Antisipasi Macet Dampak Jalan Tol: Sleman Siapkan Trans Sembada, Ini Jalurnya
Trans Sembada Sleman disiapkan untuk mengantisipasi kemacetan akibat perubahan mobilitas setelah jalan tol beroperasi.
Kereta Gantung/Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN— Rencana pembangunan kereta gantung di Kapanewon Prambanan masih dalam tahap pencermatan, terutama terkait status lahan yang akan digunakan. Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Sleman menyebut sebagian area yang direncanakan masuk kategori lahan sawah dilindungi (LSD).
Kepala Dispertaru Sleman, Dona Saputra Ginting, mengatakan pihaknya masih berkoordinasi dengan Kementerian ATR/BPN untuk memastikan validitas data lahan. Proses tersebut dilakukan melalui tahapan pembersihan atau cleansing data lahan baku sawah (LBS).
“Untuk data luasan masih berproses bersama ATR/BPN dalam rangka cleansing data LBS,” ujar Dona, Selasa (28/4/2026).
Menurutnya, pemerintah kabupaten telah mengajukan data LBS yang kemudian diverifikasi oleh pemerintah pusat. Verifikasi ini bertujuan memastikan kesesuaian antara kondisi lapangan dengan basis data nasional.
Sejumlah lahan yang direncanakan untuk proyek ini berada di Kalurahan Bokoharjo dan Sambirejo. Namun, luas pasti lahan sawah dilindungi yang terdampak belum dapat dipastikan hingga proses verifikasi selesai.
Pemerintah Kabupaten Sleman memilih menunggu hasil final sebelum melangkah ke tahap berikutnya, termasuk pengambilan kebijakan pemanfaatan lahan. Hal ini dinilai penting agar tidak terjadi pelanggaran tata ruang.
Lurah Bokoharjo, Dody Heriyanto, membenarkan sebagian tanah kas desa (TKD) di wilayahnya berstatus LSD dan masuk dalam rencana proyek. Namun, ia juga belum mengetahui secara pasti luasannya.
Proyek kereta gantung ini diperkirakan bernilai investasi sekitar Rp200 miliar. Selain memanfaatkan TKD Bokoharjo seluas 7,9 hektare, proyek ini juga akan menggunakan lahan di Sambirejo sekitar 1 hektare.
Dody berharap investasi tersebut mampu mendorong perekonomian warga sekitar. Ia menekankan pentingnya pelibatan masyarakat lokal sebagai tenaga kerja dalam proyek tersebut.
Sementara itu, Lurah Sambirejo, Wahyu Nugroho, mengaku belum mengetahui detail terkait status LSD di wilayahnya. Ia menyebut proses masih berada pada tahap pengajuan berkas dan pembahasan di forum penataan ruang.
Wahyu menilai proyek ini berpotensi meningkatkan daya tarik wisata di kawasan tersebut. Kehadiran kereta gantung diharapkan menjadi pelengkap destinasi yang sudah ada, termasuk kawasan Tebing Breksi.
“Dengan inovasi baru, promosi wisata bisa lebih cepat dan pendapatan warga diharapkan meningkat,” ujarnya.
Meski demikian, kepastian proyek masih bergantung pada hasil validasi status lahan. Proses ini menjadi kunci sebelum proyek kereta gantung dapat direalisasikan secara penuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Trans Sembada Sleman disiapkan untuk mengantisipasi kemacetan akibat perubahan mobilitas setelah jalan tol beroperasi.
Desa Wisata Sasak Ende menghadirkan kehidupan tradisional Sasak lewat rumah adat, Gendang Beleq, Peresean dan aktivitas warga.
Pengacara di Semarang diduga dikeroyok setelah melerai keributan di kafe. Tiga orang dilaporkan dan polisi memastikan kasus masih berjalan.
Ranu Regulo tetap dibuka meski sejumlah titik di Gunung Bromo terbakar. Wisatawan diminta waspada dan tidak menyalakan api.
Pemkab Gunungkidul menyalurkan alat bantu bagi kelompok difabel untuk menunjang aktivitas dan mendorong kemandirian.
Astra Financial dan OJK mengukuhkan 1.000 Duta OJK Peduli di Jogja untuk memperluas literasi keuangan hingga ke masyarakat.