Hipertensi Gunungkidul Tertinggi di DIY Capai 39,25 Persen
Hipertensi Gunungkidul mencapai 39,25%, tertinggi di DIY. Pemkab memperkuat layanan kesehatan dan penanganan stunting lewat Poskesdes.
Taman Gunungkidul di Perbatasan Gunungkidul dan Bantul, Kapanewon patuk Gunungkidul./ Harian Jogja - Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemerintah Kabupaten Gunungkidul meluncurkan 10 inovasi layanan sosial yang bisa diakses melalui Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) setempat. Program tersebut diharapkan menjadi upaya dalam memperkuat sistem perlindungan sosial dan pelayanan publik yang responsif.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menjelaskan layanan itu menjadi bentuk kepekaan sosial dan empati pemerintah terhadap masyarakat. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara jajaran Dinsos P3A, pendamping sosial, Program Keluarga Harapan (PKH), Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), dan Taruna Siaga Bencana (Tagana) sebagai garda depan pelayanan sosial.
Mbak Endah, sapaan akrabnya, juga mengingatkan agar tim PKH aktif berkoordinasi dengan lurah dan dukuh dalam memutakhirkan data penerima bantuan sosial agar penyalurannya benar-benar tepat sasaran. “Yang sudah mampu, cabut bantuannya. Berikan kepada yang benar-benar membutuhkan,” ujarnya, Senin (20/10/2025).
Adapun 10 inovasi layanan Dinsos P3A Gunungkidul itu mencakup layanan psikologis, perlindungan anak, hingga jaminan kesehatan masyarakat. Masing-masing yakni Layanan Pendampingan Psikologis Perempuan dan Anak; Layanan Konseling Calon Pengantin Anak di Bawah Umur; Layanan Rujukan Masyarakat Miskin dan Kurang Mampu; Layanan Rumah Singgah bagi Orang Terlantar; serta Layanan Konsultasi Masalah Bantuan Sosial.
Selanjutnya ada juga Mekanisme Pendaftaran Bansos Masyarakat; Layanan Jaminan Kesehatan Masyarakat Gunungkidul; Gerakan Bersama Cegah Perkawinan Anak; Bersama Cegah Tindakan Perundungan; dan Integrasi Sistem Data Sosial Digital.
Pelaksana Tugas Kepala Dinsos P3A Gunungkidul, Markus Tri Munarja, menjelaskan inovasi ini bertujuan menghadirkan jaminan sosial yang lebih memadai dan memperkuat sinergi antarpilar sosial. “Kami ingin membangun kekompakan antara pemerintah, relawan sosial, dan mitra kerja. Inovasi ini juga sekaligus sebagai panggilan moral untuk hadir di tengah masyarakat,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hipertensi Gunungkidul mencapai 39,25%, tertinggi di DIY. Pemkab memperkuat layanan kesehatan dan penanganan stunting lewat Poskesdes.
Pemerintah menyiapkan tanda kehormatan HUT ke-81 RI. Sejumlah menteri masuk daftar calon penerima, termasuk individu berprestasi di bidang teknologi.
PLN UID Yogyakarta menargetkan penambahan 26 SPKLU di DIY hingga akhir 2026. Saat ini sudah ada 33 unit yang terbangun.
Kubu Febrie Adriansyah buka suara soal kematian Sutrimo. Keluarga menyebut almarhum telah lama mengidap diabetes.
Lakon Tatu membawa kisah cinta, kesetiaan, dan luka pasca-Perjanjian Giyanti hingga mengantar Sleman meraih Penyaji Terbaik I.
Sensus Ekonomi 2026 BPS DIY dapat membantu pelaku usaha membaca potensi ekonomi, peluang pasar, dan investasi di berbagai wilayah.