HUT ke-270 Jogja Angkat Kuliner Autentik dan Ekonomi Kreatif
HUT ke-270 Jogja mengusung konsep Autentik Konkret, termasuk lewat kuliner khas untuk mengenalkan identitas Jogja kepada wisatawan.
Warga berebut gunungan yang dibagikan dalam Grebeg Syawal di Masjid Gedhe Kauman pada Jumat (20/3/2026). Kali ini, petugas membagikan gunungan tersebut untuk mengantisipasi kericuhan. -Stefani Yulindriani/Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA–Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat mengeluarkan lima jenis gunungan dalam prosesi Garebeg Syawal yang digelar Jumat (20/3/2026). Gunungan tersebut menjadi simbol sedekah raja kepada rakyat sekaligus wujud rasa syukur atas Idulfitri.
Perwakilan Kraton Jogja, KRT Kusumonegoro, menyampaikan terdapat lima jenis gunungan yang dibagikan, yakni Gunungan Kakung, Gunungan Estri atau Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Dharat, dan Gunungan Pawuhan.
Seluruh gunungan dikeluarkan dari keraton secara berurutan sesuai jenisnya.
“Akan ada dua Gunungan Kakung, masing-masing untuk Masjid Gedhe Kauman dan Pura Pakualaman,” ujarnya pada Jumat (20/3/2026).
Sementara itu, untuk Kompleks Kepatihan dan Ndalem Mangkubumen mendapatkan bagian gunungan berupa pareden wajik. Adapun Gunungan Pawuhan disiapkan khusus untuk dibagikan kepada Abdi Dalem Pengulon.
KRT Kusumonegoro menjelaskan Garebeg merupakan salah satu upacara rutin Keraton Jogja yang digelar untuk memperingati hari besar Islam, seperti Idulfitri, Iduladha, dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Secara etimologis, kata garebeg berasal dari bahasa Jawa yang berarti berjalan bersama-sama di belakang Ngarsa Dalem atau sosok yang dimuliakan.
“Garebeg di Kraton adalah Hajad Dalem, yakni upacara budaya sebagai wujud syukur yang diwujudkan dengan membagikan rezeki kepada masyarakat melalui gunungan,” jelasnya.
Dia menambahkan gunungan melambangkan kemakmuran Kraton yang dibagikan kepada rakyat. Isi gunungan yang berupa hasil bumi menjadi simbol kesejahteraan tanah Mataram.
Rangkaian Garebeg Syawal ditutup dengan prosesi Bedhol Songsong yang digelar pada malam hari di Kagungan Dalem Gedhong Sasana Hinggil Dwi Abad, sisi utara Alun-alun Selatan Jogja. Prosesi ini merupakan simbol berakhirnya seluruh rangkaian Hajad Dalem Garebeg dan Ngabekten.
Sementara itu, Bedhol Songsong secara harfiah berarti mencabut payung sebagai tanda kepulangan para pejabat yang sebelumnya melakukan pisowanan atau menghadap Sultan. Meski tradisi menancapkan payung tidak lagi dilakukan, prosesi penutup tetap dilestarikan melalui pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
HUT ke-270 Jogja mengusung konsep Autentik Konkret, termasuk lewat kuliner khas untuk mengenalkan identitas Jogja kepada wisatawan.
Harga emas Pegadaian hari ini 15 September 2026 untuk Antam, UBS, dan Galeri 24 lengkap dengan harga jual serta buyback.
Macklemore dicoret dari sisa tur Ed Sheeran di AS setelah dukung Palestina. Sejumlah venue disebut menolak konser jika ia tetap tampil.
Harga rumah Yogyakarta mencapai median Rp2 miliar pada Agustus 2026. Harga naik 14,3%, sedangkan listing turun 27,4%.
Joanna Wietrzyk menang HYROX Beijing setelah insiden di tengah lomba. Kenali profil dan prestasi atlet Australia tersebut.
Produksi mobil Indonesia mencapai 859.256 unit hingga Agustus 2026. Toyota menyumbang 353.778 unit atau 41,2 persen.