Sapi Madura dan Bali Diburu untuk Kurban, Harga Rp25 Juta Paling Dicar
Permintaan sapi kurban Rp23 juta-Rp25 juta meningkat jelang Iduladha 2026. Peternak Jogja datangkan sapi dari Madura dan Bali.
Ilustrasi sampah organik - Foto dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja akan menjadikan kelurahan sebagai titik kumpul pengangkutan sampah organik kering seiring penerapan larangan pembuangan sampah organik ke depo yang mulai diberlakukan pada Januari 2026.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, kebijakan tersebut disiapkan untuk memudahkan masyarakat dalam mengelola sampah organik kering, seperti daun hasil sapuan jalan serta sampah rumah tangga yang telah dikeringkan.
“[Sampah organik kering] bisa dibawa ke kelurahan setempat, jadi sudah ada meeting point-nya,” kata Hasto, Selasa (30/12/2025).
Ia menjelaskan, setelah sampah organik kering dikumpulkan di kelurahan, penggerobak akan melakukan pemilahan awal. Selanjutnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja akan mengangkut sampah tersebut secara rutin setiap hari.
“Nanti dari DLH akan keliling ke kelurahan setiap hari untuk mengambil sampah organik kering,” ujarnya.
Hasto menegaskan, kelurahan hanya difungsikan sebagai tempat pengumpulan sementara sampah organik kering, bukan sampah basah. Menurutnya, pemilihan jenis sampah ini dilakukan karena sampah organik kering tidak menimbulkan bau dan lebih aman bagi kenyamanan lingkungan kantor kelurahan.
“Yang dikumpulkan di kelurahan itu organik kering, bukan basah. Bisa diwadahi karung, plastik, atau tempat lain, kemudian diambil setiap hari,” tegasnya.
Ia menambahkan, kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis pemilahan sejak sumbernya serta mendukung pengurangan volume sampah yang dibuang ke depo.
Sementara itu, pengelolaan sampah organik basah di tingkat rumah tangga dinilai telah berjalan cukup optimal. Hasto menyebut, selama ini rumah tangga telah memisahkan sampah basah menggunakan ember, kemudian diambil penggerobak untuk diolah secara komunal di wilayah masing-masing.
“Organik basah itu sudah ada manajemennya. Sekarang tinggal menambah satu manajemen lagi, yaitu organik kering,” katanya.
Ia mengungkapkan, sejumlah wilayah bahkan telah mengolah sampah organik basah menggunakan maggot maupun dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Dengan sistem baru ini, Pemkot Jogja berharap pengelolaan sampah semakin tertib dan berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Permintaan sapi kurban Rp23 juta-Rp25 juta meningkat jelang Iduladha 2026. Peternak Jogja datangkan sapi dari Madura dan Bali.
Harga LPG non-subsidi di Kulonprogo naik sekitar Rp10 ribu per tabung, penjualan mulai menurun di sejumlah pangkalan.
Leo/Daniel naik peringkat BWF usai juara Thailand Open 2026, diikuti perubahan ranking atlet bulu tangkis Indonesia lainnya.
Van Gastel soroti laga tanpa penonton di Liga Indonesia, sambil menikmati musim perdana bersama PSIM Jogja.
Perencanaan dana kurban sejak dini membantu meringankan beban finansial dan membuat ibadah Iduladha lebih teratur dan tenang.
PT KAI Daop 4 Semarang tutup 6 perlintasan sebidang tidak dijaga sepanjang 2026. Langkah tegas diambil demi menekan angka kecelakaan di perlintasan sebidang.