Serangan Monyet Bikin Resah Petani Tanjungsari Gunungkidul
Warga Padukuhan Kelor, Kemadang, Tanjungsari mengeluhkan serangan monyet ekor panjang yang merusak area pertanian yang dimiliki karena bisa gagal panen.
Sebuah pikap melaju di depan pintu masuk Kelok 23 JJLS di Kalurahan Girijati, Purwosari. Foto diambil 6 April 2026./ Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Rencana normalisasi Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) di sisi barat Gunungkidul tahun ini memunculkan harapan baru dari warga. Tak hanya berhenti di sekitar Kelok 23, perbaikan jalur diharapkan bisa berlanjut hingga Simpang Empat Legundi, Kapanewon Panggang, demi meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan.
Lurah Girijati, Purwosari, Karsono menjelaskan, program normalisasi tahap awal akan difokuskan pada ruas depan Kelok 23 hingga pertigaan Nanas di Kalurahan Giriasih sepanjang kurang lebih 600 meter. “Pembebasan lahan sudah dilakukan tahun lalu dan program normalisasi akan dijalankan di 2026,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).
Namun, menurutnya, kondisi JJLS di sisi barat masih jauh dari ideal. Jalan yang sempit, naik-turun, dan dipenuhi tikungan tajam membuat kendaraan besar seperti bus pariwisata belum aman melintas. Karena itu, warga berharap pemerintah tidak hanya berhenti pada satu segmen perbaikan.
“Harapannya normalisasi bisa berlanjut hingga Simpang Empat Legundi. Jalur ini penting karena menjadi penghubung utama, tapi kondisinya belum representatif,” kata Karsono.
Ia juga menambahkan, progres pembangunan JJLS yang berbatasan dengan wilayah Bantul menunjukkan perkembangan positif. Ruas tersebut ditargetkan rampung pada Agustus 2026, sehingga akses di kawasan Kelok 23 nantinya bisa dilalui lebih optimal oleh masyarakat.
Senada, Lurah Girimulyo, Panggang, Sunu Raharjo, menilai adanya ketimpangan kualitas infrastruktur antara sisi timur dan barat JJLS. Menurutnya, jalur sisi timur yang mengarah ke Girisekar sudah lebih lebar dan lurus sehingga lebih aman dilalui kendaraan besar.
Sebaliknya, jalur lama di sisi barat yang menghubungkan Legundi hingga Girijati masih sempit dan berkelok. “Kalau yang sisi timur sudah sangat bagus, tapi sisi barat masih sempit dan banyak tikungan, sehingga berisiko untuk kendaraan besar,” ujarnya.
Sunu mengungkapkan, ruas JJLS dari Purwosari hingga Legundi merupakan jalur yang dibangun lebih awal sejak 2006. Dengan usia yang cukup lama, kondisi jalan tersebut kini dinilai perlu penyesuaian standar agar sejalan dengan pembangunan ruas baru di wilayah lain.
“Sudah ada wacana normalisasi jalur lama. Harapannya bisa segera direalisasikan supaya kualitas JJLS merata dan akses benar-benar lancar,” katanya.
Normalisasi JJLS ini dinilai penting tidak hanya untuk mendukung konektivitas antarwilayah, tetapi juga mendorong sektor pariwisata di kawasan pesisir selatan Gunungkidul. Dengan kondisi jalan yang lebih aman dan representatif, diharapkan mobilitas wisatawan maupun distribusi logistik dapat meningkat signifikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Warga Padukuhan Kelor, Kemadang, Tanjungsari mengeluhkan serangan monyet ekor panjang yang merusak area pertanian yang dimiliki karena bisa gagal panen.
Jetty Muara Sungai Bogowonto di Kulonprogo rusak akibat gelombang tinggi. BBWSSO menyebut kerusakan sekitar 2 persen dan fungsi masih aman.
Ferran Torres dikabarkan pindah dari Barcelona ke PSG dengan nilai transfer 48,5 juta euro. Simak profil dan perjalanan kariernya.
Jadwal KRL Solo-Jogja Jumat 14 Agustus 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur ke Jogja. Tarif Commuter Line tetap Rp8.000.
DPRD Kota Jogja meminta penyaluran bansos beras tak hanya terpaku DTSEN agar warga yang baru jatuh miskin tidak terlewat.
Sekjen Gerindra Sugiono mengumpulkan sekjen parpol KIM di Jakarta untuk memperkuat komunikasi politik dan refleksi pemerintahan Prabowo.