Groundbreaking PSEL Jogja Ditarget Juni 2026
Pemerintah pusat targetkan groundbreaking PSEL di Jogja dan empat wilayah lain Juni 2026. DLHK DIY tunggu pemenang lelang sambah jadi energi listrik untuk atasi
Pedagang tengah melayani pembeli di Pasar Bantul, Kamis (29/1/2026). Harga sayuran di Bantul turun drastis akibat panen raya yang membuat stok berlimpah. - Harian Jogja/Yosef Leon
Harianjogja.com, JOGJA—Memasuki pekan kedua Ramadan 2026, harga sejumlah komoditas sayuran di DIY mengalami kenaikan. Faktor cuaca masih menjadi penyebab utama lonjakan harga, meski secara umum ketersediaan bahan pangan di wilayah Bantul dan Gunungkidul dipastikan aman.
Pantauan Tim Pengendali Inflasi Daerah DIY menunjukkan distribusi bahan pokok berjalan lancar, meskipun beberapa harga komoditas berfluktuasi mengikuti kondisi pasokan.
Salah seorang pedagang sayur di Pasar Beringharjo, Ida, mengungkapkan hampir seluruh jenis sayuran mengalami kenaikan cukup signifikan.
“Brokoli dari Rp15.000 sekarang Rp35.000, bunga kol dari Rp15.000 jadi Rp30.000, buncis dari Rp12.000 menjadi Rp20.000, dan labu siam dari Rp5.000 kini Rp12.000,” ujarnya, Jumat (27/2/2026).
Kenaikan juga terjadi pada komoditas lain seperti kentang yang naik dari Rp16.000 menjadi Rp20.000 per kilogram, serta terong dari Rp10.000 menjadi Rp13.000. Sementara itu, harga cabai cenderung fluktuatif. Cabai rawit merah sempat menyentuh Rp70.000 per kilogram dan kini naik menjadi Rp80.000, sedangkan cabai rawit hijau justru turun dari Rp55.000 menjadi Rp40.000.
Menurut Ida, cuaca hujan yang melanda sebagian besar wilayah Jawa sejak akhir 2025 hingga awal 2026 berdampak langsung pada produksi dan pasokan sayuran. “Cuaca sangat berpengaruh. Stok jadi menipis karena hasil panen tidak maksimal,” katanya.
Meski harga naik, Ida memastikan ketersediaan sayuran di pasar masih aman. Bahkan, memasuki pertengahan Ramadan, permintaan justru menurun. “Awal puasa sempat ramai, tapi sekarang drastis turun. Pasar-pasar juga sepi,” ungkapnya.
Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY yang juga tergabung dalam TPID DIY, Tri Saktiyana, menegaskan hasil pemantauan di sejumlah wilayah menunjukkan stok pangan secara umum dalam kondisi aman.
“Bawang merah di Bantul sangat mencukupi dan menjadi salah satu andalan pasokan. Untuk harga daging ayam, cabai, dan bawang merah memang dinamis, itu karakter pasar yang sudah lama terjadi,” jelasnya.
TPID DIY, lanjut Tri, menyiapkan langkah pengendalian berupa operasi pasar menyesuaikan perkembangan harga dan kebutuhan masyarakat. Dukungan juga datang dari Bulog yang memastikan stok beras, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya mencukupi.
Sementara hasil pemantauan di Pasar Semin, Gunungkidul, menunjukkan sejumlah komoditas seperti telur, cabai, gula, dan minyak goreng mulai mengalami kenaikan harga. Kendati demikian, masyarakat diimbau tetap tenang karena pasokan kebutuhan pokok masih aman dan terjaga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemerintah pusat targetkan groundbreaking PSEL di Jogja dan empat wilayah lain Juni 2026. DLHK DIY tunggu pemenang lelang sambah jadi energi listrik untuk atasi
Program beasiswa santri dan pengasuh pondok pesantren tahun 2026 yang digulirkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, membuka peluang dan harapan
Produksi perikanan budi daya Gunungkidul mencapai 7.119 ton hingga Juni 2026. Lele mendominasi dengan produksi lebih dari 6.168 ton.
Utang pemerintah tembus Rp10.293,69 triliun per Juni 2026. Sebagian dividen BUMN akan kembali masuk APBN sebagai cadangan fiskal.
BU Printing & Packaging telah lebih dari 15 tahun menangani produksi buku untuk penulis, penerbit, kampus, sekolah, perusahaan hingga instansi
Harga minyak Brent mendekati US$90 per barel saat peluang pembukaan Selat Hormuz makin diragukan akibat konflik Timur Tengah.