Deteksi Dini TBC Digencarkan di Piyungan, Baru Temukan 5 Kasus

Yosef Leon
Yosef Leon Selasa, 09 Juni 2026 12:17 WIB
Deteksi Dini TBC Digencarkan di Piyungan, Baru Temukan 5 Kasus

Sejumlah warga saat mengikuti kegiatan skrining TBC yang digelar Puskesmas Piyungan didukung oleh Zero TB Jogja di Balai Kalurahan Srimartani, Selasa (9/6/2026). /Harian Jogja-Yosef Leon.

Harianjogja.com, BANTUL—Program deteksi dini tuberkulosis (TBC) melalui kegiatan Active Case Finding (ACF) terus diperkuat di wilayah Kapanewon Piyungan, Bantul. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat penemuan kasus TBC pada kelompok rentan sekaligus menekan risiko penularan penyakit yang masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat.

Kegiatan penemuan kasus secara aktif tersebut menyasar sekitar 100 warga yang masuk kategori berisiko tinggi, mulai dari kontak erat penderita TBC, penyandang penyakit kronis seperti diabetes melitus dan HIV, hingga balita yang mengalami masalah gizi, termasuk stunting.

Kepala Puskesmas Piyungan, dr. Sigit Hendro, didampingi dr. Kurnia FC, menjelaskan kegiatan ACF menjadi bagian penting dalam strategi pengendalian TBC karena memungkinkan kasus ditemukan lebih awal sebelum menularkan ke lebih banyak orang.

“Ini kegiatan penemuan kasus TBC secara aktif di masyarakat. Harapannya kasus bisa ditemukan sejak awal, kemudian diobati sampai sembuh sehingga tidak menularkan kepada orang lain,” katanya saat kegiatan deteksi dini TBC di Kalurahan Srimartani, Selasa (9/6/2026).

Peserta kegiatan berasal dari tiga kalurahan yang berada di wilayah kerja Puskesmas Piyungan, yakni Kalurahan Sitimulyo, Srimulyo, dan Srimartani. Pelaksanaan program melibatkan Kalurahan Srimartani, Dinas Kesehatan, serta mendapat dukungan dari Zero TB Jogja.

Dalam pelaksanaannya, peserta terlebih dahulu mengikuti pemeriksaan kesehatan dasar melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang meliputi pengukuran tinggi badan, berat badan, dan tekanan darah.

Setelah pemeriksaan dasar selesai, petugas melakukan wawancara untuk mengidentifikasi gejala yang mengarah pada TBC, seperti batuk berkepanjangan, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, hingga munculnya keringat malam.

Tahapan berikutnya adalah pemeriksaan foto toraks atau rontgen dada untuk mendeteksi kemungkinan gangguan pada paru-paru. Jika ditemukan indikasi TBC, pemeriksaan dilanjutkan dengan tes dahak guna memastikan keberadaan bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Menurut Sigit, pasien yang terbukti positif TBC akan segera mendapatkan pengobatan sesuai standar pelayanan kesehatan yang berlaku. Selain itu, petugas kesehatan juga akan melakukan contact tracing terhadap anggota keluarga maupun kontak erat yang tinggal satu rumah dengan pasien.

“TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang penularannya sangat cepat melalui percikan dahak saat penderita batuk. Karena itu, penemuan kasus menjadi sangat penting untuk memutus rantai penularan,” ujarnya.

Ia menambahkan, masyarakat yang mengalami batuk selama lebih dari satu minggu tidak perlu menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat karena kondisi tersebut menjadi salah satu gejala utama yang perlu diwaspadai.

Upaya deteksi aktif ini juga didorong oleh masih rendahnya capaian penemuan kasus TBC di wilayah kerja Puskesmas Piyungan. Dari target penemuan 103 kasus sepanjang 2026, hingga saat ini baru ditemukan lima kasus atau sekitar 4,9 persen dari target yang ditetapkan.

Sementara itu, Kamitwa Kalurahan Srimartani, Jumadi, menyatakan pihaknya mendukung penuh program nasional Indonesia Bebas TBC sekaligus target Jogja Bebas TBC 2030.

Dukungan tersebut diwujudkan melalui penyediaan fasilitas kegiatan, keterlibatan pemerintah kalurahan, hingga pengalokasian dana desa untuk mendukung upaya penemuan kasus TBC di masyarakat.

Menurut Jumadi, Kalurahan Srimartani telah membentuk 23 kader TBC yang tersebar di 23 Posyandu. Para kader bertugas melakukan pemantauan awal terhadap warga yang menunjukkan gejala TBC, termasuk batuk lebih dari satu minggu, sebelum diarahkan menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

“Konsepnya TOSS TBC, yakni Temukan, Obati Sampai Sembuh. Jika kasus tidak ditemukan, penderita bisa terus menularkan ke banyak orang. Karena itu kami melibatkan kader Posyandu untuk ikut aktif dalam pencegahan dan penanganan TBC di masyarakat,” kata Jumadi.

Melalui keterlibatan kader dan penguatan deteksi dini, program penanggulangan TBC di Piyungan diharapkan mampu meningkatkan angka penemuan kasus sehingga pengobatan dapat dilakukan lebih cepat dan risiko penularan di lingkungan masyarakat dapat ditekan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online