ASN Jogja Live Medsos saat Jam Kerja Akan Disanksi, Ini Kata BKPSDM
BKPSDM Kota Jogja mengingatkan ASN yang live media sosial untuk kepentingan pribadi saat jam kerja berpotensi melanggar disiplin dan terkena sanksi.
Foto ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Kota Jogja meningkatkan alokasi anggaran penanganan stunting di tingkat kelurahan pada 2026. Kenaikan anggaran ini diharapkan mampu memperkuat upaya pencegahan sekaligus menurunkan angka stunting di Kota Jogja secara berkelanjutan.
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, mengungkapkan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya anggaran penanganan stunting di setiap kelurahan berada di angka Rp100 juta. Pada 2026, anggaran tersebut dinaikkan menjadi Rp126 juta per kelurahan sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat intervensi stunting.
Hasto menjelaskan, penambahan anggaran tersebut difokuskan untuk memperkuat intervensi gizi pada kelompok berisiko tinggi stunting, mulai dari calon pengantin perempuan, ibu hamil, bayi di bawah dua tahun (baduta), hingga balita. Langkah ini dinilai strategis karena pencegahan sejak fase awal kehidupan menjadi kunci utama menekan angka stunting.
Menurut Hasto, kelompok berisiko tinggi stunting mencakup calon pengantin perempuan dengan kondisi tubuh kurus atau mengalami anemia, ibu hamil yang memiliki masalah gizi, serta anak baduta. Intervensi pada kelompok tersebut dinilai sangat penting untuk mencegah terjadinya stunting sejak dini.
“Anggaran ini kita gunakan untuk membeli makanan bergizi guna mencegah stunting di tingkat kelurahan,” katanya, Selasa (20/1/2026).
Lebih lanjut, Hasto menyampaikan bahwa anggaran penanganan stunting tersebut akan dimanfaatkan untuk penyediaan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berupa makanan dengan kandungan gizi yang memadai bagi kelompok berisiko tinggi stunting di setiap kelurahan. Ia menilai PMT diperlukan agar kebutuhan gizi setiap individu dapat terpenuhi sehingga risiko stunting dapat ditekan.
Selain intervensi gizi, Hasto menekankan bahwa faktor lingkungan juga memiliki pengaruh besar terhadap tingginya risiko stunting. Lingkungan kumuh, sanitasi yang buruk, serta keterbatasan akses air bersih menjadi faktor yang berkontribusi terhadap munculnya kasus stunting.
“Karena itu, perbaikan lingkungan, kebersihan, dan akses air bersih juga bagian dari upaya menurunkan stunting,” ujarnya.
Meski alokasi anggaran penanganan stunting meningkat pada 2026, Hasto menegaskan bahwa penurunan angka stunting di Kota Jogja membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Jogja mendorong partisipasi aktif masyarakat melalui program Bapak Asuh Anak Stunting yang sejalan dengan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) dari pemerintah pusat, dengan harapan upaya kolaboratif tersebut dapat menurunkan angka stunting di Kota Jogja tahun ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BKPSDM Kota Jogja mengingatkan ASN yang live media sosial untuk kepentingan pribadi saat jam kerja berpotensi melanggar disiplin dan terkena sanksi.
AS dan Iran capai kesepakatan awal, Selat Hormuz dibuka kembali. Harga minyak diprediksi turun, negosiasi nuklir berlanjut.
Program MBG dihentikan sementara saat libur sekolah. BGN audit dapur dan siapkan skema baru yang lebih tepat sasaran.
Top Ten News Harian Jogja Selasa 16 Juni 2026, dari kabel semrawut Jogja hingga harga emas naik dan update Piala Dunia.
ESDM alokasikan Rp5,2 triliun untuk jargas 2027, targetkan 959 ribu sambungan rumah guna tekan impor LPG.
MK target putusan gugatan MBG pada Juli 2026. Sidang dipercepat, jumlah ahli dibatasi demi efisiensi waktu persidangan.