lokasi Khusus
Komisi A DPRD Jogja mendorong seni jalanan dikurasi dan diarahkan ke lokasi khusus agar aktivitas budaya tidak disamakan dengan mengemis.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo saat meninjau pembuatan biopori./ Ist
Harianjogja.com, JOGJA–Persampahan masih menjadi permasalahan di Kota Jogja. Untuk mengatasinya, Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja memanfaatkan belasan hektar lahan milik Pemkot Jogja untuk mengolah sampah organik dengan biopori jumbo.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Jogja, Sukidi menuturkan pihaknya memetakan ada belasan hektar lahan milik Pemkot Jogja yang akan dimanfaatkan dalam program tersebut.
“Pemanfaatan lahannya terutama di ruang terbuka hijau, semua ruang terbuka hijau akan kita optimalkan untuk biopori jumbo,” katanya dalam peluncuran sekolah percontohan aman pangan di SMPN 12, pada Rabu (10/9/2025).
Dia mengaku lahan yang dimiliki Pemkot Jogja terbatas, sehingga biopori jumbo tersebut akan dibangun di seluruh ruang terbuka hijau yang berdiri di lahan milik Pemkot Jogja. Selain itu, menurutnya, masyarakat yang memiliki lahan yang tidak dimanfaatkan juga mendirikan biopori jumbo tersebut.
BACA JUGA: Prakiraan Cuaca DIY Hari Ini, Waspada Hujan Disertai Petir
“Kalau lahan individu nanti kami minta izin dulu. Ini [meminta izin pemanfaatan lahan kosong masyarakat untuk biopori jumbo] telah kami lakukan. Karena memang sampah ini sebenarnya persoalan kita bersama,” imbuhnya.
Dia menyebut biopori jumbo tersebut akan dimanfaatkan warga secara komunal. Nantinya ada sekitar 70 Kartu Keluarga (KK) yang akan memanfaatkan satu biopori jumbo untuk mengolah sampah organiknya. Sampah organik yang diolah tersebut dapat berupa sampah sisa dapur atau sampah daun-daun di jalan.
Biopori jumbo tersebut akan dibangun dengan diameter 80 centimeter (cm) dam kedalaman sekitar 3-4 buis. Dia pun berharap agar biopori jumbo tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengolah sampah organiknya di masing-masing wilayah.
Dari sana, menurutnya sampah organik tersebut akan diolah menjadi pupuk dalam jangka waktu tertentu. Pupuk tersebut akan dimanfaatkan untuk memupuk tanaman milik warga setempat dan sebagian lainnya digunakan untuk memupuk tanaman yang ada di ruas jalan Kota Jogja.
“Konsepnya nanti integrated farming,” imbuhnya.
Sementara sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja, Rajwan Taufiq menyebut produksi sampah harian Kota Jogja mencapai 260 ton. Jumlah tersebut meningkat hingga 300 ton per hari pada musim liburan. Dari jumlah tersebut sekitar 60% diantaranya merupakan sampah organik. Karena itu, Rajwan menilai pengolahan sampah organik merupakan solusi untuk mengurangi volume sampah harian.
“Harapannya ini bisa mengurangi sampah yang ada,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Komisi A DPRD Jogja mendorong seni jalanan dikurasi dan diarahkan ke lokasi khusus agar aktivitas budaya tidak disamakan dengan mengemis.
Thomas Tuchel mengungkap kondisi pemain Man City di Timnas Inggris setelah klub dinyatakan bersalah melanggar aturan finansial Premier League.
Hasil Kualifikasi MotoGP Jepang 2026, Jorge Martin merebut pole setelah mengalahkan Marc Marquez di Q2 MotoGP Motegi.
Ancaman seluler makin tertarget di Asia Pasifik. Kaspersky mencatat 15.163 deteksi di Indonesia pada Q1 2026.
Head to head Indonesia vs Thailand jelang final FIFA ASEAN Cup 2026. Garuda terakhir menang pada 2016 dan tanpa kemenangan dalam 6 laga berikutnya.
Pemerintah membuka registrasi Perlinsos Digital untuk memutakhirkan data calon penerima bansos yang akan digunakan dalam penyaluran bantuan pada 2027. Masyaraka