DPRD Bantul Ingatkan Pilur 2026 Bebas Politik Uang dan SARA
DPRD Bantul meminta Pilur Serentak 2026 berlangsung sehat tanpa politik uang, kampanye hitam, dan isu SARA. Sejumlah kalurahan masih berproses.
Ilustrasi Hotel- Freepik
Harianjogja.com, BANTUL—Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026 belum mampu mendongkrak tingkat hunian hotel di Kabupaten Bantul. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bantul mencatat okupansi hanya tinggi pada beberapa hari awal liburan sebelum kembali menurun.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bantul mencatat puncak okupansi hotel selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026 terjadi pada periode 23 hingga 27 Desember 2025. Pada rentang waktu tersebut, tingkat hunian hotel berada di kisaran 85 hingga 90 persen.
Namun kondisi tersebut tidak bertahan lama. Mulai 28 hingga 31 Desember 2025, okupansi hotel di Bantul kembali turun hingga sekitar 70 persen dan diperkirakan terus melemah hingga berakhirnya libur Nataru pada 4 Januari 2026.
Ketua PHRI Bantul, Hendra Dwi Utomo, mengatakan tingkat hunian hotel pada Nataru tahun ini menurun dibandingkan periode libur Nataru 2024 lalu.
“Okupansi hotel pada Nataru 2025 ini memang menurun dibandingkan libur Nataru 2024,” ujarnya, Kamis (1/1/2026).
Menurut Hendra, ada sejumlah faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Cuaca ekstrem menjadi salah satu penyebab wisatawan menunda atau membatalkan perjalanan. Selain itu, imbauan pemerintah agar perayaan malam tahun baru tidak dilakukan secara berlebihan turut berdampak pada minat wisatawan untuk menginap.
Ia menilai sebagian wisatawan memilih beralih ke daerah lain yang dinilai lebih longgar dalam perayaan pergantian tahun. Di sisi lain, wisatawan juga cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang.
“Wisatawan sekarang lebih irit dalam pengeluaran. Bukan karena daya beli turun, tapi memang memilih menahan belanja. Apalagi sebentar lagi ada libur panjang Lebaran,” katanya.
Hendra juga menyoroti maraknya hotel, homestay, hingga kos-kosan ilegal yang beroperasi tanpa izin resmi. Akomodasi tersebut menawarkan tarif lebih murah karena tidak membayar pajak, namun tetap menerima tamu.
“Faktor penurunan okupansi ini sangat kompleks. Kadang wisatawan ramai, tapi hotel justru sepi. Fenomena ini terjadi di Bali dan mulai merambah Yogyakarta,” tandasnya.
Sementara itu, kondisi serupa juga dirasakan pelaku usaha penginapan di kawasan Pantai Parangtritis. Salah satu pemilik penginapan, Gandung, menyebut tingkat hunian saat pergantian Tahun Baru 2026 hanya sekitar 50 persen.
“Lebih ramai pergantian tahun 2024 ke 2025 dibandingkan 2025 ke 2026. Sekarang kurang seru,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Bantul meminta Pilur Serentak 2026 berlangsung sehat tanpa politik uang, kampanye hitam, dan isu SARA. Sejumlah kalurahan masih berproses.
Harga buyback emas Antam, Galeri 24, dan UBS di Pegadaian turun pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Cek harga berdasarkan berat emas.
Perempuan muda dan lansia di DIY serta Klaten mengolah kain perca menjadi tenun dan kerajinan bernilai ekonomi di Rumah Kreatif Tukik.
BMKG menetapkan status Siaga tsunami hingga 3 meter setelah gempa M7,7 mengguncang Nagekeo, NTT, Sabtu pagi.
Artis Celine Evangelista hadir dalam gelaran Jogja Fashion Week (JFW) 2026 dengan membagikan pengalaman dalam berbinis busana muslimah syar'i.
Penyalahgunaan narkoba dan psikotropika tidak hanya merusak kondisi fisik, tetapi juga dapat memicu kecanduan berat akibat perubahan sistem dopamin di otak