Kelok 23 Dibuka, DPRD Minta Pemkab Bantul Kembangkan Destinasi Wisata di Luar Pansela
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul diminta tidak hanya mengandalkan kawasan Pantai Selatan (Pansela) sebagai tujuan wisata,
Sejumlah karya difabel yang ditampilkan dalam ajang perayaan Hari Disabilitas Internasional bertajuk Hanenda Disability Fest pada Jumat (5/12/2025). /Istimewa
Harianjogja.com, JOGJA—Figur publik Paramitha Rusady mengajak publik menghapus stigma sosial terhadap difabel dan memberikan akses yang layak bagi mereka untuk berkembang secara profesional. Ajakan itu disampaikan dalam perayaan Hari Disabilitas Internasional bertajuk Hanenda Disability Fest pada Jumat (5/12/2025).
Difabel memiliki keahlian yang beragam dan perlu diberi ruang tampil sesuai bidang yang mereka tekuni. Paramitha menilai kesetaraan hanya terwujud bila masyarakat berhenti memposisikan difabel sebagai penerima bantuan semata.
Pendampingan difabel bertujuan menciptakan ekosistem inklusif yang menghubungkan pendidikan dengan peluang kerja. Usaha ini diharapkan meningkatkan kapasitas dan kemandirian ekonomi penyandang disabilitas.
Paramitha mengatakan perayaan Disabilitas Internasional yang diperingati pada tanggal 3 Desember setiap tahunnya harus jadi ajang seruan nyata untuk menghapus sekat yang selama ini membatasi peran difabel di masyarakat.
“Meskipun diperingati sekali setahun, tetapi setiap hari kita bisa menjadikan momentum ini untuk merayakan kreativitas mereka. Kita bangga sekali, karena mereka punya karya hebat. Tugas kita bukan mengangkat mereka, tapi berjalan berdampingan menuju Indonesia Emas,” ujarnya.
Ia menekankan, para difabel tidak ingin dijadikan objek amal. Mereka ingin diperlakukan setara dan dihargai berdasarkan kemampuan.
“Mereka punya kelebihan masing-masing, sesuai passion. Ada yang menyanyi seperti, ada yang membatik, ada yang membuat kerajinan. Mereka tidak mau dijadikan objek charity,” katanya.
Paramitha menyebut slogan yang diusung dalam kegiatan ini adalah “Aku dan Kamu Kita Setara”, sebagai simbol kolaborasi setara antara semua pihak. "Yang paling penting adalah semangat dan harapan. Jangan mendiskriminasi. Perlakukan mereka sama seperti kita memperlakukan siapa pun. Karena kita semua berjalan ke tujuan yang sama,” ungkap dia.
Pembina Rumah Vokasi Hanenda, Siti Nurhayati menjelaskan pihaknya fokus pada pendampingan difabel agar punya akses terhadap dunia pendidikan, industri, dan usaha.
“Kami melakukan link and match dari pendidikan ke industri. Kami dampingi adik-adik difabel agar bisa berdaya, berkarya, dan mandiri secara ekonomi,” katanya.
Ia menambahkan tujuan utama pendampingan ini adalah menghapus stigma yang menempatkan difabel sebagai kelompok rentan.
“Harapan kami, teman-teman difabel tidak hanya menjadi objek, tapi subjek yang berdaya, profesional, dan menghasilkan. Mereka setara. Skill mereka nyata, dan itu harus diberi ruang,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul diminta tidak hanya mengandalkan kawasan Pantai Selatan (Pansela) sebagai tujuan wisata,
Simak daftar lengkap jalur Trans Jogja aktif beserta tarif terbaru dan sistem pembayaran nontunai di Yogyakarta.
Jadwal KA Bandara YIA Minggu 27 September 2026 tersedia 24 perjalanan. Cek jadwal YIA-Tugu dan Tugu-YIA serta waktu tempuhnya.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Minggu 27 September 2026 tersedia 10 perjalanan. Cek jadwal dari Jogja dan Kutoarjo selengkapnya.
Jadwal KRL Solo-Jogja Minggu 27 September 2026 dari Palur menuju Jogja/Tugu tersedia mulai pukul 05.00 WIB. Simak jadwal lengkapnya.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 27 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal setiap stasiun dan tarif Rp8.000.