UGM Kerahkan Georadar untuk Ungkap Misteri Api di Seyegan

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Selasa, 09 Juni 2026 08:57 WIB
UGM Kerahkan Georadar untuk Ungkap Misteri Api di Seyegan

Tim Peneliti UGM menggunakan alat georadar untuk untuk mengecek lapisan tanah, objek terpendam maupun retakan di bawah rumah warga pada Senin (8/6/2026). /Harian Jogja-Catur Dwi Janati.

Harianjogja.com, SLEMAN— Penyelidikan fenomena api misterius yang muncul di sebuah rumah warga di Kapanewon Seyegan, Sleman, terus berlanjut. Tim Laboratorium Geofisika Eksplorasi Universitas Gadjah Mada (UGM) kini menerjunkan teknologi georadar untuk memetakan kondisi bawah permukaan tanah dan menelusuri kemungkinan jalur keluarnya gas yang diduga berkaitan dengan kemunculan api tersebut.

Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang berfokus pada deteksi gas, kali ini tim peneliti membawa peralatan geofisika berupa georadar atau geoscanner. Teknologi tersebut digunakan untuk memindai lapisan tanah, mendeteksi objek yang terpendam, hingga mengidentifikasi retakan di bawah permukaan rumah warga yang menjadi lokasi munculnya fenomena api misterius di Seyegan.

Peneliti Laboratorium Geofisika Eksplorasi Departemen Teknik Geologi UGM, Saptono Budi Samodra, menjelaskan kegiatan observasi yang dilakukan merupakan lanjutan dari rangkaian penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.

"Hari ini alat yang kami bawa namanya georadar atau kadang orang menyebutnya geoscanner," terang Saptono saat ditemui di Seyegan, Senin (8/6/2026).

Georadar Mampu Mendeteksi Lapisan Tanah hingga Retakan

Menurut Saptono, georadar bekerja dengan menghasilkan citra kondisi bawah permukaan tanah sehingga memungkinkan peneliti mengetahui berbagai struktur yang tidak terlihat dari permukaan.

"Jadi untuk melihat apa yang ada di bawah permukaan, baik itu objek terpendam, lapisan-lapisan tanah, maupun kalau ada retakan-retakan, itu akan bisa dideteksi dengan alat ini," jelasnya.

Dalam satu perangkat georadar terdapat antena pemancar dan penerima radar, unit pemrosesan data, serta roda penggerak yang berfungsi mengukur jarak area yang telah dipindai.

"Perangkatnya di situ ada antena pemancar dan penerima, kemudian ada processing unit-nya, kemudian ada untuk menggerakkan itu rodanya, sekaligus itu untuk mengatur jaraknya, melihat jaraknya yang sudah di-scan itu berapa," jelasnya.

Saat digunakan, alat tersebut didorong di atas permukaan tanah yang akan diperiksa. Pergerakan roda memicu antena untuk mengirimkan gelombang elektromagnetik ke dalam tanah. Gelombang yang dipantulkan kembali kemudian diterima dan diolah menjadi data bawah permukaan.

"Trigger-nya itu ada di roda belakang. Jadi kalau dia gerak dia akan setiap berapa senti akan mengirim sinyal itu. Jadi karena trigger-nya dari roda belakang maka harus digerakkan. Nanti dipantulkan balik oleh lapisan yang ada di bawah, ditangkap oleh antena ini juga," jelas Saptono.

Prinsip Kerja Mirip Sonar Kapal Selam

Saptono mengungkapkan teknologi georadar memiliki prinsip kerja yang mirip dengan sonar yang digunakan kapal selam. Perbedaannya terletak pada jenis gelombang yang digunakan untuk mendeteksi objek.

"Betul mirip dengan sonar kapal selam, cuma ini pakai radar yang dipancarkan ke dalam. Yang beda hanya gelombangnya. Kalau sonar itu gelombang bunyi, di kisaran frekuensi bunyi, kalau ini kisarannya tinggi, sekitar yang kami punya itu 60 MHz, lebih sensitif," terangnya.

Dalam proses investigasi, tim UGM melakukan pemindaian di berbagai bagian rumah, mulai dari area teras, ruang depan, hingga ruang tengah. Sejumlah titik yang sebelumnya menjadi lokasi kemunculan api juga menjadi fokus pemeriksaan.

"Kebetulan kami tadi sudah diarahkan oleh yang punya rumah, Pak Agus, terkait dengan kejadian-kejadiannya di mana saja. Kemudian berbekal dari letak posisi-posisi kebakaran itu di mana, kami mencoba untuk melakukan scanning," tuturnya.

Ditemukan Indikasi Retakan hingga Kedalaman 20 Meter

Pemindaian dilakukan untuk mengetahui kemungkinan adanya jalur di bawah tanah yang dapat menjadi tempat keluarnya gas dari lapisan tertentu menuju permukaan.

"Apakah ada hal di bawah tanah yang memungkinkan bisa menjadi jalan tempat keluarnya gas, yang mungkin dari dalamnya, yang kemudian itu akan menjadi pemicu kebakaran di permukaan," jelas Saptono.

Pada tahap awal, tim masih berfokus mengumpulkan data dari sejumlah titik yang diduga memiliki keterkaitan dengan lokasi kemunculan api.

"Jadi sementara ini kami baru mengambil data di beberapa tempat yang apa ada hubungannya dengan posisi titik-titik munculnya titik api tadi," tuturnya.

Meski hasil pemindaian masih bersifat awal dan memerlukan pengolahan lebih lanjut, tim peneliti UGM menemukan indikasi adanya retakan di bawah rumah yang diduga berkaitan dengan titik-titik munculnya api.

"Kalau [hasil] sementara ini masih kasar ya, hanya melihat sekilas belum diolah lebih lanjut, itu memang terlihat ada beberapa koneksi atau keterkaitan antara titik api itu dengan terlihat ada retakan di bawah, sampai ke kedalaman mungkin sekitar 15-20 meter," jelasnya.

Data hasil pemindaian georadar tersebut masih akan dianalisis lebih mendalam oleh tim peneliti untuk mengetahui karakteristik retakan yang ditemukan dan kemungkinan hubungannya dengan fenomena api misterius di Seyegan. Kajian lanjutan juga akan menjadi bagian penting dalam upaya mengungkap sumber serta mekanisme kemunculan api yang hingga kini masih menjadi perhatian warga dan peneliti.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online