Bus Sekolah Gunungkidul Belum Normal, Ini Penyebabnya
Layanan bus sekolah Gunungkidul belum kembali normal. Kenaikan BBM non-subsidi membuat enam rute belum melayani penjemputan siswa saat pulang.
Ilustrasi leptospirosis./Istimewa
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kesehatan Gunungkidul melaporkan kematian akibat leptospirosis sebanyak tujuh kasus. Masyarakat diminta untuk mewaspadai ancaman penyebaran penyakit yang banyak ditularkan melalui air kencing tikus ini.
Entomolog Kesehatan Ahli Muda, Dinas Kesehatan Gunungkidul, Eko Mujiarto mengatakan, hingga akhir Mei sudah tercatat ada 33 kasus, warga yang dinyatakan positif terjangkit leptospirosis. Dari jumlah ini ada tujuh warga yang meninggal akibat penyakit tersebut.
Adapun penyebarannya, di Kapanewon Nglipar, Semin dan Gedangsari masing-masing ada laporan kematian satu kasus. Sedangkan di Kapanewon Ngawen dan Playen, masing-masing ada laporan dua warga yang meninggal akibat leptospirosis.
“Kalau penyebaran kasus paling banyak ditemukan di Kapanewon Nglipar dengan sepuluh kasus,” kata Eko.
Menurut dia, ada tren kenaikan kasus leptospirosis di tahun ini. Pasalnya, tahun lalu ada temuan sebanyak 30 kasus dengan catatan seorang warga meninggal dunia karena penyakit ini.
“Harus dilakukan pencegahan agar kasus tidak semakin bertambah,” katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono mengatakan, angka fatalitas akibat leptospirosis tahun ini ada peningkatan. Pasalnya, tahun lalu hanya tercatat seorang warga meninggal dunia karena penyakit ini. “Tahun lalu tercatat ada 30 kasus leptospirosis,” katanya.
Menurut Ismono keberadaan penyakit ini harus diwaspadai agar jumlah kasus maupun angka kematian tidak terus bertambah. Secara kasus, penyebaran hampir mirip dengan DBD karena berkaitan dengan kebersihan lingkungan.
“Bedanya kalau leptospirosis banyak disebabkan karena tikus yang air kencingnya mengandung bakteri leptosipirosa,” katanya.
Oleh karena itu, kebersihan lingkungan harus dijaga sehingga tidak menjadi saran berkembang biak tikus. Di sisi lain, Ismono juga mengimbau kepada para petani untuk lebih berhati-hati agar terhindar dari penyakit ini.
Pada saat beraktivitas di sawah, para petani diminta menggunakan alat pelindung diri seperti Sepatu boot dan sarung tangan. “Kalau ada luka di tubuh, setelah beraktivitas segera dicuci dengan sabun agar terhindar dari penyebaran penyakit,” katanya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan, Wanda Abrar, pihaknya berkomitmen untuk mencegah dan menanggulangi penyebaran leptospirosis di Bumi Handayani. Selain terus melaksanakan kampanye gerakan hidup sehat di masyarakat, juga mendorong fasilitas kesehatan di Gunungkidul untuk lebih responsive terhadap diagnose gejala penyakit leptospirosis.
“Kami juga akan mendukung dengan penyediaan alat untuk deteksi dini sehingga angka fatalitas bisa dikendali karena pasien dapat segera tertangani dengan baik,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Layanan bus sekolah Gunungkidul belum kembali normal. Kenaikan BBM non-subsidi membuat enam rute belum melayani penjemputan siswa saat pulang.
Konflik AS dan Iran meluas ke Suriah dan Bahrain. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 11% dalam sepekan di tengah meningkatnya tensi geopolitik.
Radar GCI pertama Indonesia di Banjarbaru mampu mendeteksi objek hingga 515 kilometer dan memperkuat pengawasan ruang udara nasional secara real time.
Ekspor daun cincau kering Jawa Tengah mencapai 403 ton hingga Juni 2026 dan dipasarkan ke Thailand, Malaysia, Tiongkok, serta Kamboja.
Giri Sembung di Kulonprogo akan diperkenalkan sebagai spot paralayang baru di Pulau Jawa melalui Kejurnas Paralayang Cakrawala Nusantara Seri I 2026.
SMPN 4 Pakem menjadi sekolah pertama di Indonesia yang menerapkan program WiSe bersama TMH.id untuk membangun ekosistem kesehatan mental.