Hati-hati! Penipuan Booking Hotel di Jogja Kembali Marak
Penipuan reservasi hotel di Jogja kembali marak lewat nomor palsu di Google Maps. PHRI DIY imbau wisatawan lebih waspada.
Foto ilustrasi sampah organik. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Kelurahan Gunungketur, Kemantren Pakualaman, mengoptimalkan pengelolaan sampah organik dengan memanfaatkan ember plastik sebagai wadah penampungan sementara sampah organik basah guna mempermudah warga dan memperkuat sistem pengelolaan sampah di tingkat kelurahan.
Lurah Gunungketur, Sunarni, menjelaskan selama ini warga Gunungketur berlangganan transporter untuk mengangkut sampah rumah tangga. Dalam penerapannya, sampah dipilah mulai dari sampah organik dan anorganik, kemudian dipisahkan kembali antara sampah organik basah dan sampah organik kering.
“Untuk sampah organik basah, transporter akan menampung sementara di kelurahan sebelum diangkut oleh offtaker. Warga kami sudah mulai mengolah sampah organik menggunakan ember plastik. Bantuan ember ini kami peroleh dari program CSR dan sangat membantu pengelolaan sampah organik di wilayah Gunungketur,” katanya, belum lama ini.
Ia menuturkan, pihaknya telah bekerja sama dengan sejumlah pihak untuk memperoleh bantuan ember plastik sebagai sarana pendukung pengolahan sampah organik. Menurutnya, bantuan tersebut sangat bermanfaat dalam membantu warga dan transporter mengelola sampah organik basah secara lebih tertib dan terstruktur.
Sunarni menjelaskan, bantuan ember plastik itu dimanfaatkan oleh transporter wilayah Gunungketur sebagai wadah penampungan sementara sampah organik basah dari masyarakat. Selanjutnya, sampah organik basah yang telah terkumpul akan ditempatkan di depan Kantor Kelurahan Gunungketur untuk kemudian diambil oleh offtaker dan diolah lebih lanjut.
“Dengan mekanisme pengelolaan sampah organik yang jelas ini, warga tidak akan kesulitan membuang sampah organik basah karena sudah tersedia alur pengelolaan yang teratur,” katanya.
Sunarni menambahkan, pengelolaan sampah di Gunungketur dapat berjalan optimal berkat kerja sama berbagai pihak, mulai dari kelurahan, transporter, hingga offtaker.
“Sinergi pengelolaan sampah organik ini merupakan bagian dari komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman bagi seluruh warga,” katanya.
Ia berharap, ke depan pengelolaan sampah organik di Kelurahan Gunungketur dapat terus meningkat seiring dengan bertambahnya partisipasi masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah rumah tangga sejak dari sumbernya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penipuan reservasi hotel di Jogja kembali marak lewat nomor palsu di Google Maps. PHRI DIY imbau wisatawan lebih waspada.
Harga LPG non-subsidi di Kulonprogo naik sekitar Rp10 ribu per tabung, penjualan mulai menurun di sejumlah pangkalan.
Leo/Daniel naik peringkat BWF usai juara Thailand Open 2026, diikuti perubahan ranking atlet bulu tangkis Indonesia lainnya.
Van Gastel soroti laga tanpa penonton di Liga Indonesia, sambil menikmati musim perdana bersama PSIM Jogja.
Perencanaan dana kurban sejak dini membantu meringankan beban finansial dan membuat ibadah Iduladha lebih teratur dan tenang.
PT KAI Daop 4 Semarang tutup 6 perlintasan sebidang tidak dijaga sepanjang 2026. Langkah tegas diambil demi menekan angka kecelakaan di perlintasan sebidang.