Efek Dolar Kuat, Hotel di Jogja Kebanjiran Wisatawan Asing

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Rabu, 03 Juni 2026 16:17 WIB
Efek Dolar Kuat, Hotel di Jogja Kebanjiran Wisatawan Asing

\nWisatawan asing melintas di lereng Gunung Merapi wilayah Kaliadem, Cangkringan, Sleman, setelah terjadi erupsi, Selasa (3/3/2020). /Harian Jogja-Gigih M. Hanafi

Harianjogja.com, JOGJA — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ternyata membawa efek ganda bagi perekonomian. Di satu sisi menekan sejumlah sektor, namun di sisi lain justru menjadi “angin segar” bagi industri pariwisata di Kota Jogja.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jogja mencatat peningkatan signifikan pada kunjungan dan lama tinggal wisatawan mancanegara (wisman) selama April 2026. Kepala BPS Kota Jogja, Joko Prayitno, menyebut kondisi kurs rupiah yang melemah membuat daya beli turis asing meningkat saat berkunjung ke Indonesia.

“Bagi wisatawan asing, biaya selama di sini terasa lebih murah, sehingga mereka cenderung tinggal lebih lama,” ujarnya, Rabu (3/6/2026).

Okupansi Hotel Naik Tajam

Data BPS menunjukkan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Jogja melonjak hingga 14,12 poin pada April dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara hotel nonbintang juga mengalami kenaikan sebesar 4,93 poin.

Tak hanya itu, durasi menginap wisatawan asing juga mengalami peningkatan. Rata-rata lama tinggal (Length of Stay/LoS) wisman di hotel berbintang naik dari 1,77 hari pada Maret menjadi 2,22 hari pada April 2026. Untuk hotel nonbintang, LoS meningkat dari 1,72 hari menjadi 1,82 hari.

Kenaikan ini menjadi indikator kuat bahwa Jogja semakin kompetitif sebagai destinasi internasional, terutama di tengah fluktuasi ekonomi global.

Peluang Besar untuk Pariwisata

Menurut Joko, tren ini harus dimanfaatkan pelaku industri wisata untuk meningkatkan kualitas layanan dan memperkuat daya tarik destinasi. Momentum meningkatnya kunjungan wisman bisa menjadi pendorong pemulihan ekonomi daerah berbasis pariwisata.

Dengan harga yang relatif lebih “murah” bagi turis asing, Jogja memiliki peluang besar untuk menarik lebih banyak kunjungan, terutama dari pasar internasional.

Dampak Samping: Tekanan Inflasi

Namun, di balik kabar positif tersebut, pelemahan rupiah juga membawa konsekuensi terhadap sektor lain. Salah satunya terlihat dari kenaikan inflasi, terutama pada sektor transportasi.

Joko menjelaskan bahwa sejumlah komponen transportasi masih bergantung pada bahan impor. Kenaikan harga dolar berdampak langsung pada biaya operasional, termasuk harga oli hingga bahan bakar.

Selain itu, kenaikan harga avtur turut memicu tambahan biaya (surcharge) pada tiket pesawat. Penyesuaian harga BBM nonsubsidi juga ikut memperbesar tekanan biaya transportasi secara keseluruhan.

Efek Ganda Ekonomi

Fenomena ini menunjukkan bahwa pelemahan rupiah memiliki efek ganda. Sektor pariwisata mendapat keuntungan dari meningkatnya daya beli wisman, sementara sektor lain seperti transportasi harus menanggung beban biaya yang meningkat.

Ke depan, keseimbangan antara peluang dan risiko ini menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi, khususnya di Jogja, tetap terjaga dan berkelanjutan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online